RSS

Coretan hasil Halaqoh Kecil

14 Nov

Tak terasa yang namanya miskin hati akan ilmu dan pengetahuan agama mendorong diri ini untuk mendatangi kajian – kajian yang ada, tapi apa daya dan kehendak manusia, ternyata para ustadz senior yang ada sedang menjadi Amirul Haji pada tahun ini. Salah satu jihad terbesar seorang muslim adalah berangkat menunaikan Ibadah ini, yang…subhanalloh wal hamdulillah, bisa menunaikan jihad ke Tanah Suci.

Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, pandangan mata ini terus tertuju pada whiteboard di sudut kiri masjid kami. Tertulis beberapa nama penghuni kampung ustadz sini, ternyata tertulis nama – nama yang Insya Alloh akan berqurban pada Iedul Qurban besok. Hmm, mengingatkan bahwa hari Arofah sudah hitungan hari saja. Setelah pojokan sudut kiri masjid ini dipenuhi panitia dan partisipan Qurban mulai sepi, ustadz Fushhilat memanggil saya untuk duduk bersama jamaah yang tersisa untuk membuat halaqoh kecil. Yeah, ini dia yang saya tunggu – tunggu memang.

(Sudut Masjid Ar – Rohmah)

Halaqoh dibuka dengan pertanyaan ustadz tentang tuntunan ataupun mengkhususkan membaca surat yasin pada momen – momen tertentu, seperti setelah sholat, malam tertentu, kematian, ataupun ketika sedang tertimpa musibah. Heiy…mengapa gerangan bertanya seperti ini? Kami yang duduk dalam halaqoh sama – sama menyampaikan dalil – dalil sepengetahuan kami, yang pada umumnya menyebutkan belum menemukan dalil maupun sunnah yang mengkhususkan untuk membaca surat tersebut pada saat kematian seorang muslim khususnya. Seingat saya, surat Al – Kahfi yang merupakan sunnah Nabi SAW yang dibacakan setiap hari Jum’at. Tentang tuntunan dan isi surat yasin, menjadi PR kami semua untuk dikaji.

Ya, bukankah ketika kenikmatan terputus (mati) maka hanya 3 amalan yang akan terus mengalir ke ahlul kubur. Hanyalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a seorang anak kepada orangtuanya. Juga, amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW maka amalan tersebut akan tertolak. Hm, Alloh Maha Adil, tidak pernah dzolim kepada hamba-NYA. Tinggal kita yang masih diberi kesempatan sebagai kholifah fil ardh ini yang berlomba – lomba dalam kebaikan dan takwa.

Kajian berlanjut mengenai ketauhidan. Hmm, lebih menarik dari yang tadi tampaknya. Ustadz Fushhilat lantas membacakan penggalan bacaan Iftitah Sholat, Inna Sholati Wa Nusuki Wamah Yaaya Wama Maati, Lillaahi Robbil ‘Aalamiin. Ya, semuanya harusnya hanyalah karena Alloh Robb semesta alam, hanyalah karena perwujudan bentuk pengakuan ketauhidan kita pada Al – Malik. Mencoba untuk menyampaikan walaupun hanya satu ayat, saya sampaikan surat pendek ini:

“Katakanlah: DIA-lah Alloh, Yang Maha Tunggal”

“Alloh adalah Tuhan yang bergantung kepada-NYA segala sesuatu”

“DIA tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan DIA.”

(Q.S. Al – Ikhlas (112): 1 – 4)

Ash – Shomad dalam ayat ke-2, Alloh-lah tempat menggantungkan kepada-NYA segala sesuatu. Ya, itulah salah satu dari sekian banyak surat dan ayat-NYA yang menerangkan tentang ilmu Tauhid ucap Ustadz. Tetapi sebenarnya arah halaqoh kali ini bukanlah hanya ke arah surat yasin ataupun ilmu Tauhid. Arah halaqoh kali ini adalah mengenai penyelenggaraan ibadah Qurban, yang di awal sebelum sholat Maghrib ramai diperdebatkan tentang penyelenggaraan waktunya. Bagaimana wukuf bagi jamaah haji akan dilaksanakan hari Senin di tanah Suci sana. Mungkin…. kita lupa bahwa yang namanya manusia itu terbatasi oleh ruang dan waktu, bumi ini bulat dan lebih cenderung ke arah lonjong, perbedaan garis bujur beberapa derajat pun telah menyebabkan perbedaan siang dan malam sesuai ketetapan-NYA. Bagi pribadi, kita serahkan pada ahlinya, pada yang bertugas untuk bersidang itsbat, taat kepada Ulil Amri selama bukan ketaatan pada kemaksiatan. Tafadhol antum sekalian, Wallohu A’lam bish Showwab.

Ustadz menyebutkan, ramai khalayak dan muslim yang berlomba – lomba dalam amal kebaikan untuk memperbagus timbangan kebaikannya dengan Qurban yang lebih baik. Ada yang berencana Qurban dengan domba terbaik, seekor sapi, 1/7 sapi dan lainnya menurut harga dan kemampuannya. Tetapi yang kemudian disebutkan ustadz sangatlah menarik.

Banyak khalayak yang akan berqurban melupakan esensi Qurban itu sendiri. Disebutkan bahwa ibadah Qurban yang oleh bani Adam pertama kali dilakukan kedua putra Adam AS., yaitu Habil dan Qobil, sebagai Ibroh bagi seluruh umat manusia perwujudan bentuk ketaatan pada perintah-NYA dan memurnikan ketakwaan pada-NYA. Seorang Ikhwan di samping saya berkata bahwa ritual pengorbanan juga ada dalam agama lain, yang tentunya benar – benar Jahil (bodoh) dan lucunya masih juga belum bisa memisahkan antara Ikhlas Lillahi Ta’ala ataupun demi hal tertentu. Seperti contohnya ruwatan yang dilakukan beberapa warga Jokja yang sedang diuji dengan bencana Merapi, mengorbankan hewan ternak untuk “mendiamkan” Merapi, lalu dagingnya dibagi – bagikan kepada warga yang sedang diuji-NYA. Saya mencoba menyampaikan, hal yang tidak ada sunnahnya jangan dianggap wajar atau diwajar – wajarkan biarpun itu baik di mata manusia. Belum tentu baik di mata manusia itu baik dan tepat bagi Alloh Al Haqq.

Sambungnya lagi, perbedaanlah yang membuat Islam menjadi terpecah – pecah sesuai sabda Nabi SAW menjadi 73 golongan, juga terjadi pada agama Kristen. Kebiasaan “mem-bid’ahkan” telah membuat ummat menjadi terpecah dan juga berperang, tengoklah Sunni dan Syi’ah, juga Protestan yang menjadi musuh abadi Katolik. Adeuh….perbandingan yang tidak “apple to apple”, Akhi.

Ustadz mempersingkat debat kecil kami dengan mengembalikan topik ke kajian semula. Dengarkanlah beberapa saudara kita yang akan berqurban “ikut – ikutan” dengan ajakan 1/7 bagian sapi ataupun sapi & domba yang lebih mahal, agar apa? Agar dagingnya lebih banyak, agar jumlah sapi lebih banyak dari tahun kemarin dan lainnya. Tetapi ingatlah, bagaimana Ibroh menceritakan Al – Kholil Ibrohim AS. Alloh SWT., telah memerintahkan Ibrohim AS., untuk mengurbankan kecintaannya yang telah lama ditunggunya, yaitu menyembelih anaknya Ismail AS. Begitu cintanya Ibrohim AS., kepada anak semata wayangnya saat itu, Alloh SWT., tidak mau “diduakan” dengan makhluk-NYA.

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan sungguh Alloh apabila mencintai suatu kaum, pasti akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi)

Tengoklah diri ummat saat ini, Toghut – toghut baru berupa harta dan kekayaan telah memalingkan kita dari kenyataan bahwa cinta pada-NYA lah yang seharusnya ditumbuh kembangkan juga diajarkan ke istri dan anak – anak kita. Toghut versi ini telah membuat keikhlasan kita sirna karena dianggap baik dan dianggap wajar. Ketika tetesan darah hewan Qurban menyentuh bumi, bukanlah banyaknya darah, daging, ataupun bulunya yang dilihat-NYA. Hanyalah niat dan keikhlasan para Abdillah, Lillahi Ta’ala.

Tuntunlah kami Yaa Robbi.

Wallohu A’lam bish Showwab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 14 November 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s