RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3

25 Mar

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3

Ustadz Armen Halim Naro

MENUJU CARA BERAGAMA YANG BENAR


Setelah seseorang diantar ke gerbang hidayah, dituntun oleh Alloh SWT., ke pintu Islam, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, apakah hanya sampai di sana riwayat kebahagiaannya?! Sampai disitukah pencariannya terhadap kebenaran?! Tentu tidak, seseorang yang menghendaki hidayah kedua dari Alloh SWT., hendaklah ia mengolah hidayah yang pertama.

Hidayah Alloh SWT., yang pertama adalah keinginan untuk mencari kebenaran, lalu hamba tersebut mengolahnya dengan ilmu dan iman serta usaha dan amal, maka akan menghasilkan hidayah kedua dari Alloh, yaitu taufiq Alloh pada seorang hamba dalam kebenaran pada semua tindakannya, itulah yang disebut oleh Alloh SWT., dalam Al – Qur’an:

“Dan orang yang berjuang di jalan Kami, akan Kami berikan kepada mereka hidayah jalan-jalan Kami”. (Q.S. Al – Ankabut (29): 69)

Para ulama berkata, “Kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sasaran yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang mengantarkan mereka kepada ridho Alloh”.

“Dan Alloh tambahkan orang yang diberi hidayah itu dengan hidayah”. (Q.S. Maryam (19): 76)

Penafsiran ayat ini ada 5 pendapat, yaitu :

1.      Alloh SWT., tambahkan dengan tauhid sebagai iman.

2.      Alloh SWT., tambahkan pemahaman dalam agama.

3.      Alloh SWT., tambahkan keimanan setiap kali turun wahyu.

4.      Alloh SWT., tambahkan iman dengan nasikh wal mansukh.

5.      Alloh SWT., tambahkan orang yang mendapatkan yang mansukh, petunjuk terhadap yang nasikh.

Zajjaj berkata yang maknanya, “Sesungguhnya Alloh menambah keyakinan mereka, sebagaimana orang kafir ditambahkan kesesatan bagi mereka”.

Orang yang memperoleh hidayah kedua merupakan orang pilihan Alloh SWT., dan dialah wali Alloh, sebagai tingkat keimanan muslim yang tertinggi. Buah dari kewalian tersebut adalah kecintaan dan pembelaan Alloh terhadap hamba tersebut pada setiap kondisi dan keadaan. Tatkala itu seorang hamba akan merasakan bahagia, hidup selalu di bawah lindungan-NYA, tanpa rasa takut dan sedih. Maka apa yang perlu ia takutkan, jika Alloh telah bersamanya?! Alloh SWT., berfirman;

“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Q.S. Yunus (10): 62 – 63)

Dalam hadits qudsi disebutkan:

Dan Abu Hurairoh RA., berkata, “Telah bersabda Rosululloh SAW., bahwa Alloh berfirman, “Siapa yang memasang permusuhan dengan wali-KU, berarti Aku telah menabuh genderang peperangan dengannya, dan tidak ada hal yang lebih Aku cintai terhadap hamba-KU yang bertaqarrub kepada-KU dari hal-hal yang telah Aku wajibkan atasnya, dan jika seorang hamba selau bertaqarrub kepada-KU dengan hal-hal yang sunnah sampai Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, Akulah pendengarannya yang dengan pendengaran tersebut ia mendengar, Akulah pandangannya yang dengan pandangan tersebut ia melihat, dan (Akulah) tangannya yang dengannya ia memukul, dan (Akulah) kakinya yang dengannya ia berjalan. Sekiranya ia meminta Aku pasti berikan, sekiranya ia meminta perlindungan, Aku pasti akan memberi perlindungan”. (HR. Bukhori)

Untuk menggapai hidayah kedua seorang muslim harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

A. Berjiwa Hanif

Hanif secara bahasa ialah “condong kepadanya”, orang yang hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqomah. Agama hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan melakukan manasik haji. Alloh SWT., berfirman;

“Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nashrani, akan tetapi ia adalah orang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik”. (Q.S. Ali Imron (3): 67)

Ibnu Katsir berkata: “Yaitu jauh dari syirik dan condang kepada iman”. Menurut anggapan Jahiliyah bahwa seorang disebut dengan hanif ketika ia melaksanakan ibadah haji atau berkhitan. Imam Al-Thabari berkata membantah anggapan tersebut, “Berkata Abu Ja’far (yaitu diri beliau), Hanif menurutku adalah istiqomah di atas ajaran Ibrahim dan mengikuti millahnya.”

Kalau sekiranya hanif itu hanya dengan haji saja, tentu orang jahiliyah yang melaksanakan haji dari kaum musyrikin termasuk hanif. Alloh SWT., nafikan pemahaman tersebut sebagai bentuk pengajaran hanif, dalam firman-NYA, “Akan tetapi dia adalah hanif lagi muslim, dan dia tidaklah dari orang-orang musyrik‘. Begitu juga dengan khitan, sekiranya ajaran hanif dengan khitan, tentu orang-orang Yahudi masuk dalam katagori hanif, sedangkan Alloh telah mengeluarkan mereka darinya, dalam firmanNya, “Tidaklah Ibrahim itu orang Yahudi dan bukan pula Nashrani, akan tetapi sebagai seorang yang hanif lagi muslim”.

Jadi yang benar, hanif bukanlah dengan khitan saja atau haji saja, akan tetapi apa yang telah kita terangkan tadi yaitu istiqomah di atas millah Ibrahim dan mengikuti serta menjadikannya sebagai acuan dan panutan.

Penulis berkata, “Perbedaan istilah antara yang dipahami masyarakat jahiliyah dengan pemahaman yang benar tentang hanif bagaikan memahami sesuatu secara lahiriah dan hakikat sebenarnya. Masyarakat hanya melihat yang lahir tanpa melihat hakikat pengajaran tersebut, sedangkan orang yang mukmin melihat sesuatu jauh lebih dalam lagi”. Orang jahiliah menganggap bahwa agama Ibrahim hanya sebatas manasik haji dan khitan, padahal Agama Ibrahim yang sebenarnya adalah agama yang hanif ia merupakan semua aturan Alloh SWT., dari perkara tauhid dan iman, perintah dan larangan yang diturunkan kepada beliau.

Begitu pula yang terjadi pada akhir zaman, ketika Islam telah kembali asing, sebagaimana asingnya agama hanif Ibrahim pada masa jahiliah. Mereka menyangka bahwa Islam hanya sholat, puasa dan haji saja. Dan ibadah itupun tidak lagi menurut ajaran yang benar. Sholat mereka telah punya cara tersendiri yang berbeda dengan sholatnya Rosul SAW., haji mereka tidak lagi mengacu kepada manasik haji Rosululloh SAW. Pada kesempatan lain, orang yang hendak kembali kepada kemurnian Islam hanya dipahami dengan jenggot, cadar dan pakaian di atas mata kaki. Tidak dipahami bahwa Islam yang sebenarnya adalah upaya untuk mengembalikan umat kepada ajaran yang bening dari pengajaran Rosululloh SAW. Dan Islam yang sebenarnya adalah istiqomah di atas sunnah Rosululloh sebagaimana para sahabat dan para tabi’ in telah mempraktekkannya.

Contoh karakter ideal dari orang yarn berjiwa hanif pada masa jahiliah adalah Zaid bin ‘Amr bin Naufal, dan berikut ini kita terangkan sedikit tentang Zaid bin ‘Amr bin Naufal. Beliau adalah Zaid bin ‘Amr bin Naufal bin Abdul ‘Uzza al-Qurasyi al-Adawi, masih punya hubungan kerabat dengan ayah Umar bin Khaththab yaitu sebagai keponakan dan saudara seibu, karena orang tua Zaid yaitu `Amr bin Naufal menikahi istri dari ayah Khaththab. Beliau telah lama meninggalkan ajaran Jahiliah, ajaran yang mereka nisbatkan kepada agama Hanif Ibrahim. Beliau lebih suka mengasingkan diri dari masyarakatnya, karena cara berpikirnya berbeda dengan cara berpikir masyarakatnya. Cara beragama beliau bukanlah karena ikut-ikutan, tradisi atau turun-temurun, beliau melihat semua perkara dengan kejernihan pikiran dan kebeningan hati meskipun risalah kenabian tidak ada yang tersisa di permukaan bumi. Perumpamaannya, seperti orang yang punya penglihatan tajam berjalan di kegelapan malam, tidak ada cahaya yang menerangi untuk membantu penglihatannya.

Diriwayatkan oleh Asma bin Abu Bakar RA., “Aku melihat Zaid bin Amr bin Naufal menyandarkan punggungnya ke Ka ‘bah, dan beliau berkata, “Wahai sekalian Quraisy, demi Dzat yang jiwa Zaid di tangan-NYA, tak satupun dari kalian yang menganut agama Ibrahim selain diriku”. Lalu beliau berkata, “Ya Alloh, sekiranya aku mengetahui arah yang Engkau cintai, niscaya aku akan menghadapnya, akan tetapi aku tidak mengetahuinya”, lalu ia sujud di atas kendaraannya”. Semoga Alloh merahmatimu- wahai Zaid!! Sampai arah kiblatpun engkau tidak mengetahuinya, karena hal itu belum engkau dapatkan dari seorang Rosul!!! Sedangkan pada kami, ketika Rosululloh SAW., meninggal, Islam dalam keadaan sempurna, malamnya bagaikan siang, bagaimana gerangan dengan siangnya?! Tidak seorangpun yang hendak mencari kebenaran Islam dengan jujur, niscaya ia akan menemukannya. Kitab dan Sunnah tetap terjaga sampai hari kiamat, orang yang melaksanakannya juga tetap ada sampai hari kiamat, permasalahannya ada pada kemauan.

Zaid bin `Amr sering berucap di hadapan Ka’ bah, “Allohku adalah Alloh Ibrahim, dan agamaku adalah agama Ibrahim”. Ibnu Katsir, berkata “Tidak ada di kalangan Quraisy yang konsekuen dan lebih tegar dari Zaid bin Amr bin Naufal. Beliau meninggalkan ajaran berhala dan beliau tidak menganut ajaran agama Yahudi dan Nashrani ataupun agama yang lain, melainkan agama hanif yaitu pengajaran agama Ibrahim, dengan mentauhidkan Alloh dan membuang yang lain, tidak mau makan sembelihan musyrik. Sampai beliau memperoleh intimidasi dari mereka akibat berbedanya beliau dengan mereka”.

Orang Quraisy sangat membencinya, terutama dari kalangan kerabat dan sukunya, mereka mengusir Zaid dari Mekkah, membuat Zaid tidak bisa masuk Mekkah kecuali pada malam hari secara sembunyi. Hingga karena tidak tahan lagi menerima siksaan dari Quraisy dan beliau merasa bahwa Mekkah telah menjadi negeri yang sempit untuk dijadikan tempat beribadah, maka beliaupun berangkat ke Syam mencari ilmu agama Ibrahim. Beliau belajar kepada ahli kitab yang masih berpegang dengan ajaran yang lama.

Dari cerita singkat Zaid bin Amr bin Naufal, dapat kita pahami bahwa sifat seorang penganut ajaran yang hanif, diantaranya adalah :

1.      Seorang yang berjiwa hanif bagaikan kaca, dengan kebeningannya ia dapat melihat kebenaran dari kebatilan, dan dengan ketebalannya hingga syubhat dan keraguan tidak dapat menembusnya. Dia bukan busa yang menyerap setiap sesuatu yang bersentuhan dengannya.

2.      Seorang yang berjiwa hanif adalah orang yang bijaksana dan adil, dia meletakkan perkara sesuai dengan posisi dan porsinya, baik yang berkaitan dengan Alloh atau yang berkaitan dengan dirinya maupun yang berhubungan dengan manusia.

3.      Maka dirinya menolak praktek syirik dan penyembahan berhala, karena hal itu bukanlah perbuatan yang adil kepada Alloh, iapun tidak minum khamar seperti yang lainnya, karena ia tidak mau menzhalimi dirinya. Sebagaimana ia tidak mau menguburkan anak karena hal itu merupakan perbuatan zhalim terhadap orang lain.

4.      Seorang yang berjiwa hanif adalah orang yang memiliki fitrah yang bersih dan pemikiran yang baik, tidak dikotori oleh moderenisasi jahiliah dan tidak tercemari oleh pemikiran yang menyimpang seperti dari ajaran filsafat dan ilmu kalam.

5.      Seorang yang berjiwa hanif adalah orang yang selalu mencari kebenaran kepada sumbernya yang asli. Setelah ia memperolehnya, ia menyibukkan diri untuk mendalaminya, karena ia sumber yang tidak pernah habis, dan kemudian ia istiqomah di dalamnya. Sebagaimana seorang yang hendak mencari air yang bersih, ia mencari ke sumber mata air yang belum dicemari, di gunung atau di hutan belantara. Setelah ia menemukannya, ia menikmatinya dan mengambilnya sebagai perbekalan. Tidak seperti sebagian orang, setelah mereka menemukannya, ia mencoba mencari yang lain.

B. Berserah diri

Banyak kasus yang terjadi, ketika seseorang telah masuk ke dalam hidayah Islam merasa kebingungan, apa yang diperbuat setelah ia diantar ke pintu Islam? Bagaimana Cara menjalankan Islam dengan baik sehingga dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat? Hal ini, diperparah lagi dengan banyaknya kelompok-kelompok sempalan dalam Islam yang begitu semangat menjadikan mereka sebagai objek santapan, untuk menyelewengkan mereka dari jalan yang lurus.

Diantara yang menghalangi seseorang dari beragama yang benar adalah mendahulukan akal atas nash. Orang yang menjadikan akalnya sebagai standar agama, berarti ia telah mengikuti cara beragama iblis,

“Dia (Iblis) berkata, “Aku Iebih baik darinya, Engkau ciptakan diriku dari api, dan Engkau ciptakan dirinya dari tanah”. (Q.S. Shod (38): 76)

Iblis tidak tahu bahwa tanah lebih baik dari api dalam semua hal, diantaranya adalah api membakar sedangkan tanah membangun, sifat api panas sedangkan sifat tanah dingin. Semua ayat Al – Qur’an yang menjelaskan kedudukan akal dan memuji pelakunya berkaitan dengan penambahan iman dan kebesaran ciptaan Alloh, bukan digunakan untuk membantah atau menghadang perintah atau larangan-NYA.

Diantara yang menghalangi seseorang dari pengajaran agama yang benar adalah hawa nafsu. Ketika hawa telah menguasai diri seseorang, ia tidak akan peduli dengan aturan Alloh. Berapa banyak ayat Alloh ditolak atau sunnah Rosululloh disepelekan hanya karena hawa nafsu yang selalu dibela dan ditegakkan?! Bagaimana bisa beragama dengan baik, sekiranya benang yang basah itu masih ditegakkan, memusuhi dan mencari kawan di atasnya?! Seseorang yang mendahulukan hawanya dan sudah terbiasa dengan riba, ketika ia mendengar ayat-ayat yang melarang riba, berkerut keningnya dan berat hatinya untuk menerima apa yang ia dengar tersebut, karena usaha yang selama ini ia tentram dengannya, sekarang disalahkan pula oleh orang bahkan diharamkan, tentu ia akan melakukan berbagai usaha untuk mencari dalil pembolehan, lalu mencari kawan maupun lawan karenanya.

Membela orang yang membolehkan riba dan memusuhi yang mengharamkannya, hanya sebab hawa nafsunya di sana. Orang yang seperti itu sulit untuk mendapatkan hidayah. Contoh yang lainnya, sebagian orang yang sudah terbiasa dengan suatu bid’ ah, ketika ia diingatkan, ia merasa gerah, karena pekerjaannya disalahkan. Anehnya, ia tidak belajar bagaimana kembali kepada Al – Qur’an dan Hadits, tapi ia berusaha dengan cara apapun melegalkan bid’ ah yang telah lama ia lakukan. Yang penting baginya perbuatan itu halal. Maka orang seperti ini juga sulit untuk mendapatkan hidayah.

Jika seseorang hendak mencari kebahagiaan dan jalan menujunya mudah, maka tentu pintu itu adalah pintu penyerahan diri kepada Alloh. Penyerahan diri dalam perintah dan larangan-NYA, iman dan Islam kepada-NYA, mengikuti kabar dan berita yang disampaikan-NYA. Itulah, cara beragama yang telah diajarkan oleh Rosululloh kepada para sahabatnya, dan para sahabat mengajarkannya kepada para tabi’ in dan tabi’in mereka mengajarkannya kepada para ulama dan orang-orang shalih. Pengajaran secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Pengajaran yang mendapatkan ridho Alloh SWT., dan surga Firdaus-NYA. Pengajaran yang menjadikan mereka menjadi umat yang terbaik. Pengajaran yang membuat mereka benar-benar dapat melaksanakan Islam dengan benar dan yakin! Pengajaran yang dapat membuat mereka bisa menguasai dua kerajaan besar dunia, Romawi dan Persia! Pengajaran yang menghasilkan riwayat-riwayat tentang mereka, kalaulah bukan karena kejujuran dan daya hapal yang kuat dari rawi, niscaya kita tidak percaya tentang cerita tersebut, tentu akan kita sangka cerita yang dibuat dalam khayal.

[Bersambung, Insya Alloh…]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 25 March 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s