RSS

Penipu yang Tertipu

24 Dec

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَ هُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُواْبَلَٰ شَهِدْنَآ أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ (١٧٢)

“Dan ingatlah ketika Robb-mu mengeluarkan keturunan anak – anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Robb kalian?’ Mereka menjawab (seraya berkata): ‘Betul (Engkau Robb kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang – orang yang lengah terhadap ini’ (Keesaan Alloh).” (Q.S. Al – A’rof (7): 172).

Sadar ataupun tidak, ingat ataupun tidak, semua ruh manusia pasti pernah melewati pertanyaan itu sebelum dilahirkan ke dunia. Ketika berada di dalam 3 kegelapan alam rahim Ibu kita, kita juga makan – minum, bergerak aktif, sesuai dengan ketetapan-NYA kita dijaga. Begitu bahagianya pasangan yang sedang menunggu hari – hari kelahiran buah hatinya ke dunia, bahkan kebahagiaan yang beruntun ketika kita telah lahir ke dunia secara normal dengan indikasi awal berupa tangisan. Namun, jika kita mau berpikir mengingat – ingat, mengapa sampai seorang bayi menangis justru ketika lahir, mungkin saja karena begitu sombongnya menjawab iya untuk siap lahir ke dunia sebagai kholifah fil ‘ardh, justru menangis karena ingin kembali ke dalam perlindungan-NYA dalam alam rahim.

Ayat dari Surat Al – A’rof diatas, mengajarkan kita 2 hal bagaimana mengingat dan membenarkan. 2 hal ini adalah hal yang sering kita lupakan, baik dalam sendi habluminalloh dan habluminannaas.

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, tengoklah bagaimana Siroh Nabawi menceritakan Ummat Dien lain pun hidup bersama Rosul SAW dan Ummat Islam setelah Futuh Mekkah, juga ingatlah Yerusalem menjadi kota 3 pemeluk agama samawi setelah dibebaskan Sultan Salahuddin Al Ayubi. Tetapi anehnya, dengan alasan ayat terakhir Surat Al – Kafiruun, ummat di luar Dienulloh ini menjadikannya bahan olok – olokan dan bahan pembenaran akan eksistensi mereka.

Mengingat dan membenarkan, seperti halnya dalam rukun Iman dan Islam. Antum sekalian percaya bahwa Alloh SWT adalah Robb Semesta Alam dan isinya? Alhamdulillaah, tetapi apakah antum membenarkan dan menjalankan segala apa yang diperintah-NYA untuk menjauhi kebathilan dan menegakkan yang Haqq? Ketika adzan bergema, kita semua pasti ingat bahwa waktu sholat telah datang, tetapi apakah kita semua langsung membenarkan bahwa sholat itu tiangnya agama Islam dengan menjalankannya? Ketika bulan Romadhon tiba, kita ingat bahwa Shaum itu adalah rukun dalam ke-Islaman, tetapi apakah kita membenarkan dan menjalankan Shaum Romadhon dengan mengerjakan semua amaliah – amaliah tambahan? Ketika kita mengkaji ayat An – Nuur akan kewajiban menundukkan pandangan dan menjaga hijab, kita ingat bahwa dari Alloh – lah perintah ini berasal, tetapi apakah mau membenarkan dan menjalankan perintah-NYA?

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Dari sedikit contoh diatas, tentunya kita sudah semakin paham apa beda antara mengingat Alloh dan membenarkan Alloh. Dien ini bukanlah agama “kepercayaan” saja, bukanlah aliran kebathinan saja, cukup eling – ingat – percaya dengan Tuhan, yang seringkali menyelewengkan ayat di surat Ar – Ro’du:

…أَلَابِذِكْرِ اللهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوبُ (٢٨)

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati akan menjadi tenang.” (Q.S. Ar – Ro’du (13): 28).

Sadarkah selama ini kita sering menjalankan Dien ini seperti halnya aliran kebathinan? Sering sekali mencari celah dari Hukum Alloh Al – Haqq dan Al – ‘Aliim, sering sekali juga mencari celah agar diwajarkan dari Sunnah Rosululloh SAW.

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Diantara kita, masih ada yang mendengarkan dan terlarut rasa dan pikiran ini ketika mendengarkan music cinta dan membaca novel picisan, kita mencari celah dari-NYA dengan beralasan tidak membaca novel dan mematikan music ketika adzan dan waktu sholat, sangatlah lucu apabila beberapa detik setelah sholat langsung kembali ke aktivitas tersebut. Diantara kita ada yang mengucapkan selamat Natal kepada ummat Kristen, mencoba mencari celah-NYA karena merasa berhutang akan ucapan selamat Iedul Fitri dari mereka, mencoba mencari celah tidak mengapa menyampaikan maaf asal tidak mengucapkan selamat Natal. Diantara muslimah kita ada yang akhirnya memutuskan melepas hijab fisiknya, mencari celah-NYA agar tidak mau disebut merusak Islam karena sikap dan sifatnya yang masih bathil dan jahil. Diantara kita masih ada yang berdua-duaan dan berpacaran, mencari celah-NYA dengan tetap mengenakan kerudung dan asalkan tidak free sex.

(Ikhtilat dengan celah-NYA, tetap berkerudung)

Diantara kita, ada yang tidak dan bahkan sudah tidak lagi meminum minuman memabukkan, tetapi masih mencoba mencari celah dengan meminum minuman berperisa dan beraroma beer yang lucunya menempelkan sertifikat dan label halal. Bukankah yang halal itu bisa menjadi haram? Ingatlah bahwa harus Halaalan dan Toyyibaan, halal lagi baik. Diantara muslimah kita, masih ada yang tidak menjaga Al – Haya’ (rasa malu) dengan menempelkan foto – fotonya di situs pertemanan, kita mencari celah dari-NYA dengan menempelkan foto diri yang sudah dikecilkan ukurannya ataupun memasang foto dari jarak jauh, tetapi masih juga dengan foto berkerudung yang dimasukkan dalam baju dan bercelana jeans ketat tanpa kaus kaki. Diantara muslimah kita ada yang mencoba mencari celah untuk tidak berjilbab dan berkerudung, dengan celah alasan yang penting hatinya, apakah ada ayat yang menerangkan “yang penting hatinya?” apakah kita berasumsi bahwa muslimah asal bisa menjaga hati telah menggugurkan kewajiban hijab fisik? Diantara kita, ada yang berikhtilat di dunia nyata dan dunia maya, mencoba mencari celah-NYA asal tidak bersentuhan fisik, tetap berhijab fisik, tetapi apa yang muslimah berhijab lakukan di acara konser music? Naudzubilaahi min Dzaalik. Ikhwanul Akhwat Filaah, sampai kapan antum sekalian mau terlena dan tertipu bujuk rayu kebenaran versi keturunan Iblis laknatulloh?

…فَلَاتَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَـٰوةُ الذُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِااللهِ الْغَرُورُ (٣٣)

“Maka janganlah sekali – kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan (pula) penipu (syaithon) memperdayakan kamu dalam (menaati Alloh) (Q.S. Luqman (31): 33)

… وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِىُّ حَتَّىٰ جَآءَ أَمْرُاللهِ وَغَرَّكُمْ بِااللهِ الْغَرُورُ (١٤)

“Dan kamu ditipu oleh angan – angan kosong sehingga datanglah ketetapan Alloh dan kamu telah ditipu terhadap Alloh oleh (syaithon) yang amat penipu.” (Q.S. Al – Hadiid (57): 14)

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Dari mana lagi kita akan tertipu? Ketika tentunya masih ingat dalam ingatan kita, medio 90-an adalah masa yang sangat jarang melihat muslimah berhijab yang jika adapun masih menyembulkan jambul rambutnya, tetapi ketika gerakan dakwah sudah memperlihatkan hasilnya hari ini, mau berada diantara siapakah kita ini? Ketika zaman 60-an para orangtua kita hanya berani menyampaikan keinginan hati untuk meminang dan ta’aruf nikah lewat kertas surat, maka tengoklah hari ini kita lihat kaum muda yang berani menunjukkan “kasih sayang” mereka dalam status komen situs pertemanan mereka, mencoba mencari celah-NYA asal tidak berkasih sayang di muka umum, demi menunggu rasa terima kasih dan penilaian lewat jempol penilaian. Naudzubillaahi min Dzaalik!

“Jahiliyah Repeats Itself!”

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Sebenarnya, yang kita minta bukanlah jempol penilaian seperti di status pertemanan, bukanlah komen dan empati orang lain akan dosa kita, tetapi justru kita mengundang siksa-NYA agar datang ke kita. Naaro Jahannam, api abadinya bahkan telah menyala sebelum Nabi Adam AS diciptakan sesuai ketentuan-NYA.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِقَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِمُ الْمَثُلَـٰتُ ۗ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُومَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ ۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ (٦)

“Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksaan, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam – macam contoh siksaan sebelum mereka. Sesungguhnya Robb-mu mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka lalim, dan sesungguhnya Robb-mu benar – benar sangat keras siksanya. (Q.S. Ar – Ro’du (13): 6).

Tidakkah kita mau membaca sejarah, bagaimana kota Pompei yang mengulangi kejahiliyah kota Sodom yang sisa – sisa “kejayaan bathil” kota Pompei masih bisa dilihat sampai sekarang. Tidakkah kita melihat mummi Fir’aun yang awet karena kadar garam tinggi setelah ditenggelamkan Alloh SWT di Laut Merah, karena ingin menipu dirinya dan kaumnya dengan nafsu membunuh Nabi Musa AS., dan Harun AS. agar dunia mengakuinya sebagai tandingan-NYA? Tidakkah kita melihat dan mau belajar dari kaum Salaf bahwa bukanlah kemiskinan yang mereka takuti, tetapi adzab Alloh-lah yang mereka takuti.

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَـٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِّن دُونِهِ أَوْلِيَآءَلَايَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًاوَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمَـٰتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُواْكَخَلْقِهِ فَتَشَـٰبَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ الْوَٰحِدُ الْقَهَّـٰرُ (١٦)

“Katakanlah: ‘Siapakah Robb langit dan bumi?’ Jawabnya: ‘Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka patutkah kamu mengambil pelindung – pelindungmu dari selain Alloh, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudhorotan bagi diri mereka sendiri?’ Katakanlah: ‘Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, ataukah sama gelap gulita dan terang benderang, apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Alloh yang dapat menciptakan seperti ciptaan-NYA sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?’ Katakanlah: ‘Alloh adalah pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Robb yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Ar – Ro’du (13): 16).

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Selama ini, kita mencoba menjadi penipu yang sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita telah tertipu oleh bujuk rayu dan tipu daya Syaithon. Sebenarnya, kita bukanlah lari dari para penyampai kebenaran-NYA, tetapi justru kita sedang berlari dari-NYA dan hukum-NYA.

Ikhwanul Akhwat Fillaah. Kembalilah pada-NYA biarpun harus tertatih – tatih dan merangkak. Ingatkah bahwa Alloh Al – Ghofuur adalah Maha Pengampun? Maka benarkanlah ingatan kita akan sifat Al – Ghofuur dengan membenarkan-NYA dengan Taubatan Nasuuha.

Nabi SAW., bersabda: “Sesungguhnya Alloh lebih gembira dengan tobatnya seorang hamba yang beriman daripada seorang yang masuk ke suatu negeri yang gersang dan berbahaya disertai hewan kendaraannya yang mengangkut makanan dan minumannya. Kemudian ia meletakkan kepalanya, lalu tertidur. Ketika terjaga, ternyata hewan tunggangannya telah lenyap. Ia terus mencarinya hingga di saat panas yang terik dan merasakan haus yang sangat, ia berkata: ‘Aku akan kembali ke tempat dimana aku tidur hingga aku mati.’ Kemudian ia letakkan kepalanya di atas tangannya hingga tertidur, kemudian ia terjaga. Ternyata kendaraannya ada di dekatnya beserta makanan dan minumannya. Alloh lebih besar kegembiraannya dengan tobatnya hamba yang beriman daripada kegembiraan orang ini atas kendaraannya yang telah kembali.”

Wallohu A’lam bish Showab.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 24 December 2010 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

One response to “Penipu yang Tertipu

  1. Khaydir Clalu Cetia

    2 March 2012 at 6:59 AM

    terlaulu……!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s