RSS

Syahadat (yang) Terlupakan

15 Feb

وَ يَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰـۤئُو لاَۤ ءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ﭐلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْ ءٍ وَهُدًى وَرَ حْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap – tiap ummat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh ummat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al – Kitab (Al – Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang – orang yang berserah diri.” (Q.S. An – Nahl (16): 89)

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِ لَـهَ إِلاَّ ﭐللهُ

Assalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillah wa Syukurillaah, kita masih diberi-NYA kenikmatan Iman, Islam dan kesehatan sampai saat ini. Alloohumma Sholli ‘Alaa Muhammad, wa ‘Alaa Aali Muhammad. Tidaklah Rosululloh Muhammad SAW., diutus-NYA melainkan untuk menjadi rohmat bagi sekalian alam.

Perbedaan yang teramat jelas yang membedakan ummat Muhammad SAW., yang disebut oleh Alloh SWT., sebagai Khoiru Ummat (Ummat Terbaik) dengan ummat lainnya adalah pengakuan 2 kalimat syahadat; pengakuan bahwa tiada sesembahan yang sebenar – benarnya berhak disembah melainkan Alloh SWT dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW., adalah Rosul-NYA. Dalam Islam, 2 kalimat syahadat ini merupakan Rukun Islam yang pertama; sebagai syarat syah identitas ke-Islaman kita.

Namun, apakah cukup dengan syahadat? Mengapa syareat menyebutkan bahwa syahadat sebagai rukun Islam yang pertama? Jika kita melihat KTP, kartu keluarga ataupun SIM kita, entah berada di urutan berapa data identitas ke-Islaman kita tercantum. Alloh SWT., yang bersemayam di atas ‘Arsy-NYA, tentu mempunyai alasan untuk hal ini. Ilmu tentang ke-Tauhidan berasal dari hikmah dan pengetahuan atas siapakah Ilah (sesembahan) yang sebenar – benarnya dan berhak disembah selain-NYA. Nabi Ibrohim Al – Kholil, seperti diceritakan dalam Q.S. Al – An’am mencari sendiri Robb-NYA sampai sempat menganggap matahari, bulan dan bintang sebagai Robb-NYA.

Banyak – banyaklah bersyukur dan menyebut nama-NYA yang Agung, kita tidak perlu mengalami “perjalanan spiritual” dalam mencari Robb yang Haqq seperti Nabi Ibrohim AS., maupun saudara kita para muallaf, yang dengan kasih sayang dan petunjuk-NYA dibukakan mata hatinya untuk mengakui keberadaan Alloh SWT sebagai Robbnya. Tetapi, bagaimanakah wujud rasa syukur kita semua yang tidak perlu mengalami “perjalanan spiritual”, sebagai hamba-NYA yang sering dibandingkan sebagai Islam karena kedua orang tua kita Islam?

Di Jepang, sangat terkenal cerita para kaum samurai yang memegang teguh semangat bushido sampai rela seppuku/ harakiri merobek perutnya sendiri dengan kodachi (pedang kecil pendek) jika kalah dalam peperangan demi membela kehormatan Tuannya. Begitupun halnya dengan para Ronin (samurai tak bertuan) yang juga berprinsip harus seppuku/ harakiri untuk menjaga kehormatannya jika kalah dalam pertempuran. Begitu tingginya arti kehormatan bagi mereka, padahal (mungkin) tadinya mereka hanyalah anak petani yang menjaga dan mengurusi lahan pertanian milik Tuannya, ataupun awalnya hanya seorang penjaga kuda kesayangan Tuannya, ataupun awalnya hanya seorang tukang masak. Begitu patuh dan setianya mereka dalam menjunjung tinggi bendera klan Tuannya, biarpun mereka hanyalah akan tetap menjadi pesuruh dan tidak pernah menjadi Tuan.

Kembali pada kita yang disebut Alloh SWT., sebagai Khoiru Ummat. Tidakkah kita mengakui dan menyadari bahwa Dien Alloh SWT., dan risalah Rosul-NYA sebagai yang utama dalam hati ini? Tentunya jika hasil implementasi 2 kalimat syahadat kita terapkan dengan baik, tidak mungkin ummat Islam saat ini hanya seperti buih di lautan yang terombang – ambing oleh globalisasi dan budaya yang mengagung – agungkan kebebasan, kecantikan, kekayaan. Apakah saat ini kita semua lupa bahwa kita adalah Kholifah (wakil – pemelihara) Alloh SWT., di dunia ini, sungguh berat amanat dan sungguh elite title jabatan ummat ini sampai – sampai gunung yang terlihat kokoh-pun enggan menerimanya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِ لَـهَ إِلاَّ ﭐللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً ﭐلرَّسُولُ ﭐللهُ

Sangat gampang sekali lafal 2 kalimat di atas. Tapi apakah semudah dalam menerapkan kalimat pengakuan ini? seringkali kita merasa lemah dan tidak sanggup bila dalam keadaan futur iman dan kesehatan, ataupun bahkan ketika kondisi badan sedang fit. “Laqod kholaqnal insaana fi ahsanit taqwiim – Sungguh benar – benar telah Aku ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna.” Inilah yang sering kita lupakan, bahwa kita telah diciptakan oleh Alloh SWT., dalam bentuk yang paling sempurna, namun akuilah kita sering menjadikan aspek “suka tidak suka, ingat tidak ingat, mau tidak mau” ketika nafsu mulai menjadi kemudi hati dan otak. Allohu Aliimun, Alloh Maha Tahu, saudaraku.

Absolute Moslem – Islam Kaffah.

Kaffah (paripurna)-nya ke-Islaman seorang hamba bukanlah terlihat dari kerasnya mengucapkan takbir atau 2 kalimat syahadat ini, namun akan terlihat dari bentuk amal ibadah dan perilaku sehari – hari baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Ketika seorang muslim wal muslimah berperilaku, tentunya harus sadar bahwa ayat – ayat Alloh SWT., sebagai rambu – rambu ada dimana – mana, bukan hanya yang ada di dalam Al – Qur’an. Apakah kita sering tidak sadar atau menafikan akan keberadaan ayat – ayat Alloh yang bertebaran dimana – mana? Atau hanya ingat keberadaan dan kasih sayang Alloh SWT ketika kesusahan, kesempitan, sakit? Naudzu billaaahi min dzaalik, dimanakah Alloh kita tempatkan ketika kebathilan dan kejahiliyahan kita lakukan?

Dengan kesadaran akan adanya Alloh SWT kita akan merasa diawasi dan adanya ketergantungan antara hamba dengan Robb-NYA, dengan kesadaran adanya tuntunan Rosul-NYA kita akan merasa terarah dalam menjalani hidup dengan ibadah. Ingatlah telah ditinggalkan 2 perkara yang kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya; yaitu Al – Qur’an dan Sunnah Rosul SAW.

Tidakkah kita pernah terlintas berpikir; mengapa kita percaya akan Alloh sebagai Illah kita dan Muhammad SAW., sebagai uswah hasanah tetapi kita malah bertindak dan berperilaku seperti orang – orang kafir? Mengapa kita percaya akan kematian dan hari pembalasan, tetapi malah senang tertawa – tawa yang dapat mengeraskan hati? Mengapa kita percaya bahwa dunia ini fana tetapi kita malah menumpuk dunia? Mengapa kita percaya bahwa Al – Qur’an itu datangnya dari Alloh SWT tetapi kita tidak menerapkan isinya? Mengapa kita yang bersuci dengan air wudhu tetapi malah keruh dan jauh dari-NYA? Mengapa kita yang percaya bahwa Alloh SWT., adalah sebaik – baik penilai dan penghukum tetapi kita malah menilai dan menghukum saudara kita bukan berdasarkan hukum-NYA? Mengapa kita mengaku sebagai orang berpendidikan tetapi melakukan  kebathilan dan kejahiliyahan?

“Mengapa kita yang mengakui tiada sesembahan yang sebenar – benarnya berhak disembah selain ALLOH SWT., dan Muhammad SAW., sebagai Rosul-NYA – Laa Nabiyyal Ba’da, tetapi malah mendzolimi diri sendiri dan melepaskan hak kita akan Jannah-NYA?”

Marilah kita perbaiki kualitas arti syahadat kita dan mengimplementasikannya dalam segala aspek kehidupan ini. Tidaklah mengherankan mengapa dalam sholat fardhu kita dituntunkan untuk membaca 2 kalimat syahadat dalam tiap duduk tasyahud, yang akan mengingatkan kita akan pengakuan syahadat kita, juga untuk memperbaiki arti syahadat kita. Insya Alloh. Wallohu A’lam bish Showab.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 15 February 2011 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s