RSS

Tarbiyatun Nisa Bag. 4

01 Feb

Oleh: Syaikh Jamal Al Haritsiy Hafizhohullaah

NASEHAT TENTANG PAKAIAN MUSLIMAH

Dan setiap muslimah hendaknya menjauhi perilaku meniru – niru wanita – wanita kafir dan wanita – wanita fasiq. Dalam cara berpakaian, model, dengan menghindari pakaian yang sempit dan terbuka dari sisi manapun dan dari bagian manapun, dan yang transparan, pendek, celana panjang, sandal atau sepatu berhak tinggi, dan menjauhi trend mengikuti mode seperti yang banyak disebut, dalam soal pakaian atau potongan rambut. Rosululloh SAW., telah bersabda: “Barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Dan ketika menggambarkan segolongan wanita, Rosululloh SAW., bersabda: “Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat lalu beliau menyebutkan salah satunya, dan perempuan – perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala – kepala mereka seperti punuk – punuk unta yang berlenggak – lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Dan bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lain)

Imam An – Nawawi dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim berkata: “Hadits ini merupakan salah satu mukjizat Rosululloh SAW. Apa yang telah beliau kabarkan kini telah terjadi. Adapun “al kaasiyaat”, maka ia memiliki beberapa sisi pengertian.

Pertama, artinya adalah mengenakan nikmat – nikmat Alloh SWT., namun telanjang dari bersyukur kepada- NYA.

Kedua, mengenakan pakaian namun telanjang dari perbuatan baik dan memperhatikan akhirat serta menjaga ketaatan.

Ketiga, yang menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahannya, mereka itulah wanita yang berpakaian namun telanjang.

Keempat, yang mengenakan pakaian tipis sehingga menampakkan bagian dalamnya, berpakaian namun telanjang dalam satu makna. Sedangkan “maa`ilaatun mumiilaatun”, maka ada yang mengatakan: menyimpang dari ketaatan kepada Alloh SWT., dan apa-apa yang seharusnya mereka perbuat, seperti menjaga kemaluan dan sebagainya. “Mumiilaat” artinya mengajarkan perempuan – perempuan yang lain untuk berbuat seperti yang mereka lakukan. Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” itu berlenggak – lenggok ketika berjalan, sambil mendoyong – doyongkan pundak. Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya mendoyong. Yaitu gayanya para pelacur. “Mumiilaat” yaitu yang menyisirkan rambut perempuan lain dengan gaya itu. Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” maksudnya cenderung kepada laki – laki. “Mumiilaat” yaitu yang menggoda laki – laki dengan perhiasan yang mereka perlihatkan dan sebagainya. Adapun kepala – kepala mereka seperti punuk – punuk unta, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk – punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

Al Maaziri berkata: dan mungkin juga maknanya adalah bahwa mereka itu sangat bernafsu untuk melihat laki – laki dan tidak menundukkan pandangan dan kepala mereka. Sedang Al Qoodhiy memilih penafsiran bahwa “maa`ilaat” itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya mendoyong. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah – tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk – punuk unta. Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk – punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak – lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

Ibnul ‘Arobiy berkata: “Rosululloh SAW., menyebut mereka berpakaian karena pakaian yang mereka kenakan. Hanya saja beliau menyebut mereka telanjang karena pakaian yang tipis itu menggambarkan tubuh mereka dan memperlihatkan keindahan mereka dan itu adalah haram”.

Al Qurthubiy berkata: “aku katakan ini adalah salah satu dari dua penafsiran ulama tentang makna ini. Yang kedua adalah bahwa mereka itu adalah perempuan yang mengenakan pakaian namun telanjang dari pakaian takwa yang tentangnya Alloh SWT., berfirman: “Dan pakaian takwa itu adalah lebih baik.”

Dan ada sebuah syair berbunyi: “Orang yang tak mengenakan baju ketakwaan menjadi telanjang meskipun ia berpakaian. Sebaik-baik baju adalah taat kepada Tuhan dan yang membangkang – NYA sedikitpun tak punya kebaikan”

Cover Your Feet!

Dan dalam hadits, dari Dihyah bin Kholifah al Kalbiy, ketika ia diutus kepada Heraclius dan setelah kembali, Rosululloh SAW., memberinya kain qobthiyyah (sejenis kain yang transparan) dan berkata: “Kenakanlah baju pada tempat belahan kain ini dan berikanlah istrimu potongan kain untuk ia gunakan sebagai kerudung.” Setelah Dihyah berlalu, Rosululloh SAW., berkata lagi: “Suruhlah istrimu untuk melapisinya dengan sesuatu supaya tidak transparan.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim). Ia berkata: “ini adalah hadis yang sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim.”

Abu Hurairoh menyebutkan perkara kain tipis untuk pakaian wanita, maka dia berkata: “Perempuan – perempuan yang berpakaian namun telanjang, yang penuh dengan kesenangan namun menderita.”

Beberapa wanita dari Bani Tamim masuk menemui Aisyah RA., dengan mengenakan pakaian tipis. Maka Aisyah berkata: “Kalau kalian ini wanita yang beriman, maka yang seperti ini bukanlah pakaian wanita beriman. Tapi kalau kalian bukan wanita beriman, maka nikmatilah pakaian seperti ini.”

Seorang pengantin wanita diantar masuk menemui Aisyah RA., dengan mengenakan kain tipis yang telah dicelup dengan ‘ushfur (sejenis tanaman yang wangi). Ketika Aisyah RA., melihatnya, beliau berkata: “Perempuan yang mengenakan pakaian seperti ini belum mengimani surat An – Nuur.”

Inilah yang dapat aku sampaikan, dan aku memohon kepada Alloh SWT., yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa agar Ia menjadikan amalku ini sebagai amal sholeh, dan menjadikannya ikhlas untuk-NYA semata, dan semoga dari amal ini, Ia tidak menjadikan sesuatu apapun untuk siapapun bersama-NYA, dan semoga Ia menerimaku bersama orang-orang yang sholeh. Amien.

Wa shollallaahu ‘alaa nabiyyinaa muhammadin wa aalihii wa shohbihii wa sallam ajma’iin.

[Diambil dari Jurnal Akhwat Edisi 2, dengan beberapa edit dalam penulisan]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 1 February 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s