RSS

Muslim Parsial & Oportunis

03 May

“Jalan menuju Syurga itu dipenuhi dengan hal – hal yang tidak disukai, sedangkan jalan menuju Neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” [HR. Muslim]

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Alhamdulillaah wa Syukurillaah. Sholawat serta salam semoga selalu kita  curahkan kepada Junjungan Alam, Rosululloh SAW., semoga kita selalu istiqomah di jalan Alloh ‘Azza wa Jalla dan termasuk dalam ummat Nabi-NYA sampai akhir hayat. Amien.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Pernahkah kita berucap suka atau tidak suka akan sesuatu hal? Jangankan untuk mendekati, bahkan untuk melihat dari kejauhan pun diri ini merasa tidak enak hati. Padahal Alloh SWT., telah berfirman dalam Al – Baqoroh 216 bahwa sesuatu yang tidak kita anggap baik boleh jadi adalah baik menurut-NYA, vice versa.

 …وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُواْ شَيْىًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيْىًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(Q.S. Al – Baqoroh (2): 216)

Kesukaan akan sesuatu hal akan membuat kita bersemangat mencari tahu, mendekati, mengikuti bahkan akhirnya menjadikannya semacam “kewajiban”. Begitu pula sebaliknya,  ketidaksukaan akan sesuatu hal membuat kita jangankan untuk mendekati dan menjadikannya “kewajiban”, mendapat info tentang hal itu pun akan kita buang jauh bahkan mencoba menghapusnya dari memori, bahkan sampai merasa pusing dan mual jika memikirkannya.

Pembebanan syariat dalam hukum taklif dalam Qur’an dan Sunnah Rosul SAW., sudah selayaknya kita jadikan untuk rambu – rambu dalam melangkahi sisa hidup ini. Tetapi alangkah lalainya kita sebagai muslim bahkan untuk mengkaji dan mencari tahu akan rambu – rambu Alloh Al – Haqq yang terbaik bagi kita, hidup ini hanya kita langkahkan dengan kalimat pamungkas “Rasanya Sudah Benar”.

Jika memang diri ini sudah merasa benar (rasanya…), lalu mengapa berbagai macam cobaan untuk negeri ini silih berganti diberi-NYA? Tidak lain dan tidak bukan adalah agar kita semua kembali kepada fitroh kita sebagai Kholifah fil ‘Ardh. Tengoklah masing – masing diri ini. Apakah kehidupan dunia memang sudah menjadi acuan kita dalam mengisi hidup?

مَن كَانَ يُرِيدِ الْحَيَوٰةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَـٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (١٥) أُوْلَــــٰٓىِٕكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْأَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَـٰطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْلَمُونَ (١٦)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan siasialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Huud (11): 15 – 16)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Bagaimana sikap kita jika apa yang kita senangi adalah dilarang-NYA? Tentunya Sami’na wa Atho’na (kami dengar dan kami taati) yang harus kita pilih. Mungkin beberapa dari kita sering mencoba mencari celah agar perasaan benar menurut diri ini dapat pembenaran. Apakah memang identitas ke-Islam-an di kartu identitas kita hanyalah pelengkap saja? Sungguhlah lucu apabila kita mendapati apa yang selama ini kita sukai dan kita inginkan ternyata dilarang-NYA, tetapi kita tetap menjalankan apa yang dilarang-Nya itu lagi – lagi hanya karena kita merasa sudah benar. Kelalaian ini bahkan ditambah ketika kita tidak mau berhukum pada Qur’an dan Sunnah, juga tidak mau mengkaji karena apabila menemukan hukum taklif yang mengharamkan perbuatan itu kita akan dirugikan, yang menyebabkan kita menjadi muslim parsial dan takut untuk mengkaji hukum syariat. Ingatlah bahwa Alloh SWT., menyeru kita semua untuk masuk kedalam Islam secara Kaffah, bukan secara parsial yang hanya akan menjalankan apa yang enak dan mudah bagi kita.

Sadarkah kelalaian kita dalam hidup ini? Sebagai contoh kecil banyak dari kita menjadikan akun pertemanan menjadi “ajang silaturohim”, tetapi yang dilakukan hanyalah update status, komen status, upload foto dan memainkan aplikasi game. Lupakah betapa mubadzirnya harta dan waktu yang dihabiskan? Lalu akhirnya niatan “ajang silaturohim” itu hanyalah menjadi ajang ghibah dan ikhtilat. Astaghfirullohal Adzim, mungkin kita melupakan informasi Dien Islam yang kita tuliskan dalam informasi data diri.

Na’udzubillahi min Dzaalik, bahkan kemubadziran waktu dan harta itu malah ditambah dengan hal – hal yang juga dilarang-NYA seperti menceritakan aib, berbangga dengan aib, bahkan memajang foto centil dan tanpa hijab bagi para muslimah.

Masih ada dari kita yang berteriak lantang untuk memberantas KKN, tetapi untuk membuat KTP, BPKB ataupun SIM saja kita memberi Risywah (suap – menyuap – sogokan) dengan alasan kecepatan proses, padahal orang yang menyogok dan yang menerima sogokan adalah berdosa. Mungkin, yang terbersit dalam pikiran kita waktu itu adalah simbiosis mutualisme, tetapi tidak menurut-NYA. Masih segar dan hangat dalam pemberitaan media massa, bagaimana musisi kafir muda dinanti – nanti kedatangannya oleh pemuda – pemudi negeri ini yang menyebabkan jutaan uang dan waktu sholat dilalaikan. Wahai pemuda – pemudi penerus kalimat Tauhid. Sudah benarkah kalian menghabiskan waktu muda kalian untuk mengkaji dan menjalankan Dien ini sebagai bekal kelak di kehidupan mendatang? Ingatlah bahwa harta, masa muda dan Ilmu kita akan ditanya-NYA di Hari Penghisaban kelak.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةَ ۚ ذَٰ لِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (١١)

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Alloh dengan berada di tepi (setengah hati); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kekafiran). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Q.S. Al – Hajj (22): 11)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Ketika berbagai masalah dan hambatan hidup berada di hadapan, terkadang iman, ikhlas dan ihsan itu selalu dikesampingkan, agar masalah tersebut dapat pergi untuk sementara waktu. Mungkin kita sering berpikir, di masa seperti ini bagaimana bisa tetap istiqomah pada hukum-NYA? Mungkin, kita lupa bahwa kesulitan dan kemudahan itu berasal dari-NYA. Apakah memang watak oportunis itu melekat erat di diri ini? yang apabila keuntungan ada di depan mata kita baru banyak – banyak beribadah dan melakukan amaliah tambahan agar mendapatkannya? Na’udzubillah, dimanakah ke-Ikhlas-an demi Ridho-NYA? Wahai muslimah kebanggaan Islam, janganlah kalian sampai keluar rumah tanpa didampingi mahrom, dan janganlah kalian menanggalkan hijab fisik kalian agar bisa mendapatkan pekerjaan. Sadarkah bahwa tidak perlu kalian belajar emansipasi, feminisme dari barat, kalian telah dimuliakan oleh Alloh SWT., dengan datangnya Islam. Harus selalu kita tanamkan dalam diri dan pikiran ini, watak oportunis yang salah itu adalah tidak sepatutnya kita ikuti.

Semua kelalaian ini bahkan diperparah dengan bujuk rayu ummat di luar Dien ini yang sebenarnya Alloh SWT., berlepas diri atas kekafiran mereka. Ya, mereka seringkali “menebarkan kasih” versi mereka agar kita mengikuti gaya hidup mereka yang mereka anggap benar, dan bahkan kita mengikuti kebenaran mereka yang dibenarkan hawa nafsu kita. Celakalah kita yang akhirnya terbujuk rayuan mereka agar mengikuti gaya hidup mereka, maka hilanglah Izzah dan Iffah Islam kita di mata mereka.

وَالَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعْمَـٰلُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْىًٔا وَوَجَدَ اللهَ عِندَهُ فَوَفَّـٰهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (٣٩)

Dan orang-orang kafir amalamalmereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orangorang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Alloh disisinya, lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan amalamal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat perhitungan-NYA.” (Q.S. An – Nuur (24): 39)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Segala ketetapan-NYA dalam Qur’an dan Sunnah Rosul SAW., merupakan landasan hidup yang selayaknya kita pegang, layaknya ucapan yang sering diucapkan Kholifah Abu Bakar RA., apabila Rosululloh SAW., menyampaikan firman-NYA dan menyampaikan hadits:

“Hanya Alloh SWT., dan Rosul-NYA yang lebih mengetahui.”

Kebenaran adalah selalu berasal dari-NYA yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Rosul SAW., telah diturunkan sebagai Rohmatan lil ‘Aalamin dan penyempurna akhlak. Insya Alloh kebahagiaan dunia wal akhirat di tangan kita, apabila keistiqomahan dalam Islam dan Iman tetap kita sirami.

إِنَّمَا كَانَ قوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُوْلَــــٰٓـىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥١)

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-NYA agar Rosul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. An – Nuur (24): 51)

Wallohu A’lam bish Showab.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 3 May 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s