RSS

Catatan (Akidah) di Bus Arimbi

04 Dec

Entah sudah tak terhitung lagi perjalanan menggunakan bus antar kota menjadi pilihan untuk pulang pergi ke kampung halaman. Tetapi ada satu catatan kecil yang masih tersimpan dengan jelas di benak dan hati ini. Seorang anak muda yang duduk di jok sebelah. Dengan sopannya memperkenalkan diri terlebih dulu. Waktu itu adalah perjalanan pulang kembali ke Tangerang setelah liburan Iedul Fitri 1431 H yang baru saja lewat.

Tidak ada yang istimewa dari awal percakapan di perjalanan 3 – 4 jam tersebut. Tetapi topic menjadi menarik setelah anak muda tersebut menunjukkan identitasnya di luar Dienul Haqq ini. Ikut liburan ucapnya, daripada menunggu Desember hanya mendapat waktu liburan yang sempit. Ikut berlibur di temannya yang berkuliah Akper di daerah Cihanjuang, Lembang.

Ternyata Lampung adalah kota tujuan terakhirnya. Sambil sesekali mencoba menyelami pola pikir “keyakinannya” dari setiap pembicaraannya, pikiran ini terpaku dengan kekagumannya dan rasa terimakasihnya karena tinggal di lingkungan Islami di Lampung sana. Mengapa demikian tanya saya terucap? “Karena soal makanan, saya lebih aman di lingkungan Islam. Saya sangat aman di warung dan lingkungan yang tidak menyediakan daging babi dan alkohol. Begitu pula soal keamanan, saya lebih menyenangi di lingkungan orang – orang berjilbab, bersarung dan berpeci daripada lingkungan orang – orang yang membawa alcohol dan gitar di tangannya.”

Hmm, lebih jelas saat itu keyakinan apa yang dianutnya. Sambil mencoba mengimbangi pembicaraan, saya katakan bahwa Islam adalah Rohmatan Lil Aalamin. Anak muda tersebut kembali berucap dan membenarkan bahwa damai yang dirasakan di lingkungan tempat tinggalnya di Lampung sana pun begitu. Subhanalloh, ternyata masih ada penduduk negeri ini yang sedang diingatkan dengan berbagai cobaan dan ujian agar kembali pada-NYA, masih memegang teguh 2 risalah yang ditinggalkan Rosululloh SAW – Kitab-NYA dan Sunnah Rosul.

Beberapa saat kemudian, anak muda tersebut membawa saya pada topic tentang keburukan yang sedang dilakoni justru oleh pemeluk Dienul Haqq di Bandung. Mulai keanehannya yang menanyakan kenapa hijab muslimah yang berbeda dari lingkungannya yang begitu menutup rapi berbeda dengan hijab muslimah di Bandung, ikhtilat tanpa batas, muslimah centil yang berkaraoke di pusat karaoke, sampai muslimah yang berkeliaran bebas sampai larut malam dengan teman – temannya.

Naudzubillahi min Dzaalik! Meskipun disebutkan borok-borok kaum muslim di Bandung, saya tidak tersinggung. Karena memang demikian adanya. Memang alangkah banyak kemaksiatan di Bandung. Semua bisa “menikmatinya” di mana-mana: mall, jalan, pasar, angkot, sekolah, kuliah, bahkan pusat karaoke dan tempat-tempat lainnya. Bandung sedang dihadapkan dengan masa di mana umbar aurat dan kemaksiatan dengan berbagai bentuknya merupakan suatu yang “lumrah” bahkan menjadi “trend”. Makin sempit dan ketat pakaian seorang muslim dan muslimah, maka makin “modern”, “gaul” dan “trendi”. Makin diumbar kecantikan, maka makin kentara “aura positif seseorang”, makin tinggi penilaian orang lain akan aura tersebut. Sebaliknya, makin lebar pakaian, dan makin tertutup postur tubuh, maka makin “kuno”, makin kembali ke “zaman tai kotok dilebuan.” (tai ayam diberi abu untuk menutup, ungkapan untuk jaman baheula)

Miris. Bila semua itu telah merajalela di sudut manapun kota Bandung. Belum selesai pikiran ini diserang oleh pertanyaan anak muda tersebut, kembali mendapat pertanyaan mengapa sampai ada perbedaan dalam hijab di Lampung dan Bandung dan bagaimanakah sebenarnya Islam mengaturnya?

Saya pun takut, keimanan saya yang sedang dihidupkan lagi ini menghilang juga. Why not? setiap hari disuguhi “panorama” orang-orang yang berpakaian “secukupnya”, “berpakaian tetapi telanjang” di mall, jalan, di tempat umum, bahkan situs pertemanan sekelas Facebook seakan-akan tak ada “apa-apa” di pikiran mereka.

Mengapa yang ada “apa – apa” menjadi “tidak apa – apa?” Alasan Hak Asasi? Ah…. “Manakah yang perkataannya lebih benar daripada Alloh?” Jikalau memang hak asasi itu adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi, tak ubahnya seseorang menjadi atheis, tidak perlu aturan dan hukum. Hukum itu sebenarnya ada untuk melindungi dan sebagai acuan, bukan sebagai ancaman dan menakut – nakuti saja. Lalu, jika memang kita takut akan ancaman-NYA, mengapa Bandung diserang virus Tabarruj, Ikhtilat, Sufur dan Tasyabuh?

Sudah jelas – jelas kita menantang Alloh, ancaman dan aturan-NYA yang justru melindungi!!

Semoga, Alloh SWT terus memberikan taufik dan hidayah-NYA kepada kita semua agar bisa istiqomah dalam Dien-NYA dan teguh dalam menjalankan syariat-NYA. Bukalah mata dan hati lebar – lebar saudaraku! Janganlah sampai mengucap belum mendapat hidayah-NYA, jemputlah hidayah itu yang bertebaran di mana – mana, di segala sesuatu di sekitar kita adalah bukti nyata keberadaan dan kasih sayang Alloh Ar – Rohman Ar – Rohim.

Semoga Alloh SWT pun memberi hidayah petunjuk-NYA padamu anak muda. Amien Allohumma Amien.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 4 December 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s