RSS

Mewujudkan ke – Tauhidan

15 Jun

[Kajian kali ini hasil jalan – jalan dari beberapa majelis, situs dan sharing kajian Islam saya pribadi. Dengan hanya mengharap ridho-NYA, tanpa berniat menyalahkan, membenarkan, menyindir ataupun berniat menyerang manhaj ataupun harokah tertentu, Insya Alloh tidak ada].

“Laa Ilaaha Illalloh”

Di suatu kesempatan, saya sedang membuka – buka situs Islam di waktu senggang di saat istirahat kantor. Tiba – tiba seorang rekan sekantor di luar Dien ini mendatangi saya, sedikit bercanda dan menyindir tentang kondisi Israel – Gaza yang sedang hangat – hangatnya. Sampai akhirnya, rekan saya tersebut mengucapkan salah satu ayat Alkitab yang kurang lebih seperti ini…….”bukanlah anak – anak Allah bagi mereka yang berseru kepada Allah tapi melakukan kejahatan…” Serasa panas mendengarnya, saya pun membalasnya dengan surat pendek penuh makna yang pasti sudah sangat kita hapal:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (١)

“Katakanlah: DIA-lah Alloh, Yang Maha Tunggal”

اللهُ الصَّمَدُ (٢)

“Alloh adalah Tuhan yang bergantung kepada-NYA segala sesuatu”

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)

“DIA tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدُ (٤)

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan DIA.”

(Q.S. Al – Ikhlas (112): 1 – 4)

Dalam hati kecil ini, bisa – bisanya berbicara dengan saya tentang “anak – anak Tuhan”, sudah jelas salah, tapi yah…apa hendak dikata, selalu atas nama “percaya” selalu membutakan kebenaran yang Haqq. Lantas, teringat satu frase…”Awaluddin Ma’rifatulloh” (awalnya agama adalah dengan mengenal Alloh). Kemudian ingatan ini terasa flash back dengan tadarus yang pernah membuat mata ini melelehkan air mata, bagaimana Nabi Ibrohim AS., Bapak ke-Tauhidan, mencari sendiri Illah (sesembahan) beliau yang Haqq, seperti yang diriwayatkan dalam surat Al – An’am (6): 74 – 87.

Beruntunglah dan bersyukur dengan banyak – banyak menyebut nama-NYA yang agung saudaraku, betapa kita tinggal menjalankan risalah yang telah sempurna ini, yang telah diwarisi oleh junjungan kita Rosululloh Muhammad SAW.

Tetapi, langsung terpikir oleh saya, mengapa rekan sekantor itu bisa “percaya” dengan sesembahannya? Apakah memang dia sudah benar – benar mengenal siapa Robb-nya?sampai – sampai percaya buta dengan yang diyakininya? Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan tentang tingkatan cara mewujudkan ke-Tauhidan:

1. Adanya Ilmu

Tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/ memahami/ mengenal-NYA.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ… (١٩)

“Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar – benar berhak disemban selain Alloh.” (Q.S. Muhammad (47): 19). Benarlah apa yang telah difirmankan-NYA dalam Qur’an, betapa Alloh SWT. akan meninggikan derajat orang – orang yang beriman dan ber’ilmu.

2. Itikad

Jika setelah mengetahui/ memahami/ mengenal-NYA tapi tidak meyakini dan menyombongkan diri, berarti belum mengakui ke-Tauhidan.

أَجَعَلَ الْأَ لِهَةَ إِلَـٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ (٥)

“Apakah dia (Muhammad) hendak menjadikan sesembahan – sesembahan yang banyak itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.” (Q.S. Shood (38): 5). Justru sangat mengherankan mempunyai banyak sesembahan, apalagi sesembahan tersebut merasa paling mulia. Na’udzubillaahi min Dzaalik.

3. Ketundukan

Jika telah mengetahui/ memahami/ mengenal-NYA tapi tetap tidak tunduk pada syareat dan hukum-NYA, maka Tauhid itu belum terwujud.

إِنَّهُمْ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ (٣٥) وَيَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ (٣٦)

Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illalloh”, maka mereka pun menyombongkan diri dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan – sesembahan kami hanya gara – gara seorang penyair gila?” (Q.S. Ash – Shoffat (37): 35 – 36). Hmm, sangat berhubungan dengan perintah bertakwa dengan sebenar – benar takwa, juga jangan sampai mati dalam keadaan tidak Islam.

Hmm, kajian Tauhid, serasa butuh waktu sepanjang hidup untuk mengkajinya. Teringat bahwasanya bendera negara Arab Saudi bertuliskan kalimat Tauhid, yang baru akan membuat kesepakatan hubungan diplomatik dengan negara – negara lain, yang jika negara lain sedang berduka melakukan “penghormatan” dengan memasang bendera setengah tiang, bendera negara Arab Saudi akan selalu tetap berkibar di tiang tertinggi. Iya ya, buat apa tunduk pada aturan sesama makhluk-NYA, apalagi yang merendahkan martabat dan risalah Al – Haqq ‘Azza wa Jalla.

Menurut Syaikh Abdullah bin Ahmad Al – Huwail, ada 8 cabang keilmuan tentang Tauhid:

1. Ilmu tentang Laa Ilaah Illalloh

2. Keyakinan, menepis keragu – raguan

3. Keikhlasan, menepis kemusyrikan

4. Kejujuran, menepis dusta/ kepura – puraan

5. Kecintaan, menepis kebencian

6. Ketundukan, menepis sikap meninggalkan

7. Qona’an, menepis penolakan

8. Mengingkari segala sesembahan selain Alloh SWT.

Setelah beberapa hasil kajian singkat ini. Cobalah kita berpikir sejenak, ketika kita menyebutkan kalimat Tauhid yang Agung, ingatlah segala konsekuensi dan syareat-NYA yang harus dijalankan. Imbalan Jannah yang Abadi? Mengapa Tidak?

Hmm, sampai akhirnya, saya harus punya hasil kajian minimal untuk diri sendiri tentang apa itu Tauhid, yang akan selalu saya asah dan bimbing untuk menuju yang Haqq, Insya Alloh. Tauhid menurut saya adalah:

“Meng-Esa-kan Alloh SWT., saja dalam hal perbuatan, penyembahan dan asma-NYA, dan pengakuan dan atau pengikraran bahwa tiada sesuatupun Ilah yang sebenar – benarnya pantas dan berhak disembah kecuali Alloh Azza wa Jalla, dengan berpegang teguh juga menerima dan menjalankan segala konsekuensi untuk melaksanakan perintah-NYA.”

Wallohu A’lam bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 15 June 2010 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s