RSS

Hati yang Diterangi

25 Feb

Dari Aisyah RA., Rosululloh SAW., bersabda: “Yang paling dibenci oleh Alloh adalah seseorang yang suka menentang lagi suka membantah.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Assalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puji dan rasa syukur sudah sepantasnya kita haturkan kepada Alloh SWT., – Robbul ‘Alamin, kita masih diberi-NYA nikmat Iman, Islam dan kesehatan yang menjadi modal utama untuk menjadikan segala aspek hidup ini dalam rangka ibadah pada-NYA. Sholawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurah juga pada Uswah Hasanah – Rosululloh SAW., yang telah membawa kita dari kegelapan ke cahaya terang Islam, juga sebagai penyempurna akhlak.

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Hadits di awal artikel ini yang datang dari Ibunda Aisyah RA., adalah tentang salah satu sifat Bani Adam yaitu menentang dan membantah. Jikalau kita ditanyakan manakah yang menjadi komandan hidup kita? Akal atau Hati? Sesungguhnya Akal akan selalu berhitung – hitung akan untung – rugi, suka/ tidak suka, enak/ tidak enak, mau/ tidak mau ketika sesuatu terlintas di pikiran kita. Bagaimana dengan hati? Ada suatu peribahasa bahwa bahasa Qolbu adalah bahasa yang tidak pernah bisa berbohong. Hati akan selalu jujur terlepas kondisi hati itu sedang keruh ataupun sedang terang.

Hati adalah supir, sedangkan Akal adalah kemudi hidup. Jika kita mau sedikir merenungi mengapa ada dalam langkah hidup ini yang melenceng ataupun kegagalan menerpa, tanyakanlah pada akal, apakah sudah mengarahkan kemudi ke jalur yang benar? Lalu tanyakanlah hati, apakah pilihan ini yang memang kita inginkan? Tunggu, apakah keinginan hati itu sesuai fitrohnya layaknya Ruh yang ingin selalu berbakti dan kembali pada-NYA? Sungguh luar biasa apabila hati ini selalu dalam ketaatan akan perintah-NYA, seakan tiada celah bagi keturunan Iblis laknatulloh untuk menggoda dan menggoyahkan keimanan ini.

“Minadz Dzulumati Ilan Nuur.”

Namun akuilah, kondisi hati ini layaknya pasang surut air laut ketika bulan Purnama tiba. Air laut selalu dalam kondisi pasang ketika bulan Purnama bersinar terang karena kondisi yang sedang berada di dekat bumi, karena daya tarik gravitasi bulan pada air laut yang ada di bumi. Bagaimana dengan hati ini? Layaknya kondisi air laut tadi, hati yang selalu diterangi cahaya-NYA yang Haqq akan berada di dalam kondisi teratas keimanan, sedangkan hati yang tidak diterangi cahaya keimanan layaknya bumi yang gelap gulita tanpa adanya penerangan cahaya bulan di waktu malam hari.

Ketika risalah berupa ayat – ayat dan tanda – tanda kebesaran-NYA itu datang ke diri kita, sesungguhnya saat itulah hati sedang diterangi oleh-NYA, akan keberadaan-NYA, akan kasih sayang-NYA yang Subhanalloh sangat luar biasa. Ketika cahaya itu datang, hanya ada 2 pilihan bagi hati; menjemputnya atau meninggalkannya. Apa yang akan kita lakukan ketika berada di lorong panjang gelap gulita? Bukankah kita akan memilih ke arah cahaya biarpun hanya setitik cahaya terang yang berada di ujung sana? Sungguhlah aneh apabila kita membiarkan diri ini berada dalam kegelapan lorong itu, bahkan akal kita menyukai berada dalam lorong kegelapan.

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati & penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al – Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat.” (Q.S. Al – An’am (6): 110)

Apa yang terjadi ketika malam hari tiada cahaya bulan sebagai penerang? Layaknya saudara kita yang buta tanpa tongkat, meraba – raba kesana kemari mencari arah yang benar, ataupun menunggu kita yang diberi-NYA nikmat berupa penglihatan yang akan menuntun mereka ke arah yang benar.

“Maka sesungguhnya bukanlah mata mereka itu yang buta, akan tetapi yang buta itu ialah mata hati dari mereka yang ada di dalam dada.” (Q.S. Al – Hajj (22): 46)

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Beranikah kita berhitung betapa banyaknya karunia maupun tanda-NYA bagi diri kita sampai umur hidup kita ini? Tengoklah para orang – orang berumur yang masih belum mau tunduk juga pada-NYA di langkah – langkah terakhir nikmat hidupnya, tengoklah para muslimah yang semakin mendekati liang Lahat masih belum mau berhijab. Apakah masih berani berkata hidayah-NYA belum datang padanya? Belum datang atau tidak mau menjemputnya? Tidaklah perlu menjadi orang – orang yang berpendidikan tinggi untuk mengambil Ibroh (pelajaran) dalam berbagai tantangan dan cobaan hidup yang menerpa. Namun kembali pada pertanyaan berikutnya, apakah kita ini tahu dan sadar bahwa sesungguhnya kita ini bergantung pada-NYA? Segala yang ada di bumi dan langit selalu memohon kepada-NYA, setiap waktu DIA berada dalam kesibukan akan permohonan hamba – hamba-NYA. Apakah kita ini langsung tiba – tiba ada di dunia ini? Apakah begitu bebalnya diri ini seakan – akan tidak akan pernah terjadi kematian dan kiamat itu? Segala sesuatu yang ada di bumi ini akan binasa, namun Alloh SWT., -lah yang tetap kekal dengan kemuliaan-NYA.

Katakanlah: “Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang – orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Az Zumar (39): 9)

Begitu pula dalam ayat lainnya dalam Al – Qur’anul Kariim:

“Hanya orang – orang yang mau berpikir yang dapat mengambil hikmah.” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 269)

Mungkin, kali ini kita sering melupakan hal yang dapat memutus kenikmatan. Mungkin hati ini dalam kegelapan yang kita pilih sendiri. Mungkin kita banyak tertawa dan menertawakan hidup ini, bahkan begitu cintanya kita akan keduniaan. Kita harus bergerak pada-NYA, pada jalan-NYA yang telah dicontohkan Habibulloh Muhammad SAW., malu adalah sebagian dari ke-Iman-an ini. Malulah pada-NYA, yang memiliki Asmaul Husna Ash – Shobuur Maha Penyabar, yang selalu bersabar melihat kebathilan dan kejahiliyahan yang dilakukan makhluk-NYA yang pernah bersaksi dan pernah mengimani-NYA sebagai Robbnya.

“Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Q.S. Adz – Dzariyat (51): 50)

“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S. An – Naazi’at (79): 34 – 41)

Ketika cahaya kebenaran-NYA yang Haqq datang, jemputlah, datangilah, mendekatlah pada cahaya-NYA itu. Alloh SWT., telah memberi kita sebutan Muslim, orang – orang yang berserah diri, orang – orang yang akan selamat akan Murka-NYA, karena ampunan Alloh SWT., mendahului murka-NYA. Cahaya-NYA yang Haqq itu tidak pernah padam.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu-lah orang – orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang – orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imron (3): 139)

Wabillaahit Taufiq. Wallohu A’lam.

Wassalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 25 February 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s