RSS

Catatan (Tersisa) Romadhon 1431 H

22 Sep

Romadhon yang baru saja kita lewati kemarin, begitu menyisakan begitu banyak catatan di sekeliling kita. Salah satu bulan yang diistimewakan Alloh SWT., untuk hamba-NYA tanpa kecuali. Begitu mesra dan indahnya Alloh menurunkan perintah-NYA, dengan dimulai kata – kata “Yaa ayyuhalladzii na ‘Aamanu…”, “Wahai orang – orang yang beriman” tanpa kecuali melihat sebesar apa keimanan kita pada-NYA, yang diakhiri “Laallakum Tattaquun”…“Agar kamu bertakwa” pada tingkatan lebih tinggi keimanan hamba.

Entah mengapa, di Bulan Romadhon yang dimuliakan itu, syaitan – syaitan dibelenggu, tetapi sifat syaitan yang berupa nafsu dalam diri manusia seakan – akan tidak mengenal tempat dan waktu. Seseorang teman menyebutkan, “mungkin…memang pada akhirnya, kita memenangkan syaitan untuk mengatur diri ini.”

1. Amarah dan Pertengkaran

Tidak susah memang syaitan menyimpan nafsu amarah ini di posisi awal, gangguan yang terkadang dari luar (ataupun dari ummat di luar Dien ini) bagaikan alang – alang kering yang tidak perlu tambahan bahan bakar dan api lagi untuk menciptakan api dalam segitiga api amarah.

“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Alloh akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” (H.R. Tirmidzi)

Dari Abu Umarah RA,, bahwa Rosululloh SAW., bersabda: “Barangsiapa menghindari pertengkaran, padahal ia salah, maka akan dibangunkan baginya rumah disekitar surga. Dan barangsiapa meninggalkan pertengkaran sedang ia benar, maka akan dibangunkan baginya rumah dilantai tengah surga. Sedang barangsiapa membaguskan akhlaknya, akan dibangunkan untuknya rumah dilantai paling atas dari surga”. (H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Hmm, kira – kira lupakah kita pada tuntunan untuk mengucapkan “Inni Shoimuun?”

2.    Kemajuan Shof Sholat

Baru saja melewati 10 hari pertama Romadhon, tampaknya terjadi kemajuan dalam shof sholat, ya…semakin maju mendekati Imam bukan kemajuan dalam jumlah Shof Sholat. Padahal, 10 hari kedua dan ketiga semakin meningkat Janji Ridho-NYA apalagi sampai pembebasan dari api neraka.

Ataukah…memang kita tidak menginginkan sampai yang dijanjikan Alloh? Atau sedang disibukkan untuk mengejar tambahan penghasilan untuk menambah THR di akhir Romadhon?

3.    Ghibah dan Dusta

Semua orang mungkin berlomba – lomba menjadi presenter acara ghibah di stasiun TV lokal, tidak perlu sampai mengikuti pendidikan presenter atau broadcasting, mulut ini lebih tajam dari silet sekalipun. Tetapi lucunya, jika ditanyakan ke yang bersangkutan, niscaya akan berkata “Ya, saya sedang Shoum.”

“Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” (H.R. Muslim)

Dari Abu Hurairoh RA., Rosululloh SAW., bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan telah berdusta apabila ia membicarakan segala yang didengarnya.” (H.R.Muslim)

4.    Berpakaian tapi Telanjang

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat, lalu beliau menyebutkan salah satunya, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Kutuklah mereka itu karena mereka itu hakikatnya terkutuk. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Dan bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu”. (H.R. Muslim)

Hmm, ternyata masih saja beberapa muslimah “bermain – main dengan hati” bahkan dengan aturan Alloh Al – Haqq dengan menyebutkan jilbabkan dulu hatinya. Jika ditanyakan apakah yang bersangkutan muslim, pasti akan menjawab iya, bahkan ada yang lebih lengkap menjawab dengan kalimat agung Tauhid. Tapi tahukah konsekuensi kalimat Tauhid yang Agung itu? Terkesan setengah – setengah apabila jilbabkan dulu hatinya. Kalau boleh ditanyakan kembali, apakah kewajiban sholat fardhu boleh dilakukan setengah – setengah dulu? Akhwat Fillaah, Alloh meminta dan mewajibkan kita untuk Islam secara Kaffah, tidak ada yang setengah – setengah ataupun daerah abu – abu.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al – Ahzab (33): 59)

Na’udzu billaahi min Dzaalik, bahkan ada diantara kalian yang memang berani dan semakin berani pada Romadhon kemarin dalam hal berpakaian, bukankah itu wujud penentangan? Kalau Anti sekalian mengatakan yang namanya dakwah itu tujuannya hati jadi harus dengan hati, maka dimanakah hati kalian condongkan saat ini? Seharusnya pada Alloh Malikin Naas bukan?

5.    Qur’an yang “Ditinggalkan”

Amaliah mulia yang satu ini tampaknya memang semakin “ditinggalkan”, Qur’an yang ada di sudut rak rumah atau kamar kita masih tampak bersih seperti pertama kali pindah tangan setelah transaksi pembayaran ataupun setelah ijab kabul pernikahan.

“Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafaat kepada pembacanya. (H.R. Muslim)

Alhamdulillah masih ada diantara kita yang masih memuliakan Qur’an, berlomba – lomba untuk mengkhatamkannya sebanyak mungkin. Tetapi saudaraku, kewajiban dan hak Qur’an untuk kita bukan hanya untuk dikhatamkan saja, tetapi juga ditadabburi dan diamalkan isinya. Maka dari itu, mengapa sampai bertindak ujub ataupun sum’ah dengan bertanya ke yang lain sudah berapa kali mengkhatamkan Qur’an? Hmmm, akan ada masanya Al – Qur’an hanya sampai tenggorokan saja seperti dalam haditsnya.

6.    Kalau Private, kenapa tidak disimpan?

Penyakit dan virus ini seringkali didapati pada halaman status pertemanan kita sekalian.

“Alhamdulillah, es buah dan ayam bakar sudah disiapkan istri saya tercinta untuk Ifthor nanti.” Aduh, sudah jelas yang namanya Shoum itu untuk belajar menahan diri. Memang sepintas tidak ada salahnya dari status yang ditampilkan tersebut, tetapi jika dilihat lagi dan lagi yang status bersangkutan dapat menimbulkan kecemburuan sosial, malah menunjukkan yang bersangkutan justru tidak menahan diri untuk berbuka.

“Aduuh, shoum hari ini saya benar – benar diuji dengan amarah.” Saudaraku, ingatlah yang namanya Shoum itu hanya Alloh dan Antum saja yang tahu! Dan Shoum itu hanya untuk Alloh, bukan untuk disimpan pada status halaman situs pertemanan kalian!!!

7.    Susahnya Memaafkan

Setelah Romadhon “boot camp training” kemarin, akhirnya tibalah kita pada pagi pertama di bulan Syawal 1431 H. Segala sunnah dalam menghadapi sholat Iedul Fitri kita ikuti; mandi, berpakaian terbaik, memakai wangi – wangian, makan sebelum berangkat sholat, tidak meninggalkan tempat sholat sampai khutbah Ied selesai.

Tetapi apa setelah itu? Kewajiban untuk saling memaafkan ternyata bukan yang kita pilih, berat sekali tampaknya menyegerakan kewajiban yang satu ini. Apakah memang berat dalam menelepon dan berkunjung langsung? Bukankah masih ada sms? Ataukah merasa lebih berumur jadi menunggu yang muda? Apakah memang yakin masih ada hari esok  untuk bermaaf – maafan?

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S Ali ‘Imron (3): 133 – 134)

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Alloh Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 149)

Begitu pula dijelaskan dalam kedua hadits berikut:

“Yang disebut bersilaturrohim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrohim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus.” (H.R. Bukhori)

Dalam sebuah hadits diungkapkan, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada sholat dan shoum?” tanya Rosul pada para sahabat. “Tentu saja,” jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi.” (Muttafaq Alaih)

Subhanalloh, Uswah Hasanah sampai menyebutkan adab bermaaf – maafan dan silaturrohim bahkan lebih besar dari Sholat dan Shoum. Lalu, apa yang menghalangi demikian pada kalian saudaraku? Dan, lalu buat apa arti penggemblengan Romadhon buat antum sekalian kemarin Ikhwanul Akhwat Fillaah? Astaghfirullohal ‘Adziim.

8.    Kembali pada Fitrah atau Fitri?

Ya, hari Iedul Fitri. Kembali pada fitrah ataukah kembali pada fitri (suci). Inilah yang harus kita jawab sendiri. Kembali pada fitrah kita sebagai manusia yang bergelimangan dosa yang cenderung akan membuat dosa kembali? Ataukah memang kembali pada titik fitri suci tanpa ada dosa? Ikhwanul Akhwat Fillah, sesungguhnya Shoum kita akan mencerminkan adab perilaku dan ibadah kita di sebelas bulan lainnya.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-NYA (Q.S. Al – Fajr (89): 27 – 28)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 22 September 2010 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s