RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif bag. 2-2

10 Mar

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 2-2

Ustadz Armen Halim Naro

GERBANG HIDAYAH

[Sambungan dari “Untukmu Yang berjiwa Hanif bag. 2-1]

4. Muara Kebenaran

Para ulama mengatakan bahwa semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik atau buruk, amal sholih atau amal tholih dikuasai oleh satu komando, yaitu hati atau Qolbu. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus di bawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi SAW bersabda, “Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.(Muttafaq ‘Alaihi).

Hidupnya hati seseorang berarti pertanda ia telah memiliki modal untuk meraih segala kebaikan, sebagaimana mati dan gelapnya hati pertanda ia telah memiliki dasar semua keburukan. Maka, hati yang bisa merengkuh hidayah Alloh adalah hati yang terbuat dari dua unsur, pertama: hati itu masih dalam katagori hidup, dan kedua: Hati itu masih mempunyai cahaya, sekalipun redup. Dengan hidupnya hati berarti semua perangkatnya masih aktif, pendengaran dan penglihatan hati, malu dan jati dirinya, keberanian dan cintanya kepada kebaikan dan rasa bencinya kepada keburukan.

Bagai seorang montir yang sedang menyeleksi beberapa mesin rongsokan, ia hanya mengambil mesin yang dikira masih bisa aktif dan dapat dihidupkan kembali. Hati yang baik itu juga umpama magnit, semakin kuat kadar magnitnya maka akan semakin kuat pula hidayah melekat kepadanya. Berbeda dengan hati yang mati, sedikit demi sedikit ia telah meninggalkan unsur magnit, sebab maksiat yang sedang berproses pada hatinya telah merubah hati menjadi unsur lain yang tidak lagi dapat menarik hidayah, bahkan ia sama sekali tidak dapat mendeteksi dan mengenalinya.

Hati inilah yang menjadi kebahagiaan atau kesengsaraannya di dunia, begitu juga hati yang membuat akhir kehidupan hamba di dunia ditutup dengan husnul khatimah atau su’ul khatimah. Dari Abdullah bin Mas’ud , “Rosululloh telah bersabda, “Dan demi Dzat yang tidak berhak diibadati selainNya, sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan penduduk surga [dalam riwayat lain: yang nampak oleh manusia], sampai tidak ada jarak antaranya dengan surga kecuali tinggal satu hasta, kiranya kitab (taqdir) telah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan penduduk neraka, menyebabkan ia masuk ke dalamnya. Dan seseorang beramal dengan amalan penduduk neraka [dalam riwayat lain: yang nampak oleh manusia], sampai tidak ada jarak antaranya dengan neraka kecuali tinggal satu hasta, kiranya kitab (taqdir) telah mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amaian penduduk surga, hingga ia masuk ke dalamnya.” .(Muttafaq ‘Alaihi).

Ibnu Rajab berkata, “(Hadits ini) menunjukkan bahwa kadang kadang batin seseorang tidak sesuai dengan lahirnya. Su`ul khotimah terjadi disebabkan adanya dosa tersembunyi yang tidak terlihat oleh manusia, baik dari sisi amalan buruk maupun yang lainnya. Ketika kematian menjemputnya, sifat yang tersembunyi itulah yang membawanya kepada su’ul khatimah. Begitu juga seorang beramal dengan perbuatan penduduk neraka, pada akhir hidupnya sifat yang tersembunyi itu mengalahkan perbuatan buruk, yang menyebabkan ia memperoleh husnuI khatimah.

Ibnu Daqiq berkata, “Akan tetapi hal ini jarang terjadi. Sebaliknya yang sering terjadi perubahan manusia dari yang buruk kepada yang baik, hal itu merupakan bentuk kasih sayang Alloh dan menunjukkan Iuas bahtera rahmatNya. Jarang ditemukan kasus perubahan manusia dari yang baik kepada yang buruk, segala puji untukNya atas itu semua”.

5. Tunjukilah Aku Jalan yang Lurus!

Hajat seorang hamba kepada hidayah seperti hajat badan terhadap udara. Ketika hidayah jauh dari seorang hamba, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang akan segera menimpanya. Itulah do’a Nabi yang beliau berlakukan pada diri beliau, “Janganlah Engkau serahkan jiwa ini meskipun hanya sekejap mata kepadaku”. Imam Ahmad berkata, “Kebutuhan seorang hamba kepada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas”.14

Do’a hamba dalam sholatnya, “Ihdinashiroothol Mustaqiim” berilah kami hidayah! Jalan yang lurus, karena seorang hamba tidak bisa lepas dari hal ini. Berapa banyak perkara syariat yang ia tidak ketahui, sehingga ia memohon agarAlloh memberikan hidayah-Nya agar ditunjuki yang haq.

Berapa kali pula ia mengetahui jalan hidayah, akan tetapi sebanyak itu pula ia tunaikan tidak dengan cara dan metode yang benar, sehingga ia memohon agar dituntun kepada hidayah taubat dan pengampunan dari segala kelalaian. Berapa banyak pula ia tidak mengetahui seluk-beluk hidayah, dalam segi ilmu dan pengamalan, sehingga ia membutuhkan anugerah Alloh untuk ditunjuki maksud dan tujuannya.

Berapa kali ia telah melangkah di atas kebenaran, akan tetapi berapa banyak pula kebenaran yang belum ia tahu, makanya ia selalu memohon agar hidayah disempurnakan untuknya. Berapa banyak pula ia mengetahui hidayah secara global dan sekarang ia membutuhkan syarah dan rinciannya. Berapa banyak seorang hamba telah mengetahui jalan kebenaran, tetapi ia membutuhkan detail perjalanannya menuju hidayah.

Sekarang seorang hamba telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar, dan sekarang ia membutuhkan petunjuk untuk berjalan di atas jalan kebenaran itu. Karena hidayah menuju sebuah jalan adalah satu permasalahan tersendiri sebagaimana hidayah dalam menjalani perjalanan itu permasalahan lain lagi.

Tahukah tuan, ketika seseorang menunjukkan jalan yang harus tuan lintasi, ketika tuan bertanya tentang jalan menuju sebuah kampung yang jauh di pelosok, tentu tuan tidak mencukupkan dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi tuan akan meminta petunjuk tentang perjalanan menuju perkampungan tersebut. Berkendaraan apa ? Apakah di tengah jalan ada tempat persinggahan? Manakah yang lebih baik, perjalanan pada malam hari atau pada siang hari ? Pantangan apa yang harus dijauhi? Bagaimana jalannya, apakah banyak ranjau atau berbatu? Mengetahui arah jalan itulah hidayah umum, sedangkan mengetahui perincian perjalanan menuju perkampungan tersebut adalah hidayah khusus.

Berapa banyak pula seseorang telah diberi hidayah pada waktu yang lalu, sekarang ia juga membutuhkan hidayah untuk masa-masa yang akan datang, agar Alloh selalu tetapkan dirinya di atas kebenaran, agar ia selalu istiqamah juga di atas yang haq. Ibnu Rajab, berkata: “Sesungguhnya hidayah itu terbagi dua; Hidayah umum yaitu hidayah Islam dan iman, hal itu telah diperoleh oleh seorang mukmin. (yang kedua) hidayah khusus yaitu hidayah tentang pemahamannya terhadap rincian bagian-bagian Islam, serta bantuan Alloh dalam memahamkan kepadanya. Seorang mukmin sangat memerlukanya selalu, oleh karena itu Alloh memerintahkan hambaNya untuk membaca ” اھدنَِاالصرِّاَطَالمُستقَیِمَ “setiap raka’at dalam sholat. Nabi SAW., selalu berucap dalam doa malamnya, “Berilah aku hidayah kebenaran pada setiap yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau member petunjuk jalan yang lurus kepada orang yang Engkau kehendaki.” Maka ketika searang bersin, ia dido’akan dengan ucapan, “YarhamukAlloh (semoga Alloh merahmatimu)”, lulu ia membalasnya dengan ucapan, “Yahdikumullah“, (semogaAlloh memberi petunjukmu), sebagaimana yang telah diterangkan oleh sunnah tentang hal itu.

6. Jadilah Lentera!

Orang yang merasakan manisnya hidayah dan lezatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak akan puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Perumpamaannya bagaikan lentera, yang memberi penerangan buat dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Alloh SWT., berfirman:

“Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya?” (Q.S. Al – An’am (6): 122)

Permisalannya sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi SAW., umpama danau luas yang menerima air, air disimpan dalam perutnya untuk minum manusia dan temak, la juga memberi penghidupan untuk tanaman dan pepohonan sekitarnya. Banyak kelompok pergerakan maupun jama’ah dakwah yang mengkarbit jama’ahnya untuk menjadi da’i, dalam hitungan waktu telah keluar da’i-da’i baru yang mayoritas kosong dari ilmu dan jauh dan hikmah. Mereka lebih dekat kepada kebodohan dari pada ilmu dan pengetahuan, seharusnya menjadi seorang jama’ah lebih layak dari pada menjadi seorang da’i. Akan tetapi karena jama’ah dan pergerakannya membutuhkan orang-orang yang menghidupkan pemahaman, maka dilakukan pengkarbitan tadi, maka apa yang ia rusakkan lebih banyak dari pada yang ia perbaiki.

Berbeda dengan salaf, memang jumlah da’inya tidak seberapa, kadang-kadang dalam satu kota hanya terdapat satu atau dua da’i, bahkan kadang-kadang beberapa wilayah dipegang oleh satu da’i. Akan tetapi, setiap individu yang telah merasakan ajaran kebenaran ini, kiranya telah menjadi mesin pencetak orang-orang yang semisalnya. Setiap minggu ada saja orang yang ia bawa untuk datang ke pengajian, atau minimal pengajian yang telah ia terima malam itu telah ia sampaikan pula kepada orang-orang di sekitarnya.

Adalah para sahabat dahulu, juga merupakan da’i-da’i yang disiapkan oleh Nabi, seperti Muadz bin Jabal, Mush’ ab bin Umair, Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Mas’ud , akan tetapi mereka bukanlah da’i karbitan. Jumlah da’i-da’i itu memang tidak banyak, hanya saja setiap individu sahabat adalah lentera dan secara tidak Iangsung telah menjadi da’i yang mengajak kepada kebenaran sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Mereka tidak tahan melihat saudaranya dalam kesesatan, sedangkan ia dalam kenikmatan iman.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jubair bin Nufair, “Suatu ketika kami duduk bersama Miqdad bin Aswad , tiba-tiba seseorang lewat dan berkata, “Berbahagialah bagi kedua mata tersebut yang telah melihat Rosululloh , betapa kami berangan-angan agar kami dapat melihat apa yang pernah engkau Iihat, dan kami dapat menyaksikan apa yang telah engkau saksikan.” Tiba-tiba Miqdad marah sehingga membuatku terkejut karena tidak ada yang salah dari ucapannya. Lalu ia memandang orang tersebut sambil berkata, “Apa yang membuat seseorang berangan-angan kepada sesuatu yang telah Alloh ghaibkan darinya, sekiranya ia ikut menyaksikan tentu ia tidak tahu apa yang seharusnya ia perbuat. Demi Alloh, telah banyak yang menyaksikan Rosululloh akan tetapi membuat mereka terjerumuskan dalam api neraka, karena mereka tidak memenuhi seruannya dan tidak membenarkannya. Atau selama ini kalian tidak bersyukur kepada Alloh yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, tidak mengenal kecuali Rabb kalian dan membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi, bala telah dijauhkan! Sungguh Nabi diutus pada masa jahiliah masa genting, dalam pemahaman mereka tidak ada agama yang lebih baik dari pada penyembahan berhala Ialu beliau datang membawa Alfurqan (pembeda) antara yang hak dengan yang batil, memisahkan antara anak dengan ayahnya. Sampai seseorang tidak senang hatinya mendapati ayah atau anak atau saudaranya dalam kekafiran, sedangkan hatinya telah dibukakan untuk menerima iman, dan ia mengetahui sekali mereka yang ia cintai pasti akan masuk neraka.

Begitulah gambaran kecintaan sahabat kepada keluarga dan kerabatnya dalam memberi hidayah, tidak tenang hati mereka kecuali dengan memberi hidayah kepada orang lain, merekalah lentera kebenaran yang sebenarnya!! Tugas yang termulia bagi seorang muslim setelah ia memperoleh hidayah adalah mengajak orang lain kepadanya, karena dengan cara begitu hidayah akan kekal pada dirinya. Bukankah “AI jaza-u min jinsil ‘amal?!” Ganjaran sesuai dengan jenis usaha, kalau hari ini ia telah memberi hidayah kepada orang lain, maka Alloh akan menganugerahkan kepadanya ganjaran yang serupa yaitu dengan memantapkan hatinya dalam hidayah, sebagaimana dalam doa Nabi SAW., “Ya Alloh, hiasilah kami dengan hiasan iman, jadikanlah kami pemberi petunjuk untuk manusia yang telah Engkau beri hidayah, tidak sesat dan menyesatkan, berdamai dengan wali-waliMu, memasang permusuhan dengan musuh-musuhMu, mencintai orang yang mencintai atas nama cintaMu, dan memusuhi orang yang menyelisihiMu karena permusuhan atas-Mu”. (HR Ahmad dan Nasa-i)

Alloh memuji hamba mukmin yang memohon agar dijadikan pemimpin yang diberi hidayah, Alloh SWT., berfirman:

“Dan orang-orang yang berkata “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al – Furqon (25): 74)

Ibnu Abbas berkata, “Meniru kami dan mengambil hidayah dari kami dalam hal kebaikan.” Hasan Bashri berkata, “Tidak ada yang lebih menyejukkan hati seorang muslim, melihat anak atau cucunya atau sejawatnya berbuat ketaatan kepada Alloh.” Makhul berkata, “Jadikan kami sebagai imam dalam taqwa, (sehingga) orang-orang bertaqwa mengikut kepada kami.” Mujahid berkata “Jadikanlah kami makmum orang-orang yang bertaqwa, meneladani mereka.”

Sebagian orang yang tidak mengerti pemahaman dan kedalaman ilmu salaf, merasa sulit memahami tafsiran ini. Mereka berkata, “Berdasarkan tafsiran ini, susunan ayat menjadi terbalik, sehingga bermakna, “Jadikanlah orang-orang yang bertaqwa pemimpin kami”, kita tentu berlindung dari menafsirkan ayat dalam susunan yang terbalik. Penafsiran Mujahid ini menynjukkan kesempurnaan ilmu beliau, karena tidak mungkin seseorang menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa, sampai ia mengikuti orang – orang yang bertaqwa. Maksudnya beliau ingin menegaskan bahwa kemuliaan ini mereka peroleh dengan mengikut ajaran salaf. Barangsiapa yang menjadikan Ahlussunnah sebagai panutannya, niscaya orang-orang semasanya dan setelahnya akan menjadikan dirinya sebagai panutan.

Dalam ayat ini ada sebuah rahasia, yaitu kenapa kata imam pada ayat tersebut dengan lafadz mufrad, tidak dengan lafadz jama’, “waj’alna Iil muttaqiina imaman” – tidak “a-immatan.” Sebagian mengatakan bahwa lafadz imam adalah dengan mufrad akan tetapi maksudnya jamak, sebagaimana yang dikatakan oleh Farra’. Akan tetapi jawaban yang terbaik adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu di jalan yang satu, ma’bud (Dzat yang diibadati) yang satu, pengikut kitab yang satu, nabi yang satu, hamba dari Robb yang satu, agama mereka satu, seakan-akan mereka bagaikan imam yang satu, tidak seperti para imam yang lain- setiap mereka berselisih, maka berbeda pula ajaran, mazhab dan aqidah mereka.

[Bersambung. Insya Alloh…]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 March 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s