RSS

Ada apa (memangnya) dengan Islam saat ini?

19 Jul

Benarkah Akhi/ Ukhti seorang Mujahid? Mengaku sebagai Mujahid, sebagai aktivis, tapi kenapa akhlak maupun ibadahnya tidak mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai Mujahid, namun ternoda dan tergoda oleh selain-NYA. Alloh SWT., berfirman dalam Al – Qur’an:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِ ينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَـٰذِبِينَ (٣)

“Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(Q.S. Al Ankaabut (29): 2 3)

Jangan – jangan, masih khayalan dan angan-angan kosong belaka. Merindukan Jannah, tapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa.

أَمْ حَسِبْتمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَـٰهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّـٰبِرِينَ (١٤٢)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al – Maa’idah (3): 142). Ya, kita mengira akan masuk surga dengan paham ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar – besarnya, semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.”

“Ada apa dengan Mujahid saat ini?”

Robbi, sesungguhnya Hari Akhir itu adalah perkara yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal. Rosululloh SAW bersabda: “Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.”

Demi Alloh… yang jiwa kita berada di tangan-NYA, keimanan bukanlah dilihat dari yang paling keras takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Mujahid yang sabar menapaki hari – hari dengan mengibarkan kalimat Tauhid, selalu bermujahadah mengamalkan Al – Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti.

Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berdakwah dan beribadah, sudah menganggap diri telah melakukan totalitas jihad? Padahal para Nabi tidaklah menjadikan dakwah risalah Tauhid ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5:

قَالَ رَبِّ إِنِّى دَعَوْتُ قَوْمِى لَيْلًاوَنَهَارًا (٥)

“….Wahai Robb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.”

Pun begitu dalam surat Al – Muddatsir:

يَـــٰٓــــأَيُّهَاالْمُدَّثِّرُ(١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣)

“Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Robbmu agungkanlah.” Sejak ayat itu turun, Nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang ajalnya, Rosululloh tengah menyiapkan jihad untuk menegakkan Al – Haqq.

Ingin menjadi Ummat terbaik, tetapi makanannya adalah sebaik – baik makanan, pakaiannya adalah sebaik – baik pakaian. Dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron – sinetron cinta dan acara gosip, mendengar lagu – lagu cinta picisan, berghibah, perut kenyang, banyak tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan Jannah?

“Ada apa dengan Ummat saat ini?”

Sangatlah jauh… bagaikan pungguk merindukan bulan. Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rosululloh SAW dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup, memilih hidup Uzlah…terasing dari dunia. Tidak pernah terlintas kemiskinan, kelaparan ataupun kehimpitan hati.

“Saya masih mempunyai Alloh dan Rosul-NYA!!”

Khalifah harus memahami jalan mendaki yang akan dilaluinya. Nabi SAW tak pernah tertawa keras apatah lagi terbahak – bahak, dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga dan neraka. Ada amanah dakwah yang besar di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak bercanda? Imam Hasan Al – Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10 wasiatnya. Dan dikisahkan pula bahwa Sultan Sholahuddin Al – Ayyubi tak pernah tertawa karena Yerusalem belum terbebaskan.

“Ada apa dengan Khalifah saat ini?”

“Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya).” (HR. Muslim). Dimanakah air mata keimanan? Robbi…, ampunilah kelemahan kami dalam mengusung panji Tauhid – Mu…

Menjadi Ummat terbaik, Mujahid dan Khalifah di muka bumi ini, hendaknya bukan angan – angan belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (HR. Ibnu Babuya, Tsawab ul A mal).

Pembuktian cinta Ummat, Mujahid dan Khalifah, haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan makna kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar Sang Kekasih Abadi percaya bahwa kita mencintai-NYA. Kita mencintai-NYA dan Dia pun mencintai kita.

يَـــٰٓــــأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِى اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ…(٥٤)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya….” (Q.S. Al Maaidah (3): 54).

[Ada apa memangnya dengan Islam saat ini?]

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 19 July 2010 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

2 responses to “Ada apa (memangnya) dengan Islam saat ini?

  1. Abu Ghiffary

    25 August 2010 at 11:07 AM

    Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat.

    Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

    Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

     
    • hanifroad

      25 August 2010 at 9:45 PM

      Assalamu’alaikum Wr., Wb.

      Alhamdulillah wa Naudzu billaahi min dzaalik. Memang begitulah kenyataannya ummat saat ini, Hubud Dunya Wakarohiyatul Maut. Ghiroh ini terkadang melemah seiring futur yang sering datang. Sangat luar biasa memang para salaf 3 generasi terbaik dahulu, teringat bahwa Rosululloh SAW “mengislamkan” Bilal dan Salman Al Farisi tidak butuh waktu 10 tahun. Tapi tengoklah saudara kita saat ini, yang Islam karena “orangtua”, tidak pernah mau bersyukur. Mau sampai kapan? bahkan sampai – sampai karena “mubah” akhirnya terbiasa dan mengikuti ummat di luar tauhid yang mulia ini.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s