RSS

Jenazah Istri yang Lebih Wangi

24 May

”Suamimu, adalah Surga – Nerakamu!!”

Kisah ini terjadi di zaman dulu. Di suatu daerah terpencil di Jawa Timur, hiduplah pasangan suami istri yang hidup sederhana, tetapi Izzah dalam keIslamannya. Pasangan suami istri yang begitu cocok satu sama lain di pandangan mata warga dan tetangga sekitarnya. Karunia berupa anak – anak yang sholeh – sholehah merupakan bukti nyata dalam pengabdian mereka pada-NYA.

Istri tersebut dalam cerita ini, bahkan menurut saya, begitu mencerminkan penerapan An – Nisaa’ ayat 34, benar – benar menempatkan posisinya di belakang suaminya, Sang Qowwam yang membawanya sukses dunia akherat, bukan sekedar “Konco Wingking”, teman di belakang bagi suami, yang menemani suami jika hanya mampu dan mau menurut suasana hatinya.

“Wanita dinikahi karena empat hal; karena harta, keturunan, kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang punya agama, jangan berpaling kepada yang lainnya semoga dapat berkah” (H.R. Bukhori dan Muslim).

Sampai akhirnya ketetapan Alloh ‘Azza wa Jalla sejak zaman Azali, berlaku pada istri tersebut. Istri tersebut pergi menghadap Kholik-NYA mendahului suaminya. Teringat kajian tentang Lauh Mahfuzh, “Tidak ada yang dapat merubah takdir melainkan do’a, tidak ada yang dapat memperpanjang umur melainkan amal kebaikan.” Tetapi, kita juga harus mengimani ayat-NYA:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ  ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ  ۖ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 216).

Ya, Alloh-lah pemilik kunci – kunci segala pengetahuan yang Ghoib. Keinginan manusia memang selayaknya diwujudkan dalam ikhtiar, sisanya tawakkal. Tidak boleh sampai suudzon kenapa begini kenapa begitu pada-NYA. Selang beberapa waktu, ketetapan Alloh pun akhirnya datang, kadar umur itu datang pada suaminya pula. Jenazah suami tersebut diputuskan akan dimakamkan tepat di sebelah makam istrinya. Ketika para penggali kubur mempersiapkan galian tanah kubur bagi suaminya, tercium semerbak wangi yang sangat kuat. Selidik punya selidik, aroma semerbak wangi itu ternyata datang dari galian kubur makam istri yang menghadap-NYA lebih dulu. Beberapa penggali kubur benar – benar terheran – heran perihal aroma wangi dari jenazah istri tersebut, yang lazimnya beraroma busuk akibat proses pembusukan senyawa – senyawa organik penyusun tubuh ini.

Salah seorang penggali kubur, akhirnya bertanya kepada salah seorang anak dari ahli kubur tersebut, kira – kira amaliah macam apakah yang dilakukan oleh almarhum istri tersebut selama hidupnya? Sang anak menjawab. Ibunya tersebut benar – benar memposisikan diri sebagai supporter utama almarhum bapaknya. Begitu setia menemani dan melayani suaminya, tanpa mengeluh, tanpa berkesah, tanpa bertanya. Bahkan….sampai – sampai….almarhum Ibunya mencabuti dulu seluruh tulang – tulang ikan sampai bersih sebagai lauk makan, lalu kemudian menyuapi suaminya dengan ikan yang sudah benar bersih dari tulangnya.

“Subhanalloh………..Subhanalloh wa Bihamdihi”

Ada lagi kisah teladan dari Ummu Sulaim, sohabiyah yang termahal maharnya. Beliau mau menerima pinangan Abu Thalhah yang dengan syarat keislaman Abu Thalhah sebagai maharnya. Insya Alloh, Ummu Sulaim tidak begitu saja menerima begitu saja kalau tidak yakin dengan kesungguhan dan komitmen Abu Thalhah untuk berislam. Dan ternyata setelah masuk Islam, Abu Thalhah menjadi salah satu sahabat Rosululloh SAW yang istimewa.

Tidak mudah untuk menjadi Ummu Sulaim, karena suami yang akan menjadi Qowwam rumah tangga nantinya, yang akan lebih dominan. Ada beberapa kisah akhwat yang sebelum menikah dia sudah ter-tarbiyah dan aktif dalam dakwah kemudian menikah dengan seorang ikhwan hanif dengan harapan nantinya sang suami bisa diajak ikut tarbiyah dan dakwah, tetapi ternyata kenyataanya tak seindah impiannya semasa taaruf nikah, suami tidak mau mengaji apalagi dakwah dan sang istri pun akhirnya juga tak lagi berada dalam barisan dakwah. Apalagi, sampai menjadikan taat pada suami sebagai alasan untuk tidak dakwah.

Berpulang kepada anda semua para Ibu, para Istri dan para calon Istri. Apakah ingin mengambil contoh Ummu Khodijah? Ummu Aisyah? Ummu Asiyah? Ummu Masithoh? Ummu Muthiah? Ummu Sulaim? Ummu Khansa? Atau hanya cukup Ummi bagi anak – anaknya?  Atau…ingin mengambil contoh Ummi artis – artis sinetron, yang menitipkan keperluan hakiki anak – anak dan suaminya pada pembantu?

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآ ؤُكُمْ وَأَبْنَآ ؤُكُمْ وَإِخْوَٰ نُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ اقْـتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأْتِىَ اللهُ بِأَمْرِهِ  ۗ وَاللهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَـٰسِقِينَ (٢٤)

Katakanlah: “Jika bapak – bapak, anak – anak, saudara – saudara, istri – istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S. At – Taubah (9): 24).

Saudariku, apakah emansipasi dan feminisme itu demikian terdoktrin kuat pada diri anda saat ini? Bahkan…saya sempat berbincang dengan seorang ummat di luar kita, mengapa yang bersangkutan tidak mengizinkan istrinya bekerja di luar rumah? Beliau menjawab: “secara fisik pun pria – wanita itu sudah berbeda, apanya yang ditagih untuk kesetaraan emansipasi lagi?sangat berbeda didikan anak hasil Ibu sendiri dengan pembantu, takut miskin?rezeki itu Tuhan yang sudah mengatur tinggal kita yang berusaha.” Hmm, banyak sekali hidayah itu datang, banyak sekali ayat-NYA yang terkait dijelaskan beliau.

وَلِوَاتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَـٰوَٰتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَـٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُونَ (٧١)

“Sekiranya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya binasa langit dan bumi dan sekalian makhluk di dalamnya. Tidak, Kami telah datangkan peringatan bagi mereka, tetapi mereka telah berpaling dari peringatan (yang diberikan kepada mereka).” (Q.S. Al – Mu’minuun (23): 71).

[Insya Alloh, akan diperbanyak lagi kajian untuk Muslimah yang ingin bergerak maju pada-NYA. Insya Alloh].

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 May 2010 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s