RSS

Kehancuran Bangsa….Kehancuran Keturunan

28 Jun

[Tauziah dari Bpk. Ary Ginanjar Agustian – ESQ 165 Way]

[Rahasia Menuju Kesuksesan]

[Channel Tvone, Sabtu, 26 Juni 2010, 20:30 WIB]


Sebuah survey mengungkapkan 22% anak SMU pernah melakukan aborsi. Ini sudah jelas sebuah bencana yang hebat, bencana bagi peradaban ummat manusia. Masih hangat di pemberitaan media, betapa artis yang menjadi role model ABG terjerat skandal video porno. Terlepas dari benar tidaknya pelaku – pelaku video tersebut, ternyata…inilah potret role model yang masih saja menjadi “kiblat gaul” ABG saat ini.

Ingatkah betapa peradaban – peradaban maju di masa lampau, dihancurkan langsung oleh Alloh ‘Azza wa Jalla? dengan bencana alam maha dahsyat. Kisah kaum Nabi Nuh AS., kaum Nabi Sholeh AS., kaum Nabi Luth AS., ataupun sampai kota Pompei yang serupa dengan kaum Nabi Luth AS., yang kesemuanya karena mengingkari dan menolak kebenaran yang Haqq. Saat ini kehancuran bukanlah hanya berupa bencana alam, tetapi kehancuran moral bangsa, kehancuran laten dari dalam.

Sangat miris, mengingat hasil survey yang disampaikan Ustadz Muslim Nasution di suatu pengajian, Naruto, Christiano Ronaldo, Britney Spears, yang menjadi 3 besar idola anak – anak saat ini. Tidak serta merta menafikan sistem pengajaran formal di sekolah. Sekolah?hanya berapa jam sehari dan dalam seminggu anak – anak mendapat pendidikan? Dari kecil pun kita yang saat ini menjadi orang dewasa maupun orang tua, telah didoktrin sistem pendidikan saat ini. Sekolah biar pintar matematika, kimia, fisika, biologi, english, ekonomi, psikologi dan lainnya, buat apa?agar dapat UMPTN di jurusan favorit, untuk apa?agar mendapat pekerjaan gaji besar, untuk apa?agar menjadi orang sukses. Lupakah?tentunya sistem kurikulum yang ada pun hanya untuk terus mengasah otak kiri saja, mengasah kecerdasan intelektual saja (IQ).

Tidak salah, sampai akhirnya kepintaran itu menjadi bumerang peradaban. Korupsi dimana-mana bahkan sampai ke departemen agama, Naudzubillaahi min Dzaalik. Apakah harus melulu uang uang uang, lantas sudah bisa disebut sukses? Apakah ini yang disebut sukses?

Kembali lagi ke masalah video porno. Untuk membentengi tentulah ada 2 cara; dari luar dan dalam.

1.      Dari Luar

Mengurung anak di rumah?tidak mungkin. Tidak memberikan hape ke anak?bisa lewat teman, bisa lari ke warnet. Era teknologi memungkinkan semua orang menjadi melek informasi, era digital diawali bilangan biner (bilangan nol dan satu) yang seharusnya memberikan kemudahan mendapatkan informasi, tanpa proxy setting sama sekali. Tidak mungkin menjadi intel dan satpam 24 jam bagi anak saat ini, bahkan anak – anak zaman ini lebih melek teknologi daripada orangtuanya, yang sudah kalah jauh tertinggal. Ali bin Abi Tholib RA., berkata:

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena kelak mereka akan hidup di zaman yang berbeda denganmu.” 

Tinggal diambil hikmahnya, orangtua juga harus pintar dalam menghadapi zaman anak mereka. Inilah yang menjadi kekurangan orangtua saat ini, ketertinggalan pengalaman semasa muda, tanpa hape, hanya ada surat dan telegram, banyak sekali celah benteng dari luar ini.

2.      Dari Dalam

Awaluddin Ma’rifatulloh. Awalnya Dien adalah mengenal Alloh. Belajar itu dari alam rahim sampai liang kubur. Tidakkah kita dikotori oleh paham memperdengarkan musik klasik ke jabang bayi kita?bukannya tartil ayat – ayat Al – Qur’an yang Agung yang dibacakan kedua orangtuanya? Mengajari anak mulai sholat dari usia 7 tahun, mengenalkan jilbab sejak dini. MENGAPA? Karena Alloh SWT yang menyuruh demikian!!! Anak (terutama) pada usia golden age (4 – 5 tahun) merupakan usia keemasan mendidik pola Islami. Segala yang dilakukan oleh orangtua akan diikuti oleh anak, akan banyak tanya mengapa begini mengapa begitu? Lalu, apa yang telah kita contohkan ke anak – anak kita? Papa sibuk, Mama arisan, maka pembantulah yang menjadi panutan dan sandaran. Tentunya kita ingat balita perokok bermulut kotor yang mengetahui lokalisasi WTS, karena “salah asuhan.”

Imam Al – Ghozali mengatakan: “Anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Dan hatinya yang suci itu adalah permata yang mahal.  Apabila ia diajar dan dibiasakan kebaikan, maka ia akan tumbuh pada kebaikan itu dan akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.  Tetapi apabila ia dibiasakan untuk melakukan kejahatan (hal yang tidak baik), maka ia akan sengsara dan binasa”.

Usia dini merupakan usia dimana pendidikan visual akan selalu melekat sampai kapanpun. Tidak percaya? Coba sekarang tutup mata anda, lalu gambarlah gambar pemandangan. Saya yakin, banyak diantara kita bahkan akan menggambar seperti ini:

Seringkali orangtua memberikan hadiah dan penghargaan ketika anak mendapatkan nilai ujian yang bagus pada Ma-Fi-Ki-Bi-Eng (matematika, kimia, fisika, biologi, english), tetapi pernahkan memberikan penghargaan atau minimal ucapan terima kasih ketika anak jujur akan kesalahannya memecahkan atau menghilangkan barang berharga di dalam rumah?

Sungguh naif, ketika dulu kita dengan khusyuknya memohon akan hadirnya keturunan yang akan menjadi buah cinta, yang akan meneruskan cita – cita ketauhidan, dakwah dan ibadah ini, tetapi ketika telah titipan-NYA hadir, hanya saling melempar tanggung jawab kependidikannya. Lalu sebenarnya, manakah yang sebenarnya terjadi? Kenakalan Anak? Atau…Kenakalan Orang tua? Rosululloh SAW., bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Abu  Hurairoh dan Al – Bukhori)

Tentunya para orangtua saat ini ingat, sangat ingat, bagaimana mereka menghabiskan umur mudanya. Bagaimana ketika hari ulang tahun anda saat itu? dirayakan dengan mentraktir teman – teman, dibanjur, dilempari telur dan tepung. Belum lagi kado didapat, sudah ditagih untuk mentraktir teman – teman. Atau yang hidup di lingkungan musik? Diskotik, rokok dan minuman keras selayaknya kuaci dan air putih saja. Kenapa hal itu terjadi? Karena anak butuh eksistensi pengakuan dirinya dari lingkungan teman – temannya, itulah saat kita semua (katanya) mencari jati diri. Terkadang, orangtua saat ini heran dan khawatir, jika anak – anaknya belum punya pacar, ataupun tidak keluar “hang out” menghabiskan malam minggu, anak justru akan dianggap kuper karena tidak gaul, ataupun abnormal. Naudzubillahi min Dzaalik. Pernahkah kita menghitung – hitung, berapa perbandingan kita mengajak anak – anak ke Madrasah atau Liqo maupun harokah, daripada mengajak ke Mall?

Anak kita bukanlah Salman Al Farisi, anak bangsawan Persia yang meninggalkan status “darah birunya” untuk mencari kebenaran akan keIslaman, Dien yang Haqq seorang diri. Anak kita bukanlah Nabi Yusuf AS., yang lebih takut akan Robb-NYA dan tidak mempan fitnah dari wanita cantik. Anak kita bukanlah Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani, yang teguh memegang zuhud, qona’ah dan tawakkal.

Kita pun bukanlah Nabi Ayyub AS., yang ikhlas ketika semua anaknya dipanggil Robbul Izzati. Kita pun bukan setegar Bunda Hajar, yang ikhlas ditinggalkan berdua dengan Nabi Ismail AS., oleh suaminya Nabi Ibrohim AS., Al Kholil., yang berlari – lari diantara kedua bukit tandus mencari – cari air untuk buah hatinya merengek kehausan.

Tapi, banyak – banyaklah bersyukur dengan menyebut nama-NYA yang Agung. Kita telah diberi nikmat Iman dan Islam. Kita telah dititipkan Qur’an dan Sunnah, yang kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya. Lalu, siapkah kita? Maukah kita? Mampukah kita? Menitipkan dan mengajarkan risalah yang telah sempurna ini? Islam dengan turunnya Qur’an tidaklah susah, bahkan juga tidak membuat kita menjadi susah (Q.S. Thoha: 2).

[ESQ 165 Way. 1 Ihsan, 6 Rukun Iman, 5 Rukun Islam]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 28 June 2010 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s