RSS

Tarbiyatun Nisa Bag. 3

22 Dec

Tarbiyatun Nisa Bag. 3

Oleh: Syaikh Jamal Al Haritsiy hafizhohullaah

NASEHAT BAGI PARA IBU

Dan ambillah teladan, wahai muslimah, dari kisah berikut ini. Karena kisah ini bertutur kepada Ibu yang penuh ketulusan terhadap putrinya. Ia juga bertutur kepada para anak perempuan yang cerdas sebagaimana ia juga bertutur kepada setiap wanita yang sudah menikah. Dan karena kisah inilah sebuah perumpamaan Arab dibuat. Yaitu perumpamaan “maa waroo`aka ya ‘ishoom?” (apa yang ada di belakangmu hai ‘Ishom?). Abul Fadhl an Naysaabuuriy dalam kitabnya “Majma’ul Amtsaal” berkata: “Maa waroo`aka yaa ‘Ishoom?” Al Mufadhdhol berkata: orang yang pertama kali mengucapkan perkataan ini adalah Al Haarits bin ‘Amr, Raja Kandah. Yaitu ketika ia mendapatkan kabar tentang kecantikan, kesempurnaan dan kecerdasan putri ‘Auf bin Mahlim asy Syaybaaniy, ia memanggil seorang wanita dari Kandah yang dipanggil dengan nama ‘Ishoom; seorang wanita yang cerdas, pandai berbicara, serta tinggi budi bahasa dan sastranya.

Sang Raja berkata: “Pergilah sampai engkau dapat memberitahuku tentang hal ihwal putri ‘Auf ini”. Maka ‘Ishoom pergi menemui Ibu gadis itu, yaitu Umaamah bintul Harits dan memberitahukan maksud kedatangannya. Maka Umaamah memberikan pesan kepada putrinya dan berkata: “Wahai anakku, ini adalah bibimu telah datang untuk melihatmu. Maka janganlah kamu tutupi kalau ia ingin melihat wajah atau perilakumu. Dan bicaralah kalau ia mengajakmu bicara”. ‘Ishoom pun masuk menemuinya. Maka ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Setelah itu ia keluar seraya berkata: “Tarokal khidaa’ man kasyafal qonaa’” (orang yang sudah menyingkap topeng, tidak akan tertipu). Ia membuat perkataan ini sebagai sebuah perumpamaan. Lalu ia pergi menemui Al Haarits.

Ketika Al Haarits melihatnya datang, ia berkata: “Apa yang ada di belakangmu wahai ‘Ishoom?” (maksudnya: kabar apa yang engkau bawa wahai ‘Ishoom? Kemudian ‘Ishoom mendeskripsikan fisik dan akhlak sang putri ‘Auf dengan ungkapan-ungkapan sastra yang menjelaskan kecantikan dan kebaikan gadis tersebut. (Deskripsi ini sengaja dipotong oleh penerjemah -pent).

Lalu sang Raja mengutus seorang utusan kepada Ayah gadis itu dan menyampaikan lamarannya. Sang Ayah menikahkan putrinya dengan sang Raja. Maskawin pun dikirimkan. Dan putri ‘Auf dipersiapkan hingga ketika ia hendak dibawa kepada suaminya, Ibunya berkata:

“Wahai putriku, kalaulah suatu wasiat tidak diberikan karena orang yang diberi wasiat sudah sempurna akhlaknya, maka tentu wasiat ini tidak akan kuberikan kepadamu. Akan tetapi, ini sekedar pengingat orang yang lupa dan penyokong orang yang ingat. Kalaulah seorang wanita bisa tidak membutuhkan seorang suami karena kekayaan orang tuanya dan ia juga sangat dibutuhkan oleh keduanya, tentulah kamu orang yang paling tidak membutuhkan seorang suami. Akan tetapi wanita itu diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki itu diciptakan untuk perempuan.”

“Wahai putriku, sesungguhnya engkau akan berpisah dari lingkungan yang darinya engkau keluar, dan engkau akan meninggalkan sarang yang di dalamnya engkau tumbuh besar. Ke sebuah sarang yang belum pernah engkau tahu dan seorang pendamping yang tidak pernah engkau kenal. Maka ia dengan kerajaannya akan menjadi pengintai dan pengatur atas dirimu. Maka jadilah seorang hamba untuknya, niscaya dia akan menjadi seorang budak dan orang yang baik untukmu.”

“Wahai putriku, embanlah dariku sepuluh sifat, maka sifat-sifat itu akan menjadi perbendaharaan dan kenangan untukmu: mendampingi dengan sifat qona’ah dan bergaul dengan penuh penerimaan dan ketaatan. Serta teliti dengan apapun yang dilihat suamimu dan awas dengan apapun yang diciumnya. Jangan sampai ia melihat dirimu dalam keadaan buruk dan jangan pula ia sampai mencium darimu kecuali aroma yang harum. Celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baiknya pengganti wewangian. Kemudian bersiap diri pada saat makan dan tenang pada saat tidur. Karena panasnya lapar akan mengobarkan rasa marah, dan membuat sulit tidur akan memancing kekesalan. Lalu menjaga rumah dan hartanya, serta mengurusi diri, keluarga dan anak-anaknya. Karena menjaga harta itu merupakan baiknya perhitungan. Dan mengurusi anak dan keluarga merupakan baiknya pengaturan. Dan jangan engkau sebarkan rahasianya, serta jangan engkau bangkang perintahnya. Karena kalau engkau sebarkan rahasianya, engkau tidak akan aman dari pengkhianatannya. Sedangkan kalau engkau bangkang perintahnya, engkau akan mengobarkan amarahnya. Kemudian hindarilah dengan itu semua sikap bersuka cita ketika sedang bersedih. Dan sikap berduka cita ketika sedang bergembira. Karena sifat yang pertama itu merupakan kelalaian. Sedangkan yang kedua akan membuat suasana menjadi keruh. Dan jadilah orang yang sedemikian mengagungkannya, maka dia akan menjadi orang yang sedemikian memuliakanmu. Dan juga jadilah orang yang sedemikian menurutinya, maka dia akan menjadi orang yang sedemikian lama bisa engkau dampingi. Dan ketahuilah bahwasanya engkau tidak akan dapat meraih apa yang engkau sukai sampai engkau mendahulukan keridhoannya di atas keridhoan dirimu sendiri dan mendahulukan keinginannya di atas keinginanmu sendiri dalam segala hal yang engkau sukai ataupun engkau benci. Dan semoga Alloh SWT., menjadikan baik semuanya untukmu.”

Lalu sang putri itu pun dibawa dan diserahkan kepada sang Raja. Dan ia mendapatkan kedudukan agung di sisi Raja tersebut serta melahirkan untuknya tujuh orang yang kemudian menjadi Raja Yaman selanjutnya.

Seorang muslimah yang menghendaki pahala di sisi Alloh SWT., hendaknya menjaga lisannya dari perbuatan ghibah, mengadu domba, merumpi, banyak bertanya dan juga dari perbuatan mengingkari kebaikan suami. Karena kebanyakan majelis para wanita itu waktunya lebih banyak dihabiskan untuk perkara-perkara ini. Dan seolah-olah itu merupakan garam untuk makanan yang tidak terasa enak suatu majelis kecuali dengannya.

Dari Hakim bin Hizam, ia berkata: Rosululloh SAW., berkhutbah kepada para wanita pada suatu hari. Beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Alloh SWT., dan mentaati suami mereka. Lalu berkata: “Di antara kalian ini ada yang masuk surga.. (beliau mengeratkan jari jemari tangan beliau), dan di antara kalian ini ada yang menjadi kayu bakar neraka (beliau merenggangkan jari jemari tangan beliau)”. Salah seorang wanita berkata: “Tentu ia adalah seorang wanita yang durhaka, wahai Rosululloh SAW! Dan mengapa demikian?”. Rosululloh SAW., berkata: “Kalian mengingkari kebaikan suami kalian, sering melaknat dan menunda-nunda kebaikan”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

[Bersambung, Insya Alloh]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 22 December 2010 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s