RSS

Penipu yang Tertipu ver.02

07 Jan

14 abad yang lalu ketika Rosululloh SAW., diangkat menjadi Nabi dan Rosul terakhir, sebagai Rohmatan lil ‘Aalamiin, tiada bekal yang dititipi-NYA selain iman kepada Al – Qur’an yang diturunkan padanya. Waktu itu, hanya ada padang pasir gersang dan tandus, oasis yang terkadang hasil tipuan fatamorgana, kabilah – kabilah dan suku – suku Arab Badui dan suku Arab lainnya yang keras dan sangat fanatik pada golongannya, kitab – kitab sebelum Qur’an yang keasliannya dirubah seenak hati dan nafsu, khomr yang memabukkan, perjudian dan mengundi dengan anak panah, perbudakan, para pria yang mengubur hidup – hidup anak wanitanya, kaum wanita yang menjadi warga kelas dua dalam masyarakat, wanita yang melacurkan diri demi menyambung hidup dan sekian kejahiliyahan dan kebathilan lainnya yang ada dan terjadi saat itu.

Alloh Ar – Rohman Ar – Rohiim, memberi tawaran yang jelas dengan gambaran kampung akhirat. Surga dengan makanan – makanan, sungai – sungai yang mengalir di dalamnya, bidadari – bidadari syurga yang cantik dan selalu suci, khomr yang lebih nikmat tapi tidak memabukkan, serta dapat memandang wajah Alloh SWT sebagai bentuk kenikmatan tertinggi yang ada disana kelak. Subhanalloh. Dari sekian nikmat dan janji-NYA pada kita, manakah yang mau kita dustakan (lagi dan lagi)?

Dari sekian tawaran janji Alloh SWT diatas, sudah jelas telah membangkitkan ghiroh ketakwaan dan keimanan pada diri ummat Islam saat itu. Sampai – sampai tertanam pada diri para sahabat dan sohabiyyah, bahwa bukanlah kemiskinan, kelaparan dan kematian yang mereka takutkan saat itu, karena Alloh dan Rosul-NYA bersama mereka. Subhanalloh. Pernahkah terbersit pikiran picik kita, bahwa saat itu bukanlah saat ini. Saat ini, berbagai kenikmatan dan kesenangan tersedia di sekitar kita, tidak jauh bahkan gampang sekali untuk mendapatkannya. Sadarkah? Benarkah saudaraku?

Saat itu SDSB (sumbangan dana sosial berhadiah) lebih dikenal, undian lotere maupun judi bola yang saat ini  ataupun kemarin ketika Piala Dunia Sepakbola maupun lokal benua juga digelar. Impian adalah sesuatu yang sering memacu kita untuk berjuang keras untuk mendapatkannya.  Tidakkah kita heran akan diri ini? sampai – sampai ada yang rela datang ke dukun ataupun mempercayai paranormal bahkan rela tidur di kuburan untuk mendapat petunjuk mendapatkan uang dalam undian lotere dalam apapun bentuknya? Dari statistik yang bisa kita buat sendiri, berapakah peluang kita dalam 10 kali undian judi? 1 kali? 5 kali? Ataupun peluangnya mau diperbesar dalam 100 kali undian?

Entah siapapun yang mendapatkan undian judi uang instant itu, seharusnya tersadar bahwa uang yang mereka dapat itu tidaklah lebih besar daripada bandar judi. Dimanapun dan kapanpun, bandar judi adalah pihak yang selalu menang dan semakin kaya dalam undian judi berhadiah.

Masih ada, ya masih ada. Diantara kita antri bermeter – meter panjangnya, untuk antri tiket menonton bioskop, aksi band ataupun hiburan lain, sampai – sampai beratus – ratus ribu Rupiahpun akan dikeluarkan demi membunuh kebosanan dan kesepian yang menyiksa dalam rumah mungkin? Untuk mendengarkan aksi lipsync dari artis idola. Tidak cukup dengan tiket saja ternyata, harus dengan pakaian sesuai dress code artis band tersebut yang tentunya mengantarkan kita ke arah tasyabuh dan tabarruj bagi wanita, sampai harus berdesak – desakan dengan penonton “dari seluruh dunia” yang mengantarkan kita ke arah ikhtilat. Kita berteriak histeris disana, berdesakan disana, berjingkrak – jingkrakan disana bagaikan ayam sakaratul maut saat disembelih, bertepuk tangan dengan gaduhnya di setiap alunan distorsi efek sound system yang memekakkan telinga dan bahkan bisa mengalahkan daya listrik 10 speaker masjid yang sedang adzan di dekatnya.

“Tsumma rodadnaahu asfala saafiliin!?”

Tidak mungkinlah kita masih bisa membedakan mana yang ber-KTP Islam dan bukan. Tidak mungkin ada seorang muslim berjenggot dan bercelana ngatung disana dengan baju kokonya ataupun dengan kopiah. Tidak mungkin ada muslimah yang berkhimar dan berhijab sesuai tuntunan syar’i disana. Yang biasa ada harus dibawa dan bisa dilihat jelas adalah rok ketat, jeans bahkan yang ketat, celana pendek diatas lutut, pakaian penahan dinginnya acara malam itu, khimar yang dimasukkan ke dalam jaket sehingga tampaklah lekuk tubuh bagian atas para wanita, kaos ketat yang bertuliskan kata – kata sampah dari penggalan lirik artis idola, juga tentunya uang yang tidak sedikit untuk makan dan minum untuk mengganti energi untuk mengkristalkan keringat hasil berteriak, berdesak – desakan dan berjingkrak – jingkrakan disana. Sungguh heran, apa yang dilakukan seorang muslim wal muslimah yang tetap menjaga sholat 5 waktunya disana? apa yang dilakukan wanita muslimah berkerudung di acara tersebut? Lucu sekali, apabila kita masih melihat para muslimah yang membawa kain ruku’/ mukenanya dan sajadah kecil dalam tas kecilnya di acara tersebut, sangat – sangat sekuler. Maaf, sepertinya ada yang salah dengan pemahaman dan penerapan antum sekalian akan “perlindungan” hukum syareat Islam.

Itu BUKANLAH ISLAM, saudaraku!

Hmm, ataukah karena kita memang ingin mengokokohkan dan diakui dalam pertemanan kita dalam kelompok kita? Apakah ada yang memberi kita free ticket asalkan kita mau datang menemani mereka melupakan kebosanan dan kesepian? Ataukah kita termasuk orang – orang yang berpikiran jika ada 10 orang kesepian yang berkumpul maka 10 orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan? Bolehkah ana bertanya ke antum wa antunna sekalian? 1 pertanyaan egois yang saat ini sering terlintas di benak ini:

Setelah acara penuh tasyabuh, ikhtilat, perilaku mubadzir, tabarruj dan penuh kelalaian akan mengingat-NYA itu berakhir dan kalian pulang kembali ke rumah masing – masing, apakah yang kembali kalian rasakan? Bukankah kesepian dan kebosanan itu kembali menyerang kalian? Dan siapakah yang kalian akan salahkan? Diri sendiri lagi, kah? Orang lain lagi, kah? Atau…naudzubillaahi min dzaalik, mau menyalahkan Alloh (lagi), kah?

Alhamdulillah jika diantara kita ada yang langsung mengambil air wudhu untuk sholat dan bermunajat memohon ampun pada-NYA akan kelalaian ini, memanggil nama-NYA, memanggil Al – Ghoffuur, Al – Affuuw, At – Tawwaabu  untuk memperoleh welas asih maaf akan dosa. Tetapi tunggu, setelah munajat panjang itu disampaikan, apakah kalian masih membicarakan dan mempergunjingkan betapa luar biasanya hari itu? Membicarakan betapa senangnya hari itu? Membicarakan betapa indahnya hari itu melupakan kebosanan dan kesepian dengan tertawa? Maka, akan terhapuslah ampunan akan dosa yang telah terjadi hari itu.

Kira – kira, berapa rupiah kah sebutir pil ataupun bubuk narkoba? Ada yang sampai – sampai menggadai perhiasan ataupun berbohong kepada orangtuanya untuk mendapatkan psikotropika perusak susunan syaraf. Ataupun mencoba berteman dengan bandar narkoba untuk mendapatkan harga murah? Beberapa obat – obatan penambah giat susunan syaraf yang menekan rasa capek, bahkan bisa sampai 2 hari dalam kondisi tenang, senang, riang. Akan tetapi ketika efek obat itu habis, rasa sakit dan kelelahan yang teramat sangat kembali menyerang. Awalnya hanya sebutir ataupun beberapa gram, akhirnya karena rasa sakit dan tenang belum juga didapat, dosis yang lebih banyak diperlukan. Untuk sesaat, rasa sakit itu hilang dan ketenangan didapat. Akan tetapi, dosis itu semakin bertambah, seiring defisiensi susunan syaraf yang ditekan oleh efek obat psikotropika.

Tidak ada bedanya dengan membersihkan karat pada permukaan logam hasil efek proses korosi, bisa kita bersihkan dengan menggunakan kombinasi asam dan basa kuat. Akan tetapi jika kita amati, lapisan permukaan logam yang tampak bersih itu sebenarnya hancur karena pembersihan karat, yang bahkan membuka dan menghilangkan lapisan pelindung teratas yang telah bersih tadi.

Dunia dan isi kesenangan dunia yang saat ini bisa didapat, kira – kira berapa rupiahkah yang harus dikeluarkan dari dompet kita? Ketika kita akhirnya harus menggigit jari karena keuangan yang menipis untuk mengundi nasib, ketika kita akhirnya harus menahan lapar karena membayar kesenangan, ketika kita akhirnya harus menahan sakit karena susunan syaraf yang membutuhkan dosis lebih tinggi, akhirnya kita baru tersadar bahwa semua ini tidak kita inginkan, akhirnya kita baru tersadar semua ini telah terjadi, akhirnya kita tersadar tidak akan mengantarkan kita ke Jannah-NYA….kita hanya bisa menunduk dan kembali meratap dalam kesendirian.

Di sana. Diberikan buah zaqqum dan nanah mendidih untuk melawan lapar dan haus, yang ketika kita memakannya hanya akan merasakan sakit dan lapar yang semakin menjadi. Kemaluan yang dipakai untuk berzina akan ditusuk besi panas, dari bawah sampai ke ubun – ubun. Juga berbagai pembalasan dan hukuman yang sangat adil dan setimpal untuk para penentang-NYA yang fasik, mubadzir, munafik, musyrik. Penyesalan itu tidak akan membawa kita kembali ke hari dan detik – detik saat akan melakukan dosa – dosa selama di dunia. Naudzu billaahi min dzaalik.

“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang – orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 77)

Wallohu A’lam bish Showwab.

[Maka, dari arah manakah kita akan tertipu lagi saudaraku?]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 7 January 2011 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s