RSS

Jika Rasa Malu Tersingkap

04 May

“Malu dan Iman adalah 2 sejoli. Jika salah satunya diangkat, maka yang satunya pun terangkat pula.” (HR. Hakim)

Assalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puja dan puji hanyalah bagi-NYA, Alloh SWT., pemilik alam semesta beserta isinya ini. Semoga sholawat dan salam selalu kita panjatkan kepada Rosululloh SAW., Junjungan alam yang dengan risalah dari-NYA telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Apa kabar keimanan kita hari ini?semoga semakin bertambah dengan seiring memupuk rasa malu dalam diri ini.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Al – Haya’ (malu) adalah sebagian dari Iman ini, seperti halnya Rosul SAW., yang selalu menjaga rasa malunya laksana pipi gadis perawan yang akan memerah apabila diberi pertanyaan akan pinangan seorang muslim, karena yakin akan pengawasan Al – Bashir. Malu, adalah karakter yang manusiawi. Tidak akan ada janji yang tidak ditepati, tidak akan ada aurot yang tersingkap, tidak akan ada amanah yang dilalaikan, tidak akan ada perbuatan dosa yang dilakukan, tidak akan ada perkataan keji terucap, tidak akan ada harta yang mubadzir dan sebagainya.

Malu adalah indah. Betapa tidak?adanya rasa malu akan membuat kita selalu terdiam sesaat apabila kita berniat akan menabraknya. Kita sering mendapati teguran orangtua kita apabila norma – norma dilanggar dengan perkataan “pamali”. Pernahkah terpikir mengapa  sampai ada diantara kita malah menyindir perasaan malu berlebih yang ada dalam diri ini? Rosul SAW., bersabda:

“Tidaklah (perkataan dan perbuatan) keji itu menyertai apapun kecuali membuatnya buruk, dan tidaklah malu menyertai sesuatu melainkan membuatnya semakin indah.” (HR. Tirmidzi)

Demikian pula dalam haditsnya yang lain:

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak. Dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah)

Tahukah bagaimana tumbuhan putri malu (mimosa pudica sp.) yang sering kita temukan di pinggir jalan? Sentuhlah dengan lembut ataupun bahkan lemparlah dengan batu, tumbuhan putri malu malah akan tunduk meredup seperti layaknya seekor kura – kura masuk ke dalam batok tempurungnya, tidak seperti halnya seekor burung merak yang akan mengembangkan keindahan ekornya penuh kesombongan tanpa diminta sekalipun.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Ummahatul Mukminin Aisyah RA., memberikan kita contoh bagaimana beliau begitu menjaga rasa malunya. Ketika memasuki kamarnya tempat suaminya dunia akhirat dan ayahnya dikebumikan, beliau melepas kain hijabnya. Akan tetapi ketika di kamarnya juga dikebumikan jenazah Umar bin Khothob RA., beliau tidak lagi melepas kain hijabnya ketika berziarah. Subhanalloh.

Sangatlah disayangkan apabila kita sering berkutat pada kebiasaan orang – orang kafir di luar Dien ini, yang membuat dan menyebutkan rasa malu adalah kampungan bahkan menjadi bahan tertawaan. Banyak sekali diantara kita masih menunjukkan perbuatan dosa dan membanggakannya di muka umum, dalam kehidupan nyata juga dalam kehidupan jaringan alam maya. Afwan, afwan jiddan. Sadarkah apabila dalam situs pertemanan sering sekali kita jumpai yang mengakui Islam sebagai Diennya tetapi berikhtilat menunjukkan kata – kata mesra, berkata sia – sia, menceritakan perbuatan dosa, membuat janji untuk melakukan dosa, naudzubillahi min dzaalik bahkan mendapat jempol penilaian. Aneh, aneh sekali bahkan jempol penilaian itu bahkan membuat kita semakin bersemangat untuk memubadzirkan harta dengan membuka semua celah – celah dosa yang telah diampuni-NYA. Atau apakah akhirnya hanya memilih aplikasi bermain game, mencoba memilih celah pembenaran lagi tampaknya? Dimanakah kewajiban-NYA untuk saling ingat mengingatkan dalam kebaikan, kesabaran dan takwa?

“Setiap ummatku berhak untuk dimaafkan, kecuali Mujahirun, yaitu orang – orang yang melakukan dosa secara terang – terangan. Termasuk dalam tindakan dosa terang – terangan adalah, seseorang yang berbuat (keburukan) di malam hari, kemudian pada harinya sedangkan Alloh telah menutup (memaafkan) kesalahannya itu, ia sendiri berkata. ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan begini dan begitu.’ Ia menyingkap aib dirinya sendiri, padahal Robbnya telah menutup aib dirinya.” (HR. Bukhori)

Lihatlah kondisi saat ini. Betapa muslimah yang telah dimuliakan dan dilindungi kehormatan dan hak – haknya dalam Islam tidak menjaga malunya dengan berhijab, dari seharusnya menjadi tuntunan malah menjadi tontonan dengan berlenggak – lenggok dan berbicara mendayu – dayu bahkan seakan – akan tidak mengetahui akan kewajiban menghijabi fisik dan akhlak perilakunya. Malu, tidaklah semata – mata perhiasan milik wanita. Apakah memang jika rasa malu dijaga pada seorang muslim maka akan turun kewibawaan dan kegagahan itu? Pun demikian apakah jika rasa malu benar – benar dijaga oleh seorang muslimah, apakah akan menurunkan kecantikan akhlak dan fisik juga akan menurunkan sisi kewanitaannya? Sungguh, rasa malu yang dimiliki seorang muslimah adalah lebih indah jika dibandingkan rasa malu yang dimiliki seorang muslim. Justru kewibawaan, keindahan dan kegagahan itu akan pudar apabila rasa malu itu disingkap dan dibuang jauh.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Sebelum rasa malu itu mulai kita tumbuh kembangkan kembali, sadarilah kedudukan kita di hadapan Robbul ‘Alamin. Hendaklah kita menghadirkan Alloh SWT., dalam setiap langkah awal aktivitas hidup ini, yakinkanlah bahwa Alloh SWT., adalah Al – Bashir, Maha Melihat, juga memiliki rasa malu. Rosul SAW., bersabda:

“Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia malu apabila jika ada seseorang menengadahkan kedua tangannya kepada-NYA (bermunajat – berdo’a), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong sia – sia.” (HR. Abu Dawud)

Menurut Dzun Nun Al – Mihsri, malu akan menimbulkan rasa takut (Khouf) pada Robbnya. Khouf, Roja’ dan Mahabbah adalah tingkatan pilar Ibadah yang harus dimiliki seorang muslim. Malik bin Dinar menyebutkan bahwa Alloh akan menghukum hati dengan sesuatu yang lebih berat daripada dicabutnya rasa malu dari seseorang. Ingatkah bagaimana 2 makhluk-NYA yang diusir dari Syurga, Adam AS., dan Hawa, sama – sama memerah pipinya ketika aurotnya tersingkap setelah memakan buah khuldi yang diharamkan-NYA? Padahal tidak ada manusia selain mereka saat itu, tetapi rasa malu dan yakin bahwa Alloh SWT., Maha Melihat, adalah penyebab malu keduanya saat itu.

“….lalu nampaklah bagi keduanya aurot – aurotnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun – daun (yang berada) di surga…” (Q.S. Thoha (20): 121)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Semoga fitroh dan sifat malu ini tidak kita kotori dengan arogansi selalu merasa benar yang ada dalam hembusan hawa nafsu ini. Ingatlah Alloh SWT., bahkan lebih dekat dari urat leher kita, dengan keberadaan 2 malaikatnya yang mencatat dalam kitab perbuatan kita setiap saatnya.

Wallohu A’lam. Billahit taufiq.

Wassalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA: Nabi SAW., pernah bersabda:Cabang Iman meliputi lebih dari 60 cabang atau 70 cabang. Dan Al – Haya’ (rasa malu) adalah sebuah cabang dari iman.” (HR. Bukhori)

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 4 May 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

2 responses to “Jika Rasa Malu Tersingkap

  1. halawatul iman

    5 May 2011 at 6:44 AM

    salam ukhwah..entry yg sangat familiar..bahkan disimilarkn rasa malu dengan pohon semalu(putri ayu) dengan fitrahnya seorang wanita..nice..

     
    • hanifroad

      5 May 2011 at 8:49 AM

      Ukhwah Fillah, Abadan…Abada!

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s