RSS

Memenuhi Panggilan-NYA

26 Mar

[Renungan hasil mudzakarroh sore ini untukmu adekku, semoga Alloh SWT., ridho pada pilihanmu dan selalu memberikan yang terbaik bagimu. Amien]

مَّا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًاعَلِيمًا (١٤٧)

“Mengapa Alloh akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Alloh adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 147)

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillah wa Syukurillah, Alloh Ar – Rohman masih memberi kita semua nikmat & kesempatan sampai hari ini dan detik ini. Sholawat dan Salam semoga selalu kita tujukan kepada Junjungan Alam Nabi Muhammad SAW., yang telah membawa risalah-NYA dengan berbagai cobaan untuk membawa kita semua dari kegelapan menuju cahaya-NYA yang terang benderang.

Tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Alloh Al – Aliim, di belahan bumi mana kita akan dibesarkan dan dikecilkan, yang jelas kita akan “dibesarkan” di kampung halaman kita dan akan “dikecilkan” ketika kita keluar dari sana, begitu pula hanya Alloh-lah yang tahu di belahan bumi mana kita akan dikuburkan. Sangat jelas keragu – raguan sebagai makhluk-NYA selalu terlintas di pikiran kita, karena yang Haqq adalah dari-NYA. Lalu, akuilah & jujurlah kita sering mencoba mendikte Alloh hal apakah yang terbaik bagi kita. Buat apa? Apakah memang kita merasa lebih tahu dari-NYA?bahkan Kalimulloh – Nabi Musa AS., dipatahkan pengetahuannya oleh yang lebih ‘alim darinya – Nabi Khidir AS., atas kehendak-NYA. Selalu ada gunung di atas gunung.

Mengapa? Kita sudah tahu jawabnya, karena kita makhluk-NYA!

Adalah hal yang sangat menggembirakan bagi Alloh SWT., apabila melihat hamba-NYA, Abdillah macam kita ini kembali pulang di jalan-NYA, jalan yang diridhoi-NYA untuk Nabi SAW dan ummatnya sebagai penutup risalah-NYA sekaligus penutup risalah ke-Nabian. Mustahil kita bisa kembali pada waktu sepersekian detik ketika kita akan melakukan kekhilafan, mungkin kita waktu itu sedang lupa bahwa bukti keberadaan, kasih sayang, rambu dan tanda – tanda-NYA sedang ada di sekitar kita dan kita rasakan, tetapi juga ampunan Alloh Al – Ghofur terbuka bahkan dimulai entah sepersekian detik setelah kita melakukan kekhilafan tersebut.

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُواْ السُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِ هَالَغَفُورٌ رَّحِيمٌ (١١٩)

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang – orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Robb-mu sesudah itu benar – benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. AnNahl (16): 119)

 

Pun demikian, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya taubat memiliki sebuah pintu yang dibentangkan, yang jarak antara kedua sisinya sejauh timur dan barat, yang tidak pernah ditutup hingga matahari terbit dari arah terbenamnya.” (HR. Thabroni)


Matahari yang panas terik belum tentu membakar, air hujan yang mengguyur belum tentu membekukan. Lalu, mengapa kita sudah mengadili diri sendiri dan lagi – lagi mendikte-NYA apa yang terbaik bagi kita? Lalu, mengapa kita sudah menyimpulkan apa yang masih dalam proses perjalanan?

“Allohu ma ‘Ana, Allohu ma antum wa antuna.”

Tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa sebuah lapangan kering yang hanya ditumbuhi ilalang dan semak belukar akan menjadi masjid, yang di dalamnya akan dipenuhi para Abdillah untuk memenuhi panggilan-NYA, untuk mencari ilmu-NYA, untuk sujud & bermunajat pada-NYA, juga amal jariyah para Abdi-NYA yang akan selalu mengalir kepada mereka biarpun mereka telah bergelar “legenda”.

Ketika sauh kehidupan telah diangkat, ketika tas dan koper telah dikunci, ketika niat itu sudah bulat, ketika ridho dan izin kedua orangtua telah diselipkan, maka berangkatlah kita untuk menjalani cabang jalan kehidupan yang selalu berbeda di depan sana. Segala komitmen diri selalu berubah seiring arahan yang telah ditulis-NYA. Subhanalloh wa bihamdihi, jalan di depan sana selalu bercabang, tetapi janganlah lupa untuk tidak menutup cabang jalan yang lain jika salah satu jalan telah kita ambil.

Kelak, jika kebathilan, kepenatan dan kesepian telah kembali menyapa kita, hanya ada satu jalan yang lurus yang tidak ada cabangnya, jalan tempat kita berasal dan tempat kita kembali. Jalan yang telah diridhoi-NYA, Al – Islam, jalan yang lurus dan khusus untuk kita semua yang rindu untuk menggapai-NYA, jalan yang akan selalu menyadarkan kita bahwa kita ini adalah makhluk-NYA.

“Fabiayyialaa-i Robbikumaa Tukadzibaan?”

وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُواْ لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ (٥٤) وَاتَّبِعُوٓاْ أَحْسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُمْ مِّن رَّبِّكُمْ مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (٥٥)

“Dan kembalilah kamu kepada Robb-mu, dan berserah dirilah kepada-NYA sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik – baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Robb-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba – tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (Q.S. Az – Zumar (39): 54 – 55)

Wallohu a’lam.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 26 March 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s