RSS

Latah VS Istiqomah

08 Oct

Sekira pulang ibadah Jum’at siang tadi, rekan sekantor saya mengatakan betapa dia senang dengan khutbah dan kajian yang disampaikan di masjid tempat kami sholat Jum’at tadi, sekaligus mengungkapkan mengapa selalu mengajak saya untuk sholat Jum’at di masjid tersebut. Beliau sangat senang betapa setiap khutbah di masjid tersebut selalu istiqomah dalam menyampaikan akidah & akhlak yang semestinya dimiliki Muslimin saat ini.

Sambil menikmati makan siang bersama, saya mencoba mengingat – ingat kembali topik khutbah Jum’at tadi. Hmm, benar juga. Ada 3 topik menarik yang disampaikan Khotib siang tadi:

1.       Sadar Diri Muslim

Siapa dirimu? darimana asalmu? siapa Robbmu? bagaimana hidupmu? Akan kemanakah dirimu setelah hidup ini?

2.       Jati Diri Muslim

Bagaimanakah Muslim menjalankan hidup? Bagaimanakah cara pandang Muslim? Bagaimanakah Muslim Istiqomah dalam menjalankan syareat?

3.       Harga Diri Muslim

Izzah dan Iffah seorang Muslim dengan Tauhid yang harusnya dibelanya. 2 ayat yang dikutip sangatlah menarik:

…فَإِن تَنَـٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ ۚ ذَ ٰ لِكَ خَيْرٌوَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (٥٩)

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Alloh (Al – Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kamu benar – benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian.” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 59)

…وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَـٰتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ (٣٠)

“Siapa saja yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Alloh, itu adalah lebih baik baginya di sisi Robbnya.” (Q.S. Al – Hajj (22): 30)

Suapan terakhir, dibarengi minum dan panjat Do’a syukur setelah makan, memang sepantasnyalah disampaikan kepada Robb pengatur alam semesta tanpa daya ini. Ingatan saya pun seolah kembali ke malam Jum’at kemarin, ketika saya kembali menjejakkan kembali kaki di Ibukota dengan menaiki bus kota. Suasana panas Ibukota semakin membuat pengap bus kota. Sepasang Ibu – Ibu yang mengamen menyapa ketika menaiki bus, ntah lagu apa yang dibawakan saat itu. Selepas pengamen pertama, diikuti pengamen kedua ketika bus memasuki daerah Roxy.

Seorang pemuda bergitar, dimulai salam sapa kepada setiap penumpang dan meminta ijin kepada supir dan kenek. Hmmm…mungkin sudah menjadi prosedur standard semua pengamen saat ini menjalankan seperti itu pikir saya, tetapi yang membuat mata saya kembali terbelalak dari menahan kantuk ketika dengan malu – malu pengamen tersebut mengucap “Shalom”, pengamen itu hanya berjarak 1.5 meter dari kursi yang saya duduki.

Dimulailah lagu pertama itu, “Semua indah pada waktunya” dari Grace Natalie kalau tidak salah. Yeah, lirik “Allah” dan “Yesus” terucap dalam lirik – lirik lagu tersebut. Seandainya badan ini terbuat dari es batu, niscaya badan ini sudah mulai menguap ataupun menyublim layaknya kapur barus. Beberapa kali mata kami berpandangan, berkali – kali saya kirim “sinyal” tidak suka dengan perilaku pengamen tersebut. Tetapi mungkin…kepercayaan bahwa harus mendatangkan “Tuhan” mereka dengan lagu ataupun nyanyian telah terpatri begitu dalam. Lagu kedua dengan tempo yang sedikit cepat pun tidak jauh beda mendatangkan “Yesus” dalam lagunya. Setelah lagu kedua, pengamen tersebut sedikit berorasi, betapa “Tuhannya” tidak membeda – bedakan “kasih-NYA” kepada semua manusia. Seolah tidak ada yang menghentikan dimulailah lagu ketiga “Dari terbit Matahari”, lagu yang sudah saya dengarkan dari anak – anak sekolah Minggu sejak saya duduk di bangku SD dahulu.

Bus sudah memasuki daerah Tomang, 3 lagu tampaknya cukup membuat saya eneg tentang cerita kasih “Allah”. Bermodalkan topinya, mengharap rejeki dari lagu pujiannya, sekaligus kembali berorasi kasih-NYA yang tidak membeda – bedakan. Tampaknya hanya sedikit yang bisa didapatkannya dari baris depan sampai tengah, dengan melewatkan barisan tempat duduk saya. Sampai akhirnya ada penumpang yang memberinya uang lembaran, seraya berterima kasih pengamen tersebut mengucap “Tuhan memberkatimu, saudaraku.”

Di lain cerita, teman saya yang berkesempatan berlibur di Bali bercerita. Bagaimana dia mengikuti renungan suci setahun Bom Bali I saat itu. Dengan semangat ‘45 dia bercerita, semua pengunjung multi etnis dan multi agama hadir di “Ground Zero”, berkumpul membawa rangkaian bunga, memakai pakaian serba hitam, menyalakan api lilin, memasang bunga di telinganya layaknya orang Bali dan bersenandung dan meratap bersama. Saya memotong cerita dia saat itu, “Apakah perlu berdo’a dengan membawa lilin dan berpakaian serba hitam serta bunga di telinga? Hal demikian kan tasyabuh namanya?” Jawabannya cukup sederhana, “Saya menghormati panitia dan ummat lain saja”.

Latah adalah kata yang langsung terlintas di benak saya saat itu. Sedikit demi sedikit pemikiran ummat Islam diselewengkan dengan kata – kata “damai untuk sesama”, “Kasih-NYA untuk semua”, seolah – olah semua ritual dan cara pandang ummat diluar kita semakin wajar diterima oleh akal pikiran Muslimin.

فَاسْتَقِمْ كَـمَآ أُمِرْتُ… (١١٢)

“Tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu…” (Q.S. Huud (11): 112)

إِنَّ الَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَـٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَـٰٓىِٕكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحْزَنُواْ وَأَبْشِرُواْ بِاالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ (٣٠)

“Sesungguhnya orang – orang yang berkata, ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, serta bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’ (Q.S. Al – Fushshillat (41): 30)

Ataukah Muslim saat ini memang malu dengan jati diri ke-Islamannya? Sampai – sampai sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta mengikuti orang – orang diluar Tauhid ini bahkan masuk lubang biawak pun akan mengikuti? Padahal Alloh tidak membebani seseorang melainkan dengan kemampuannya (Al – Baqoroh (2): 286), pun demikian firman-NYA dalam Qur’an:

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ (٢)

“Kami tidak menurunkan Al – Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Q.S. Thôhā (20): 2)

Latah VS Istiqomah. Tidak salah memang masa – masa banyaknya Muslim dan berbangga dengan jumlahnya, tetapi miskin akidah, miskin pemahaman, malu dalam menjalankan, juga menjadi objek pengeruk kekayaan dari kapitalis kafir. Islam dan Syari’at Islam, Why Not? Sepakatkah Ikhwanul Akhwat Fillaah?

يَــٰٓــأَ يبُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنْصُرُواْ اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

“Jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya DIA akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad (47): 7)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 8 October 2010 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s