RSS

Kampung Zaitun – Kampung Para Ustadz

23 Oct

Assalamu’alaikum Warohmatulohi Wabarokatuh.

Ahlan…Ahlan wa Sahlan. Selamat datang di kampung kami. Kampung Zaitun, di lingkungan Islamic Center. Kampung para Ustadz dan Ustadzah bertempat tinggal. Ada beberapa khalayak yang menyebutkan demikian, Kampung Zaitun, mungkin karena terdapat dua jalan yaitu Zaitun I dan Zaitun II tempat kami tinggal, biarpun tidak ada sama sekali satupun pohon Zaitun yang tumbuh.

Tidak ada satupun non muslim yang diperkenankan berumah tangga disini. Menjadi daya tarik saya pribadi untuk hijrah fisik ke kampung ini. Tidak sulit untuk mencari Masjid di Kompleks Islamic Center ini. Hampir setiap blok terdapat Masjid biarpun Masjid Jami’ disini. Selalu menjadi penyeimbang irama kehidupan di tengah hiruk pikuk suasana kota yang selalu membuat jengah. Hmm, kampung zaitun, kampung mawaddah, kampung Tiin, Kampung, Mina dan lainnya, ada daya tarik di setiap kampungnya.

Berbicara tentang Ustadz. Ada Ustadz Muslim Nasution disini, yang pengajian tiap bulanannya selalu saya tunggu lengkap dengan buku catatan dan pena, Ustazd senior yang nama depan ke-7 anaknya diambil dari huruf MUSLIM (yeah, ada si kembar Izzah dan Iffah), hmmm….ide buat waktu itu kelak. Ada Ustadz Naziri, hafizh Qur’an yang membuat saya merenung ketika Al – Jumu’ah atau Al – Kahfi dibacakan setiap roka’at pertama Maghrib di hari Jum’at, dan selalu Al – Ikhlas untuk roka’at ke-2. Ada Ustadz Syahroni, pengajar di Islamic Center, yang selalu membalas salam saya lengkap dengan senyumnya yang ikhlas, tetapi keras dalam mengajar anak didiknya.  Ustadz Munif, yang mendesain bentuk bangunan mushollla kami. Ada juga Ustazd Rizal yang berkacamata, yang selalu memperhatikan ilmu tajwid dan tartil dalam tiap bacaan sholatnya. Ataupun Ustadz Fushilat, yang mengingatkan saya akan ayat “Wahai Jiwa Yang Tenang…” di 10 hari terakhir Qiyamul Lail Romadhon kemarin. Belum lagi Mirwan Batubara dan Maria Ulfah yang merupakan finalis MTQ Nasional, dari kampung tetangga.

(Masjid Ar – Rohmah)

Silahkan, silahkan datang ke Mushola Ar Rohmah kami, jika waktu sholat telah tiba. Erm….I Prefer Masjid to Mushola (if u dont mind). Ada Akhi Herman yang mengumandangkan adzan di tiap waktu Sholat datang. Masjid yang tidak terlalu besar, tiada berdinding total, yang bahkan para kucing sering tidur – tiduran pun tidak pernah buang air besar di dalamnya. Satu tempat yang selalu menarik untuk membuat halaqoh pengajian dan tarbiyah, seperti halnya yang paling ramai kemarin pengajian sebelum Romadhon tiba. Tafsir Qur’an dan kajian Qur’an selalu dibawakan Ustadz Muslim setiap bulannya. Madrasah di tiap sore untuk para jundi – jundi dibimbing Ustadz – ustadz muda. Buat para kaum hawa, pengajian tiap Sabtu selepas Ashar bisa diikuti dan diisi oleh Ustadz Naziri, oase iman di ladang gersang bernama kehidupan.

(Cocok untuk Halaqoh Pengajian)

Antum seorang Muhammadiyah? NU? Salafi? HTI? Ataupun aktivis Dakwah Partai tertentu? Bukan hal yang pelik dan harus diperdebatkan. Semua pernah berkesempatan menjadi Imam Sholat di Masjid ini. Teringat Ustadz Fushilat yang pernah dianggap seorang Syi’ah (sooo funny) memberi wejangan kepada saya di: “Biarlah Al – Qur’an dan Hadits yang memberi penilaian terhadap seseorang, ingatlah bahwa ke-Tauhidan adalah fundamental dalam Islam, juga ingatlah Awaluddin Ma’rifatulloh”. Sepakat. Sampai sekarang pun saya masih belum bisa setara dalam mengkhatamkan Qur’an dengan beliau dalam tiap Romadhon.

Masih belum cukup dengan pengajian di Masjid ini? Majlis Qur’an Al – Wa’yu Al – Islamy selalu mengadakan pengajian Qur’an di tiap bulannya di Masjid Al – Istiqna. Masjid Islamic Center yang menjadi kebanggaan tiap Muslim di kota ini. Hampir tiap bulan di Masjid ini selalu ada Muallaf yang mengikrarkan Syahadatnya setiap selesai Ibadah Jum’at. Masjid yang selalu dipenuhi para anak yatim piatu pesantren disini.

But heiy….., kemanakah para kaum muda dan remaja di kampung ini dan kampung lainnya? Pengajian – pengajian yang ada selalu dihadiri kaum dewasa dan lanjut usia. Padahal risalah mulia ini  harus diteruskan seperti halnya kewajiban di Ali Imron 110. Hmm, tidak sulit mencari mereka. Tidak jauh di warung ataupun kios rokok terdekat, bersenda gurau dengan sesamanya, bermain karambol ataupun bersenandung dengan gitar, ataupun berikhtilat dengan non mahrom yang masih mengenakan khimar dan seragam sekolah. Carilah mereka di arena Futsal terdekat, yang bahkan adzan maghrib berkumandang masih belum bergegas menuju Masjid terdekat yang ada. Carilah mereka di warnet terdekat, masih menunggu upload foto – foto mereka di situs pertemanan mereka, masih menunggu hasil download mp3 musik artis band kesayangan mereka. Carilah mereka di studio musik di kampung sebelah yang hanya berjarak 10 meter dari Masjid Jami’.

Tidak habis – habisnya membuat kepala ini bergeleng – geleng tanda keheranan. Begitu banyaknya peluang untuk mengisi waktu muda mereka dengan kegiatan – kegiatan untuk bekal tantangan Iman di masa mendatang, tiada satupun yang benar – benar dimanfaatkan, padahal saat ini akidah mereka sedang berperang dengan globalisasi. Lucu sekali, di kampung – kampung Ustadz ini, para jundi – jundi yang ada seakan terlena dengan jumlah mayoritas yang ada. “Iman tidak diturunkan”, teringat pepatah itu dari seorang Ustadz yang pernah silaturohim ke rumah kami.

“Kepunyaan Alloh-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Alloh akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Alloh mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. AlBaqoroh (2) : 284)

“Rosul telah beriman kepada Al – Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Robb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rosul – rosul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rosul – rosul-Nya “, dan mereka mengatakan: ” Kami dengar dan kami taat “. (Mereka berdoa):” Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali .” (Q.S. AlBaqoroh (2) : 285)

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ” Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “. (Q.S. AlBaqoroh (2) : 286)

Wassalamu’alaikum Warohmatulohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 23 October 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s