RSS

Tuntunan Mendidik Anak

23 Feb

[Kado untuk kelahiran anakmu, Saudaraku. Afwan jika telat lagi]

Zaman ini banyak orangtua yang merasa gagal dalam mendidik anak – anaknya, bahkan sampai berpikir kehabisan akal untuk menuntun anak – anaknya menjadi anak yang sholeh – sholehah. Akuilah oleh kita sendiri karena kita yang telah menjadi orangtua pun pernah mendapatkan diri ini tidak seperti yang diharapkan kedua orangtua kita. Jika kita menyadari betapa besarnya amanah-NYA yang dititipkan kepada kita yang tidak diberikan kepada yang lain, niscaya kita tidak akan main – main ataupun mendzolimi amanah yang satu ini.

Tetapi mungkin ada beberapa diantara kita yang memang menginginkan anaknya sukses dunia wal akhirat, langsung berpikir bahwa anak harus selalu mendapatkan yang terbaik. Pengertian terbaik disini bukanlah semata – mata menyekolahkan ke sekolah mahal, pakaian yang bagus dan mahal, ataupun mendatangkan ustadz/ ustadzah untuk mendidik Dien anak kita. Hal ini nyatanya tidak bisa langsung dibenarkan, karena sebaik apapun yang kita berikan kepada mereka seperti yang disebutkan sebelumnya, tanggungjawab itu ada pada kita bukan pada guru pendidikan formal ataupun ustadz.

“Tiap – tiap anak dilahirkan menurut fithroh. Maka kedua orangtuanya-lah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Bukhori)

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak kita. Peran orangtua terutama para Ibu, adalah sangat vital sebagai madrasah pertama pendidikan anak, karena sudah sejatinya para anak keturunan kita ini lebih mengenal dan mendapat pendidikan awal dari orangtua terutama Ibunya, bukan dari pembantunya. Seorang ulama, Abdurrohman An-Nahwi dalam kitabnya Ushulat Tarbiyyatul Wa Asalibuha, mengemukakan beberapa tuntunan dalam mendidik anak.

1.        Hiwar (Dialog)

Bahasa orangtua terutama bahasa Ibu (mother language) adalah bahasa pertama yang dikenal oleh anak kita. Lebih mudah anak mencerna apa yang lebih sering mereka terima, lebih teringat, lebih berkesan dan dengan hiwar inilah orangtua bisa menilai sejauh mana daya tangkap dan intelejensia anak.

Jika kita mau berkaca pada Rosul SAW., dalam menyampaikan risalah Dienulloh, Rosul SAW., lebih memilih untuk duduk bersama dalam majelis dan berbicara daripada berdiri dalam mimbar layaknya sholat Jum’at. Rosul SAW., pun tidak segan – segan menggendong dan berbicara kepada kedua cucunya Hasan dan Husein RA., sesekali mencium mereka, bahkan Rosul SAW,. belum bangun dari sujudnya ketika cucunya naik ke punggung beliau sampai cucunya turun sendiri, dengan maksud hak cucunya ada pada beliau juga. Dalam dialog pun tidak masalah jika memakai alat bantu peraga, layaknya guru fisika membawa bola dunia untuk menunjukkan bentuk bola dunia.

Siapkah kita untuk pertanyaan anak – anak kita akan Robb-NYA? Siapakah Robb mereka? Dimanakah Robb mereka?

2.        Kisah Cerita

Seperti halnya dialog, imajinasi anak sedang berkembang ketika bahasa baru dipakai kedua orangtuanya. Banyak sekali cerita kaum Salaf di 3 generasi terbaik ummat yang bisa menjadi bahan cerita. Beberapa cerita seperti bagaimana Salman Al Farisi yang mencari kekasihnya Rosul SAW.,  cerita bagaimana kisah Qurban yang dilakoni Ibrohim dan ismail AS., cerita bagaimana Nabi Sulaiman AS., yang berbicara kepada semut dan burung Hud Hud,  cerita bagaimana banjir terbesar pertama pada zaman Nabi Nuh AS., cerita Fir’aun yang menjadi mumi awet karena tenggelam di laut Merah.

Siapkah kita untuk menyampaikan kisah bagaimana jihad dakwah Rosul SAW?

3.        Perumpamaan

Alloh SWT., banyak sekali menjadikan makhluk-NYA sebagai perumpamaan bahkan sebagai nama surat dalam Al – Qur’an. Sapi betina, semut, laba – laba, besi, gajah, bahkan orang – orang Romawi. Masa dimana anak mulai bertanya adalah masa – masa yang tidak boleh dilewatkan dalam pendidikan mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rosul SAW., pernah bertanya pada para sahabat bagaimana pendapat mereka jika kita memakan daging saudaranya sendiri? Ingatkah ayat yang memakai perumpamaan ini?

Bisa dicoba dengan pertanyaan sederhana, bagaimana pendapat anak – anak kita akan anak yang rajin sholat, tadarus, belajar dan membantu orangtuanya? Apakah Ayah Ibunya akan sayang kepadanya?

4.        Keteladanan

“Like Father like Son.” Perumpamaan ini amatlah tepat. Perilaku orangtua adalah bahan ingatan yang sangat baik bagi anak – anak. Seperti halnya spons yang menyerap air, mereka akan menyerap bahkan tanpa filter untuk contoh yang sering mereka lihat. Tentulah anak kita harus menjadi “peniru” yang baik dari contoh yang baik. Jangan pernah melupakan bahwa Rosul SAW., adalah suri tauladan yang baik, bahkan Aisyah RA., menyebutkan akhlak Rosul SAW adalah akhlak Al – Qur’an, layaknya Al – Qur’an yang berjalan.

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Bukhori)

Tidakkah kita akan amat menyesali ketika anak kita tidak sholat dan mereka memberikan alasan bahwa orangtuanya tidak sholat?

5.        Latihan dan Pengamatan

Anak yang sholeh bukanlah anak yang sekedar berdo’a untuk ampunan dan kesejahteraan kedua orangtuanya, tapi anak berusaha secara maksimal melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan hariannya. Anak sudah harus dimulai dan dilatih untuk sholat ketika umur 7 tahun dalam hidupnya, didiklah anak perempuan untuk berhijab sejak dini, ajarkanlah mereka untuk bersedekah kepada fakir miskin biarpun duitnya berasal dari kita, ajaklah mereka untuk melihat bagaimana kehidupan anak jalanan yang tidak seberuntung mereka, ajarkanlah mereka untuk membuang sampah pada tempatnya, bangunkanlah mereka ketika waktu santap sahur, ajarkanlah mereka untuk memberi makan hewan dan merawat tanaman dengan berkebun.

Tanpa latihan dan pengamatan juga pengamalan, tentunya mereka akan menjadi kaku dalam beramal sholeh. Ingatlah akan masa – masa ketika kelak mereka jauh dari kita, apakah mereka menunggu telpon atau sms dari kita untuk bangun sholat shubuh?

6.        Ibroh dan Mauizhah

Sesuatu yang pernah terjadi dalam diri manusia adalah merupakan memori sekaligus Ibroh (hikmah) yang bisa diambil dalam langkah hidup selanjutnya. Mengambil hikmah dan pembelajaran juga bisa diambil dari lingkungan dan makhluk sekita kita. Firman Alloh SWT., dalam Qur’an:

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar – benar terdapat pelajaran bagi kalian, Kami memberi mereka minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih diantara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang – orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan anggur, kalian buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran) Alloh bagi orang yang memikirkan.” (Q.S. An – Nahl (16): 66 – 67)

Apabila orangtuan telah mampu memberikan hikmah pengajaran akan yang mereka alami dan temui, mudahlah kiranya untuk memberikan mauizhah (nasihat) untuk yang mereka alami dan temui.

Sudahkah kita menceritakan bagaimana semut yang dapat mengangkut benda yang beratnya 10 kali berat tubuhnya? Ataupun bagaimana semut pun bergotong royong membersihkan sisa – sisa makanan untuk menjadi bahan makanannya? Ataupun bagaimana lebah mengeluarkan minuman yang berwarna – warni dari perutnya yang berguna bagi kita?

7.        Targhib dan Tarhib

Targhib adalah janji – janji yang menyenangkan akan hal kebaikan, sedangkan adalah sebaliknya. Sebagai orangtua, sadarilah bahwa kita pernah “mengancam” ataupun menakut – nakuti anak kita ketika mereka menghancurkan benda/ perhiasan di dalam rumah, tetapi ancaman itu adalah dengan redaksional yang kira – kira seperti ini; “bagaimana jika Ayahmu tahu? Bagaimana kalau Ibumu tahu? Ancaman duniawi versi barat ini kerap kita temui, ancaman terhadap yang kongkrit/ nyata saja. Pernahkah kita mengingatkan mereka bagaimana Alloh SWT akan marah kepada mereka jika mereka tidak sholat?

Tidaklah mengapa jika anak dijanjikan akan “salam tempel” ketika mereka sukses belajar shoum Romadhon. Jika memungkinkan, janji/ ancaman ini merupakan hal yang tidak perlu ataupun menjadi pilihan terakhir untuk mendidik. Terlalu banyak memberi janji yang baik bahkan bersifat materi, akan membawa anak kepada sifat konsumtif. Ketakutan hanya akan melupakan sifat harap dan cinta anak – anak kita pada-NYA dalam sendi ibadah.

Dari sekian tuntunan yang ada. Hendaknya para orangtua dapat kembali merevisi dalam langkah mendidik dan menuntun keturunan amanah-NYA. Tidaklah mungkin mewujudkan lingkungan keluarga Sakinah Mawadah wa Rohmah, jika dakwah dikesampingkan. Selain itu, tantangan terbesar saat ini adalah teknologi sebagai dua sisi mata uang efek globalisasi, yang menuntut para orangtua untuk “lebih pintar” daripada anak agar tidak kecolongan.

Jikalau memang tuntunan Islam tidak diikuti, apalah jaminan yang dapat membuat keturunan kita menjadi penerus risalah Tauhid yang mulia ini? Kenakalan anak? Atau kenakalan orangtua?

“Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri – isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang – orang yang bertakwa. (Q.S. Al – Furqon (25): 74)

Wallohu A’lam bish Showwab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 23 February 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s