RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-2

12 May

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-2

Ustadz Armen Halim Naro

MENUJU CARA BERAGAMA YANG BENAR


[Sambungan Dari Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-1]

Di bawah ini kita jelaskan point – point penting yang terkait dengan penyerahan diri.

B.1. Arti, Pembagian dan Hakikatnya

Penyerahan diri dalam bahasa syariat adalah “Islam”, atau “taslim” atau “istislam”, yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Alloh SWT., serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya. Penyerahan diri terbagi dua bagian, yaitu:

1.      Penyerahan diri kepada hukum agama Alloh SWT., dalam perintah dan larangan, halal dan haram. Disinilah inti pembahasan kita dalam rangka menuju Islam yang benar.

2.      Penyerahan diri terhadap hukum Alloh SWT., yang berlaku di dunia ini, dari qodar baik maupun qodar buruk.

Adapun bagian yang pertama merupakan sikap yang seharusnya diambil oleh seorang muslim. Alloh SWT., bersumpah dengan diri-Nya yang Mulia, bahwa mereka belum sampai pada derajat iman yang hakiki sampai mereka melakukan penyerahan diri total kepada semua hukum Alloh SWT., sebagaimana Alloh SWT., berfirman:

“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [Q.S. An – Nisaa’ (4): 65]

Ayat ini menerangkan tingkatan yang harus dilalui oleh seorang muslim, yaitu:

1.      Menjadikan Rosululloh SAW., sebagai penentu dari semua urusan kehidupan mereka.

2.      Berlapang dada dari semua keputusan yang ditetapkan oleh Rosululloh SAW.

3.      Menyerahkan diri mereka kepada keputusan tersebut, sekiranya tidak ada perlawanan atau kepentingan pribadi yang ditegakkan.

Hakikatnya adalah seorang berserah terhadap semua hukum-Nya yang telah dikabarkan dalam kitab-Nya atau yang disampaikan oleh Rosul-Nya, tunduk dan patuh serta gembira hatinya dengan perintah itu, tidak menghadangnya dengan keinginan, hawa nafsu dan taqlid.

Tidak ada keraguan yang menentang pengabaran-Nya dan tidak ada syahwat yang menentang perintah-Nya. Bahkan ia menganggap bahwa semua hawa hanya prasangka dan keraguan, sedangkan jatuh dari langit lebih ia sukai dari pada ia perturutkan perasaan itu. Umpama air yang segar turun dari langit jatuh ke hamparan hati yang kering kerontang, sehingga membuat hati tersebut menjadi segar, tenang dan bahagia. Sampai suatu saat, ia mencapai pada suatu tingkatan bahwa baginya semua yang dikhabarkan oleh Alloh SWT., dan yang disampaikan oleh Rosululloh bagaikan melihat matahari di siang bolong, tidak akan meragukan dirinya sekalipun semua orang di Timur atau di Barat menyelisihi perintah tersebut. Seperti kepasrahan Abu Bakar RA. Sekalipun semua penduduk bumi mendustakan dan tidak percaya dengan pengkhabaran Nabi, tidak akan mengurangi keyakinannya sedikitpun terhadap sabda Nabi, sekalipun sebesar biji sawi!!

B.2. Penyerahan diri dalam Al – Quran

Alloh SWT., mengabarkan bahwa semua makhluk-Nya tunduk patuh kepada-Nya, secara sukarela maupun terpaksa, Alloh SWT., berfirman:

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Alloh, padahal hanya kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh-lah mereka dikembalikan”. [Q.S. Ali Imron (3): 83]

“Hanya kepada Alloh-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”. [Q.S. Ar – Ro’du (13): 15]

Alloh SWT., mengabarkan bahwa cara beragama yang baik adalah dengan berserah diri.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya Kepada Alloh, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrohim yang lurus?”. [Q.S. An – Nisaa’ (4): 125]

Orang yang berserah diri berarti ia telah mendapat petunjuk.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang – orang yang ta’at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus”. [Q.S. Al – Jin (72): 14]

Alloh SWT., berfirman:

“Kemudian jika mereka mendebatkamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Alloh dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi AI Kitab dan kepada orang-orang yang ummi “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayata-yat Alloh SWT), dan Alloh Maha Melihat akan hamba – hamba-Nya”. [Q.S. Ali Imron (3): 20]

Orang yang menyerah berarti ia telah berpegang dengan ‘urwah wutsqa (tonggak yang kokoh).

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh”. [Q.S.Luqman (31): 22]

Alloh SWT., perintahkan Nabi-Nya Ibrohim untuk berpasrah diri:

“Ketika Robbnya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!”, Ibrohim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Robb semesta alam”. [Q.S. Al – Baqoroh (2): 131]

Dan Alloh SWT., perintahkan semua kaum muslimin untuk berpasrah diri:

“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh SWT.,)”. [Q.S. Al – Hajj (22): 34]

“Dan kembalilah kamu kepada Robbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. [Q.S. Az – Zumar (39):54]

Dan dia merupakan pengajaran semua para Nabi dan Rosul, dengarlah Ibrohim AS., mewasiatkan kepada anak – keturunannya:

“Dan Ibrohim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrohim berkata): ” Hai anak-anakku! Sesungguhnya Alloh telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. [Q.S. Al – Baqoroh (2): 132]

Nabi Nuh AS., diperintahkan oleh Alloh SWT., untuk berserah diri:

“Dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. [Q.S. Yunus (10): 72]

Nabi Yusuf AS., berdo’a dan permohonan Ibrohim AS., dan Isma’il AS:

“…wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”. [Q.S. Yusuf (12): 101]

“Ya Robb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. [Q.S. Al – Baqoroh (2): 128]

B.3. Hari Abu Jandal

Para sahabat telah memberikan contoh yang luar biasa dalam penyerahan diri terhadap hukum dan pengabaran syariat, dan ini yang seharusnya dijadikan teladan bagi orang-orang setelahnya. Bagaimana tidak?! Sedangkan guru mereka adalah Rosululloh SAW., imam dalam penyerahan diri kepada Alloh SWT.

Di bawah ini, penulis sampaikan kejadian Perjanjian Hudaibiah yang menggambarkan betapa besar penyerahan diri mereka kepada syariat ini. Ketika itu bulan Zulqa’dah, Rosululloh telah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersiap-siap berangkat menuju Mekkah, kampung halaman sudah lama mereka tinggalkan semenjak mereka diusir oleh kaum mereka sendiri. Dalam diri setiap orang dari mereka memendam kerinduan yang sangat mendalam dengan Ka’ bah dan sumur zam-zamnya, Shofa dan Marwanya.

Begitulah, mereka berangkat dengan niat umroh, tidak ada sedikitpun terlintas dalam pemikiran mereka dalam keberangkatan tersebut untuk berperang, oleh karenanya mereka hanya membawa sebilah pedang yang terselip di pinggang.

Jumlah mereka lebih kurang 1.500 orang. Setelah lama berjalan, ditempuh berminggu-minggu, sampailah mereka di perbatasan Mekkah, mereka mendirikan kemah di Hudaibiyah. Lalu Rosululloh SAW., mengutus Utsman bin Affan RA., untuk menemui pemuka Quraisy. Selang beberapa hari, tersiar berita bahwa Utsman dibunuh. Lalu Rosululloh mengajak seluruh yang ikut untuk berbaiat demi membela darah Utsman, dikenallah baiat tersebut dengan baiat Ridhwan.

Kemudian terjadilah dialog antara Rosululloh SAW., dengan Quraisy, semula tidak menemukan titik kesepakatan, sampai akhirnya datang ‘Amr bin Suhail. Dalam perjanjian dengan Suhail, kaum muslimin merasa dirugikan. Diantara point perjanjian tersebut ialah (1) bahwa mereka tidak bisa umrah untuk tahun ini – tetapi diperbolehkan tahun depan, (2) siapa yang datang dari Mekkah ke Madinah harus dikembalikan (3) dan yang datang dari Madinah ke Mekkah tidak dikembalikan.

Sebelum perjanjian ditanda tangani, tiba-tiba muncul Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr anak Suhail sendiri sambil berteriak minta pertolongan kepada kaum muslimin agar ia diselamatkan dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, tetapi ayahnya Suhail tidak mau, ia memaksa bahwa anaknya itu masuk dalam perjanjian.

Dalam keadaan seperti itu, badan belum mendapatkan istirahat yang cukup dari kepenatan berjalan jauh, kerinduan yang sudah memuncak terhadap kampung halaman yang hanya berjarak beberapa meter saja, ditambah lagi dengan perjanjian yang menyesakkan dada. Belum sempat mereka menyesuaikan diri mereka dengan keadaan yang sulit tersebut, tiba-tiba Rosululloh memerintahkan mereka untuk mencukur rambut dan menyembelih hadyu (hewan kurban).

Ibnul Qayyim berkata: “Ketika Perjanjian Hudaibiah telah ditanda tangani, Rosululloh bersabda, “Bangkitlah kalian, berkurbanlah dan botakkan rambut kalian!”, maka tidak ada satu orang sahabatpun yang bangkit sampai beliau ulangi perintah itu sampai tiga kali. Lalu beliau masuk ke kemah Ummu Salamah, dan beliau ceritakan yang terjadi.

Ummu Salamah berkata, “Wahai Rosululloh, apakah engkau ingin melakukannya? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapapun, engkau panggil tukang cukurmu untuk mencukurmu”. Lalu beliau keluar dan diam, memanggil tukang cukurnya dan membotak rambut beliau. Ketika mereka melihat beliau melakukan hal itu, mulailah mereka bangkit dan menyembelih sembelihan mereka, dan sesama mereka saling mencukur rambut kawannya, sampai nyaris mereka saling melukai karena marah.”

Setelah kejadian ini, semua para sahabat mengakui kekeliruan mereka, ini Umar salah satu sahabat yang tidak puas dengan perjanjian yang dibuat oleh Rosululloh, pada malam itu beliau beristighfar, sampai karena kesalahan itu beliau banyak berinfak dan bersedekah dan memerdekakan budak. Sahal bin Hunaif berkata: kepada para tabi `in, Setelah mendapatkan pengajaran dari kejadian tersebut;

“Wahai sekalian manusia, celalah akal (pendapat) kalian, sungguh aku melihat diriku pada hari Abu Jandal (yaitu Hudaibiah), sekiranya aku mampu (boleh) menolak perintah Rosululloh, niscaya aku tolak”. [HR. Bukhori]

C. Memiliki Motivasi

Seseorang yang memperoleh hidayah mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang

tinggi, karena yang dicarinya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, tentu yang mencari akhirat lebih lagi.

Perjalanan menuju surga bagaikan perjalanan orang yang menempuh padang pasir, jalannya tidak berujung, perkampungan entah dimana, perbekalan tinggal sedikit. Sekiranya orang yang menempuhnya berjalan lamban dan keinginannya lemah, pengetahuan tentang arah dan jalan rendah dan penghalang perjalanan banyak dan berat, maka disanalah bencana dan kebinasaan, kecuali orang yang dirahmati oleh Alloh SWT., dan tangan-Nya membawanya ke kampung keselamatan.

Ibnul Qayyim berkata: “Lemahnya motivasi dan kemauan disebabkan lemahnya hati. Hati yang baik adalah hati yang berkemauan tinggi, memiliki motivasi dan kecintaan yang kuat. Karena kemauan dan kecintaan berbanding lurus dengan hal yang dicintai dan bergantung dengan hati yang kosong dari penyakit yang menghalanginya dari kemauan. Sebaliknya, lemahnya kemauan dan rendahnya motivasi disebabkan karena kurangnya rasa atau adanya penyakit yang melemahkan penghidupan hati. Lemahnya keinginan tanda lemahnya hati, sebagaimana tingginya kemauan dan kuatnya motivasi pertanda hati tersebut sempuma dan membuat kehidupan lebih baik dan lebih bahagia. Sesungguhnya hidup bahagia hanya diperoleh dengan kemauan yang kuat, cinta yang tulus dan motivasi yang tinggi. Sejauh mana kemauan, sejauh itu kebahagiaan dalam hidup. Dan kehidupan yang paling sengsara adalah orang yang berkemauan rendah dan orang yang memiliki cinta dan keinginan yang hina, kehidupan binatang melata lebih baik dari kehidupannya”.

Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair :

Siangmu -wahai yang tertipu- hanya sia-sia dan kelalaian

Malammu dipenuhi dengan tidur dan suara dengkuran

Bersusah hanya mendatangkan penyesalan Hidup di dunia seperti binatang piaraan

Bahagia dengan fana dan suka dengan khayalan

Tertipu dengan kenikmatan bak mimpi di atas dipan

Dalam berkemauan seseorang harus memiliki 2 kekuatan:

1.      Kekuatan ilmu

2.      Kekuatan amal

Ibnul Qayyim berkata: “Kesempurnaan manusia terdiri dari dua pokok landasan, yaitu mengetahui kebenaran dari kebatilan (yaitu kekuatan ilmu-pen) dan mengutamakan kebenaran dari yang batil (kekuatan amal). Kedudukan manusia di sisi Alloh SWT., baik di dunia maupun di akhirat sesuai kedudukan mereka dalam dua landasan ini. Alloh SWT., memuji para Nabi dan Rosul karena mereka memiliki dua landasan ini”.

Dalam hal ini manusia terbagi kepada 4 golongan, yaitu:

1.      Golongan pertama, yang telah kita sebutkan dan mereka adalah semulia-mulia golongan di sisi makhluk, sebagaimana mereka adalah yang termulia di sisi Alloh SWT.

2.      Golongan kedua, kebalikan dari golongan tersebut, orang yang tidak punya ketajaman dalam agama dan tidak pula mempunyai kekuatan dalam melaksanakan kebenaran. Mereka ini mayoritas manusia, memandang mereka akan menyakitkan mata, membuat demam badan dan menyakitkan hati. Bilangan mereka membuat sempit negeri dan membikin mahal harga serta persahabatan dengan mereka hanya mendatangkan kerugian dan kebinasaan.

3.      Golongan ketiga, mereka yang mempunyai ketajaman dalam kebenaran dan pengetahuan, akan tetapi ia lemah dan tidak mempunyai kekuatan dalam melaksanakan kebenaran dan mengajak orang kepadanya. Inilah keadaan mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat di sisi Alloh SWT., lebih baik dari mukmin yang lemah.

4.      Golongan keempat, mereka yang mempunyai kekuatan dan kemauan serta motivasi, akan tetapi lemah dalam pengetahuan agama, tidak dapat membedakan antara wali Alloh SWT., dengan wali Syaitan. SeringkaIi salah menilai, ia menyangka bahwa setiap yang hitam adalah kurma dan setiap yang kuning mengkilap itu emas dan setiap obat yang berkhasiat itu racun.

Untuk memperoleh predikat imamah (kepemimpinan) dalam agama tidak ada yang pantas kecuali golongan yang pertama, Alloh SWT., berfirman:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. [Q.S. As – Sajdah (32): 24]

Alloh SWT., mengabarkan bahwa dengan sabar dan keyakinan terhadap ayat-ayat Alloh SWT., baru akan diperoleh kepimimpinan dalam agama, mereka itulah yang dikecualikan oleh Alloh SWT., dalam katagori orang-orang yang merugi.

Contoh yang terbaik dalam kemauan yang keras dalam mencari kebenaran adalah Salman Al-Farisi RA., meninggalkan kekayaan dan kebesaran orang tuanya di Persia, dan berpindah dari negeri ke negeri dan dari guru ke guru lain, hingga akhirnya terjual menjadi budak di pasar Madinah. Setelah perjalanan yang sangat panjang tersebut baru bertemu dan beriman dengan Rosululloh, lalu akhirnya kembali lagi ke Persia menjadi gubernur di sana.

D. Sabar dan Yakin

Sekiranya akal dapat diumpamakan dengan sebuah benteng yang kokoh, maka yang perlu diwaspadai adalah serangan syahwat dan syubhat yang tidak saja dapat menguasai benteng tersebut akan tetapi juga dapat menghancurkannya. Maka, palu godam sebagai mesin penghancurnya adalah akal dan hawa nafsu. Yang pertama sumber fitnah adalah syubhat, akibatnya semua berita Alloh SWT., akan ditolaknya, dan yang kedua sumber fitnah itu adalah syahwat, akibatnya semua perintah Alloh SWT., akan ditolaknya. Penangkal syahwat dengan sabar dan penangkal syubhat dengan yakin. Ketika terjadi pertautan antara sabar dan yakin, lahirlah kepemimpinan dalam agama. Alloh SWT., berfirman:

“Dan Kami jadikan dari kalangan mereka itu pemimpin pemimpin dengan perintah Kami karena mereka bersabar, dan mereka telah sangat yakin dengan ayat-ayat Kami “. [Q.S. As – Sajdah (32): 24]

Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan hamba di dunia dan akhirat, ketika dua hal itu telah diperoleh hamba, berarti ia telah menjadi insan kamil. Demi memperoleh kedudukan tersebut berlombalah orang-orang yang shalih, berpacu-pacu para ulama, mereka singsingkan lengan…mereka kencangkan ikat pinggang…mereka jauhkan kasur istirahat.

Ditanyakan kepada sebagian salaf, “sampai kapan tuan berletih seperti ini?” Mereka menjawab, “Istirahatnya yang kami cari”. Syaikhul Islam lbnu Taymiah berkata: “Dengan sabar dan yakin, akan diperoleh kepemimpinan dalam Din”. Alloh SWT., sebutkan orang-orang sebelum kita tergelincir ke jurang kemurkaan disebabkan syubhat dan syahwat. Alloh SWT., berfirman:

“(Keadaan kalian, wahai orang-orang musyrik dan munafiq) seperti orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat dari kalian dan Iebih banyak harta dan anak-anak. Maka, mereka telah menikmati bagian mereka dan kalian telah menikmati bagian kalian pula sebagaimana orang-orang sebelummu menikmati bagiannya dan kalian telah ikut pula berbicara sebagaimana mereka berbicara”. [Q.S. At – Taubah (9): 69]

Yang mereka nikmati adalah kehidupan syahwat, memperturutkan keinginan hawa nafsu dan melanggar perintah, sedangkan yang mereka bicarakan adalah hal-hal syubhat seputar agama mereka, mereka lumuri mulut mereka dengan hal-hal yang memburukkan agama.

Begitulah hari-hari mereka, badan dibinasakan dalam mengikuti hawa nafsu, sedangkan pikiran dibinasakan dengan pemahaman yang salah melenceng dari ajaran kebenaran. Makanya, Alloh SWT., sifati semua manusia dalam keadaan merugi, Alloh SWT., bersumpah dengan masa yang setiap hari dilalui dan dilewati oleh manusia, berpagi dan bersore… melintasi siang dan melewati pagi, bahwa mereka semua merugi kecuali orang yang punya dua penangkal tadi yaitu yakin dan sabar. Alloh SWT., berfirman:

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramaI shaleh, dan sating menasehatilah kalian atas kebenaran dan menasehatilah atas kesabaran”. [Q.S. Al – Ashr (103): 1-3]

Alloh SWT., bersumpah dengan masa yang ia adalah masa untuk berbuat laba atau berbuat rugi, bahwa semuanya dalam merugi, kecuali orang yang telah menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman kepada Alloh SWT., dan melengkapi kekuatan amaliah dengan amal shalih dan ketaatan. Dua pokok itu sebagai landasan kesempurnaan seseorang, sedangkan limpahan kesempurnaannya adalah wasiat dan nasehat dengan keduanya dan agar selalu menggunakan senjata kesabaran dalam rangka menegakkannya. Oleh karenanya Imam Syafi`i berkata:

“Sekiranya manusia memikirkan ayat ini, tentu akan mencukupkan mereka”.

Akan tetapi, tidak akan mungkin bagi seorang hamba bersabar, sekiranya ia tidak memiliki sesuatu yang membuatnya tenang dan menjadikannya bahagia, kalaulah bukan datang dari sebuah keyakinan, karena yakin itu sebagai makanan ruh dan jiwanya. Alloh SWT., mensifati para Nabi-Nya dengan dua sifat tersebut dalam firma-nNya:

“Hamba-hamba Kami Ibrohim, Ishaq dan Ya’qub, yang memiliki kekuatan dan pandangan”. [QS. Shad:45]

“Al ‘Aidi” yaitu kekuatan dan kemauan dalam zat Alloh SWT., sedangkan “Al Abshar” yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Alloh SWT., ungkapan salaf dalam dua kata ini berkisar seputar itu.

lbnu Abbas berkata: “Ulil ‘Aidi” yaitu punya kekuatan dan ibadah dan “Al Absor” yaitu pemahaman tentang agama”.

Al-Kalbi berkata: “Punya kekuatan dalam ibadah dan punya kedalaman ilmu dalamnya”.

Mujahid berkata: “Punya kekuatan dalam melakukan ketaatan, dan punya pandangan tajam”.

Said bin Jubair berkata: “Kekuatan dalam beramal dan memiliki pandangan tajam tentang keadaan beragama mereka”

Alloh SWT., juga memuji para sahabat Musa AS., yang mempunyai dua sifat tersebut, sebagaimana firman Alloh SWT., dalam Q.S. As – Sajdah: 24.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa para sahabat Rosululloh SAW., lebih berhak dan lebih pantas dengan sifat ini dari pada para sahabat Musa AS., karena keyakinan mereka lebih sempurna dari pada keyakinan para sahabat Musa AS., dan kesabaran mereka lebih kuat dari pada kesabaran para sahabat Musa AS. Sesuai dengan persaksian Alloh SWT., kepada mereka, dan persaksian Rosululloh bahwa mereka sebaik-baik generasi, bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Alloh SWT.

[Bersambung. Insya Alloh….]

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 12 May 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

2 responses to “Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-2

  1. Abu Salman

    14 May 2011 at 12:41 AM

    Subhanallah, ilmu yang sangat bermanfaat sekaligus membuat waswas. Ketika kita tidak menjalankan aturan Allah, kemanakah kita melangkah? Din ini begitu sempurna, relakah kita meninggalkannya hanya karena rasa takut dan ragu? . Salah satu tahapan yg harus dijalani oleh setiap muslim seperti yg disebutkan adalah menjadikan Rosul sebagai penentu segala urusan kehidupan mereka. Bagaimana kita mengaplikasikan tahapan yg harus kita capai ini dalam kondisi sekarang? kemana kita harus meminta keputusan tentang suatu permasalahan? Ulama? ya tentu saja karena ulama adalah pewaris para Rosul. Tapi sekarang dihadapkan lagi pada pertanyaan siapakah ulama yg pantas kita minta keputusan tentang permasalahan kita? dan dimana kah mereka berada? di TV? di pesantren? sungguh sangat jauh dari jangkauan kita. Ustadz yg terdekat dengan kita? apakah para ustadz itu mau menerima masalah-masalah kita dan memberi keputusan? kalaupun ada, pasti setiap daerah berbeda kepala berbeda ilmu tentunya berbeda keputusan yg diberikan. Keputusan adalah kebijakan, kebijakan tertuang dalam peraturan. Semakin tambah bingung lagi ketika kita bertanya, apakah seorang ustadz atau ulama berwenang untuk menetapkan hukum masing-masing sesuai kapasitasnya masing-masing? Dalama ilmu tata negara suatu keputusan dikeluarkan oleh hakim yang menentukan hukum, baik itu pidana atau perdata. Peraturan yg bersifat umum ditetapkan oleh suatu badan legislatif. Sangat tidak mungkin seorang ustadz kita letakan sebagai hakim atau suatu badan legislatif, tidak lah proporsional. Ustadz adalah guru, tugasnya menyampaikan ilmu dan bukan memberikan suatu putusan. Lalu apakah kita yang salah memaknai kata Rosul? Allah berfirman dalam surat al-Fath:28 “Dia lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”. Dalam ayat tersebut kita lihat suatu rangkaian kesatuan : Rosul, Petunjuk dan Din. Din adalah suatu sistem aturan, suatu sistem kekuasaan. Artinya Rosul adalah suatu jabatan yang berwenang untuk menjalankan sistem aturan tersebut dan suatu jabatan tidak akan meninggal. Kalau lah kita memaknai Rosul sebagai jabatan tentunya kita akan berprotes keras, tidak ada Rosul baru, bid’ah, ya itu lah masalahnya. Lalu setelah Rosulullah Muhammand meninggal, kenapa begitu pentingnya diangkat seorang Khalifah untuk menggantikan Rosul, padahal jenasah Muhammad pun belum dikuburkan. Apa artinya Khalifah? apakah fungsinya sama atau beda dengan Rosul? kalau beda kenapa harus diangkat pada waktu itu. Kalau jawabannya fungsi khalifah sama dengan fungsi Rosul artinya jabatan khalifah sama dengan jabatan Rosul, yaitu merupakan Imam bagi suatu pemerintahan. Dan pemerintahan merupakan suatu sistem, ada Pemimipin Tertinggi negara, ada badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dan semua turunannya sampai tingkat RT. Ambilah contoh di negara ini. Kita bayar retribusi sampah, baik sukarela maupun terpaksa, artinya kita taat sama RT setempat dan secara tidak langsung taat pada pemerintah. Kita menyerahkan diri, pasrah dan taat terhadap aturan yg berlaku di lingkup pemerintahan terkecil yaitu RT. Nah, kalau kita maknai Rosul sebagai suatu jabatan yang mengusung pemerintahan Islam, tentunya tahapan yang harus kita lalui sebagai muslim yaitu dalam hal menjadikan Rosul sebagai penentu segala urusan kehidupan akan menjadi suatu yang realistis untuk dijalankan. Karena seluruh aspek kehidupan terdiri dari IPOLEKSOSBUDHANKAM yang tentunya seorang Ustadz atau Ulama akan terlalu kerdil untuk menjalankannya. Wallahu’alam bishowab.

     
    • hanifroad

      14 May 2011 at 6:23 AM

      Assalamu’alaikum wr., wb.
      Syukron atas kunjungannya. Alhamdulillah wa bihamdihi. Banyak sekali di ayat Qur’an yang menerangkan untuk ta’at kepada Alloh, Rosul dan pemimpin yang beriman diantara kita. Betul, ana spakat, Dien adalah aturan, berasal dari Alloh Azza wa Jalla yang dirisalahkan Nabi SAW. Rosul SAW adalah sebaik2 uswah, benar? sepakat? Semua hal termasuk kehidupan memimpin pemerintahan waktu itu. Ibroh bisa diambil dari beliau. Kholifah,dalam sebuah versi ulama diartikan wakil Alloh di dunia ini untuk menjadi pemelihara atas apa yang telah diberi-NYA. Ingatlah tidak ada yang namanya “pemimpin” tanpa adanya “anggota bawahannya”. Kholifah adalah komando, tapi tidak bersikap otoriter. Berkaca dari Salaf, Kholifah Umar bin Abdul Aziz sering meminta pendapat dari berbagai ulama untuk bertanya hukum syareat, catat…berbagai ulama. Artinya apa?hadits tentang “Al Ulama’u Waratsatul Anbiya” berlaku, dalam konteks tanyakanlah pada yang lebih paham. Kewajiban ummat saat ini adalah menyadarkan sesama saudara kita, bagaimana hukum Alloh seharusnya ditegakkan. Jika berkaca pada siroh Nabawi, Rosul SAW., pun sempat hijrah-pindah sesaat ke Madinah untuk membangun pondasi keIslaman para sahabat dan sohabiyah, yang akhirnya setelah futuh Mekah Islam ditegakkan beliau secara paripurna karena pondasi itu telah kuat ditanamkan.
      Wallohu A’lam.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s