RSS

Ibunda Aisyah RA., Menjelaskan Gempa

18 Mar

Ibunda Aisyah RA., adalah tempat yang biasa dikunjungi para sahabat maupun Tabi’in untuk mencari ilmu dan bertanya tentang Islam. Anas bin Malik RA., mengunjungi Ummul Mukminin, Ibunda Aisyah RA., dan bertanya:

“Ibunda, terangkan padaku, mengapa gempa bisa terjadi? Apa penyebabnya?”


Ummul Mukminin menjawab:

“Gempa terjadi apabila maksiat telah merajalela dimana – mana. Zina sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Minuman keras telah menjadi konsumsi umum dan dosa besar tidak lagi dianggap luar biasa. Alloh pun memerintahkan: “Timpakan gempa pada mereka.”

Anas RA., kembali bertanya:

“Apakah merupakan azab bagi mereka?”

Ummul Mukminin menjawab:

“Tidak, namun merupakan rahmat dan peringatan bagi orang – orang yang beriman. Sementara bagi mereka yang ingkar adalah azab.”

Kembali para Kholifah fil ‘Ardh diberi peringatan dari-NYA lewat gempa, kali ini bukan langsung menimpa negeri ini namun dari belahan bumi lainnya. Khusnudzon pada Alloh SWT., adalah hal yang tersulit apabila peringatan-NYA yang keras datang pada kita, apalagi bila kita menjadi “objek” langsung tanda kasih sayang-NYA.

Tanpa harus membeberkan macam dosa apa saja yang terjadi di Negeri Nihonji, tetapi cukuplah penduduk negeri ini yang juga sering mengalami gempa mengambil pelajaran betapa semua yang ada di langit dan bumi adalah milik-NYA, betapa Alloh SWT., tidak pernah tinggal diam melihat hamba-hamba-NYA melakukan dosa, betapa Alloh SWT., tahu apa yang terbaik bagi para hamba-hamba-NYA, dan betapa Robbul ‘Aalamin memanglah Maha Kuasa atas segala belahan bumi ini.

Banyak – banyaklah bersyukur dan memuji-NYA, Ikhwanul Akhwat Fillah. Gempa dengan skala kekuatan yang hampir sama dengan yang menimpa Aceh, merontokkan kesombongan makhluk-NYA. Betapa banyak dari kita memuji desain dan konstruksi bangunan negeri Nihonji yang “hanya ikut bergoyang” tanpa hancur, tetapi sedikit kekuasaan ditunjukkan-NYA lagi dengan Tsunami setelah gempa terjadi.

Tidakkah kita lihat dari berbagai media massa bagaimana ketika Nihonji berpikir telah bisa “menaklukkan” gempa dan efeknya bahkan katanya telah bisa memprediksi gempa, Alloh SWT menaklukkan kesombongan makhluk-NYA dengan makhluk-NYA pula melalui Tsunami. Seketika itu pun mereka berdiam dan menggigit jari akan keterbatasannya di hadapan-NYA. Atau ingatkah cerita kapal Titanic? Kapal yang begitu disombongkan oleh para design engineernya sebagai kapal yang tidak akan tenggelam, nyata – nyatanya juga tenggelam dalam makhluk-NYA pula. Dapatkah kita menarik kesimpulan sementara?

“Alloh SWT tidak rela apabila makhluk-NYA menyombongkan dirinya di hadapan sesama makhluk-NYA, maupun di hadapan-NYA.”

Kembali ke kisah Anas RA., berguru kepada Ummul Mukminin Aisyah RA. Mengapa dosa besar bisa terjadi? Salah satunya adalah kita terbiasa melumrahkan dan memaklumkan dosa – dosa kecil. Ketika dosa sekecil apapun “dimubahkan” oleh kita, seakan – akan kita sedang meminum dosis kecil racun yang apabila terus menerus diminum maka tubuh akan menciptakan “sistem imunitas” dan “kekebalan” akan racun tersebut, bahkan menghasilkan auto antidot. Ketika kita telah “kebal” terhadap satu jenis racun, kembali kita akan mencoba jenis racun lainnya bahkan mungkin berani mencoba jenis racun lemah langsung dalam dosis besar.

Wahai Kholifah fil ‘Ardh. Merasa tenang setelah melakukan dosa adalah sebuah dosa pula, sadarkah? Begitu pula halnya ketika dengan tenangnya menceritakan sebuah dosa dengan cara apapun dan kepada siapapun adalah sebuah dosa juga, bahkan ampunan Alloh Al – Ghofur akan dosa tersebut akan terhapus. Mungkin kita baru akan tersadar apabila rambut ini mulai memutih, mata ini mulai rabun, badan ini mulai berubah dari bentuk Alif menjadi Dal, ataupun mungkin juga ketika kesayangan dan kebanggan kita diambil-NYA satu persatu, sampai sistem tubuh kita tidak mampu menawar racun akibat banyaknya beban racun yang harus ditawar. Naudzubillahi min dzaalik.

Ibnu Qoyyim berkata: “Alloh akan membencimu sebab dosa yang dilakukan sehingga engkau tidak dapat menanggungnya.”

Alloh SWT., berfirman:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Billahit Taufiq.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18 March 2011 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s