RSS

Prinsip Beramal Sholeh

10 Feb

لَقَدْ خَلَقْنَا ﭐ ْلإِنْسَـٰنَ فِىۤ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَـٰفِلِينَ (٥) إِلاَّ ﭐلَّذِينَ ءَامَنُواْوَعَمِلُواْ ﭐلصَّـٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah – rendahnya (neraka), kecuali yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus – putusnya.” (Q.S. At – Tiin (95): 4 – 6)

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Alhamdulillaah wa Syukurillah, kita masih diberi kesempatan oleh-NYA untuk bertemu hari Jum’at ini, hari yang di beberapa hadits disebutkan sebagai hari terjadinya kiamat kelak. Semoga dengan nikmat ini semakin menambah rasa syukur dan keimanan kita pada Alloh Azza wa Jalla. Amien.

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Setiap hamba-hamba-NYA yang mengaku beriman kepada Alloh SWT, maka wajib baginya membuktikan pengakuan keimanan pada-NYA dengan berbagai bentuk amal sholeh. Kata Iman dan Sholeh, seringkali kita temukan dalam ayat – ayat Qur’an, juga para ustadz maupun ustadzah kita ketika menyampaikan risalah Tauhid yang mulia ini. Tidak ada pembedaan dari-NYA, baik seorang muslim maupun muslimah demi mendapat ridho, cinta dan ampunan-NYA.

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُ نْثَىٰ وَهُوَ مُئْومِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ، حَيَوٰ ةًطَيِّبَةً  ۖ  وَلَنَجْزِ يَنَّهُمْ أَجْرَ حُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki  – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. An – Nahl (16): 97)

Namun, pernahkan kita merasakan dan berpikir mengapa amalan – amalan sholeh dalam bentuk ibadah vertikal maupun horizontal belum mendapatkan apa yang telah dijanjikan-NYA dalam Al – Qur’an? Akuilah karena memang salah satu sifat seorang manusia adalah tidak bersabar dan tidak istiqomah. Tetapi, apakah hanya kedua hal itu saja yang membuat apa yang telah dijanjikan-NYA belum kunjung tiba? Agar segala amalan kita tidak sia – sia di hadap-NYA, maka setiap muslim wal muslimah perlu memahami prinsip – prinsip dasar dalam amal sholeh.

1. Tujuannya Ridho Alloh SWT.

Apakah amalan – amalan yang kita lakukan selama ini memang hanya untuk menggugurkan kewajiban saja seperti contohnya sholat? Sungguh, riya’ adalah merupakan bentuk syirik kecil sebagaimana yang telah disebutkan Rosululloh SAW. belum lagi perilaku sum’ah, yang terkadang memang sulit sekali dibedakan ketika kita mengangkat kedua tangan untuk bertakbiratul ihrom. Mungkin ketika kedua tangan diangkat dalam awal sholat, kita lupa bahwa kita sedang mengecilkan diri kita ketika mengucapkan Allohu Akbar, yang mempunyai Asmaul Husna yaitu Al – Mutakabbir, Yang Mempunyai Kebesaran.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ (٤) ﭐلَّذِينَ هُمْ عَن صَلاَ تِهِمْ سَاهُونَ (٥) ﭐلَّذِينَ هُمْ يُرَ آ ءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ ﭐلْمَاعُونَ

“Maka celakalah bagi orang – orang yang sholat, (yaitu) orang – orang yang lalai dari sholatnya, orang – orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (Q.S. Al – Maa’un (107): 4 – 7)

Pun ketika kita akan melakukan amalan – amalan sholeh lainnya seperti infaq dan shodaqoh, ingatlah bahwa semua itu berasal dari Alloh Yang Maha Kaya, kita ini hanya perantara karena saudara – saudara kita mempunyai hak dari-NYA yang melewati kita.

لاَّ خَيْرَفِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوَٰ هُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَـٰحٍ بَيْنَ ﭐلنَّاسِ  ۚ  وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ﭐبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ﭐللَّهِ فَسَوْ فَ نُئْوتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan – bisikan mereka kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) dari memberi shodaqoh, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Alloh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 114)

2. Ikhlas Karena Alloh SWT.

Dasar dari amal sholeh adalah keikhlasan. Tidak ada nilai pahalanya di sisi Alloh SWT., meskipun di mata manusia kita telah dianggap melakukannya. Dengan keikhlasan yang tulus, segala amaliah yang berat akan terasa lebih ringan, begitu pula sebaliknya.

وَمَآ أُمِرُوۤاْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ ﭐللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ﭐلدِّينَ حُنَفَآ ءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) Dien dengan lurus…” (Q.S. Al – Bayyinah (98): 5)

Alloh SWT-lah Robb kita, sudah merupakan hak-NYA dan kewajiban hamba-NYA untuk melakukan segala sesuatunya secara ikhlas.

3. Benar Cara Melaksanakannya

Apakah kita termasuk orang – orang yang membelanjakan harta di jalan-NYA dari hasil korupsi atau money laundering? Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, begitu pula dalam melanjutkan hidup ini sebagai Kholifah fil ‘Ardh. Di samping riya’ sebagai contoh syirik kecil, tentu kita juga tidak boleh melupakan praktek syirik terselubung. Agak aneh jika kita melihat media elektronik jika saat ini banyak sekali praktek – praktek kesyirikan yang (lucunya pula) seolah – olah diijinkan oleh komite penyiaran, seolah – olah Dien ini hanya diamalkan hanya untuk hal ritual saja.

قُلْ إنَّمَآ أَ نَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰۤ إِلَىَّ أَ نَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهُ وَٰحِدٌ  ۖ  فَمَن كَانَ يَرْجُواْ لِقَآ ءَرَبِّهِ، فَلْيَعْمَلْ عَمِلاً صَـٰلِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدَا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Robb-nya”. (Q.S. Al – Kahfi (18): 110)

Bersyukurlah dengan menyebut nama-NYA Yang Agung. Rosululloh SAW., diutus-NYA untuk menjadi Uswah Hasanah bagi ummat Islam. Bukankah segala amalan yang tidak dituntunkan oleh Rosul SAW., maka amalan tersebut akan tertolak oleh-NYA? Merupakan pekerjaan rumah bagi ummat saat ini untuk membuka – buka kembali tuntunan yang disunnahkan Rosul SAW.

4. Tidak Merasa Sudah Maksimal

Apakah kita termasuk orang – orang yang berpikir ketika kita telah menginfakkan sekian ratus ataupun sekian juta rupiah, maka kita cukupkan untuk beberapa waktu untuk berinfak kembali? Bahkan Abu Hurairoh RA., pun sanggup untuk khatam Qur’an dalam sekali Ibadah sholat Qiyamul ‘ Lail-nya. Matematika Alloh SWT., adalah Maha Sempurna dan berbeda jauh dengan matematika aljabar manusia. Belum tentu sekian rupiah yang sudah kita belanjakan di jalan-NYA diterima, alih – alih mencukupkan untuk beberapa saat untuk berinfaq kembali. Mizan (Neraca) keadilan amalan sholeh dan bathil hamba-NYA, hanya Alloh-lah Yang Maha Tahu.

5. Bersegera Melaksanakannya

Rosululloh SAW., pernah dikejutkan dengan jawaban seorang sahabat, yang menyebutkan pada pagi itu dia telah merasa telah betul – betul beriman. Sudah cukup lama sahabat tersebut menjadi Muslim, tetapi baru kali itu dia menyatakan hal demikian. Sahabat tersebut menyebutkan:

“Pagi ini saya betul – betul merasa menjadi orang yang beriman karena saya tidak yakin apakah nanti sore saya masih hidup atau tidak, dan nanti sore pun saya tidak yakin apakah besok pagi saya masih hidup atau tidak, bahkan langkah saya yang pertama tidak saya yakini bisa dilanjutkan ke langkah kedua.”

Mengingat mati, hendaklah seorang muslim menanamkan betul pada hatinya untuk sering memutus kenikmatan yaitu kematian.

“Segeralah melakukan amal sholeh, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang gulita. Ketika itu seorang pada pagi beriman, tiba – tiba pada sore hari berbalik kafir, sore beriman kemudian paginya menjadi kafir, menukar agama karena sedikit keuntungan dunia yang sederhana.” (H.R. Muslim)

Fastabiqul Khoirot – berlomba dalam hal kebaikan. Selayaknya ketika ibadah sholat Jum’at. Pahala yang didapat orang yang lebih dahulu memasuki masjid berbeda dengan pahala yang orang belakangan memasuki masjid, begitu pula keutamaan sholat adalah sholat tepat waktu, bukan sholat di akhir waktu.

Dari sekian kajian tentang tuntunan beramal sholeh, tentunya harus dijadikan muhasabah diri untuk langkah kita sekalian berikutnya untuk landasan dan garis besar dalam beramal sholeh. Tentunya kita tidak mau sampai umur yang semakin mendekati liang lahad ini, semua bekal yang kita lakukan ternyata kosong belaka. Sukses Dunia wal Akhirat.

Wallohu A’lam bish Showab.

وَسَارِعُوۤ اْ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ﭐلسَّمَـٰوَٰتُ وَﭐْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan Robb-mu dan kepada Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang – orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imron (3): 133)

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 10 February 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

2 responses to “Prinsip Beramal Sholeh

  1. Machmuddipo

    4 April 2013 at 10:19 AM

    Copas brow !

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s