RSS

Wanita Pertama yang Masuk Surga

18 Mar

Di suatu kesempatan, Rosululloh SAW., memerintahkan putrinya Fatimah R.A. untuk studi banding dan memperhatikan kehidupan seorang wanita bernama Muthi’ah. Sebelum memerintahkan putrinya tersebut, Rosululloh SAW. menjelaskan ihwal Muthi’ah merupakan wanita pertama yang masuk Jannah-NYA. Dengan kepenasaran yang teramat besar, Fatimah kemudian meminta izin suaminya Ali bin Abi Tholib dengan mengajak putranya Hasan untuk bersilaturahim ke Muthi’ah.

Dengan mengetuk dan mengucap salam, Fatimah dan putranya Hasan berkunjung ke rumah Muthi’ah yang sederhana. Salam pun dijawab, betapa Muthi’ah sangat bahagia mendapat kunjungan dari putri Rosululloh SAW. Ketika mengetahui Fatimah datang beserta putranya, Muthi’ah menolak kedatangan mereka karena belum mendapat izin suaminya menerima tamu pria biarpun masih anak-anak. Dengan keheranan dan menghormati keputusan tuan rumah, akhirnya Fatimah dan Hasan pulang. Keesokan harinya Fatimah datang lagi kali ini dengan membawa kedua putranya Hasan dan Husein. Kembali Muthi’ah menolak kedatangan mereka dengan menjelaskan bahwa tidak mendapatkan izin suaminya untuk menerima tamu pria ke rumahnya. Fatimah dan kedua putranya pulang dan kembali ke rumah Muthi’ah seorang diri.

Akhirnya Fatimah dipersilahkan masuk. Di tengah balai-balai rumahnya, Fatimah melihat hidangan makan siang yang telah siap tertata rapi di atas meja, beserta 3 benda lainnya. 3 benda lainnya tersebut adalah handuk, air dingin dan cambuk kecil. Dengan keheranan Fatimah menanyakan Muthi’ah kegunaan 3 benda tersebut sampai ada di atas meja beserta hidangan makan siang. Akhirnya Muthi’ah menjelaskan kegunaan 3 benda tesebut.

Handuk kecil dipakai untuk menyeka keringat suaminya sepulang bekerja, air dingin untuk menghilangkan dahaga suaminya selepas bekerja, adapun cambuk dipakai untuk memukul dirinya bila dirinya salah dalam melayani suaminya. Subhanalloh, begitulah profil wanita pertama yang masuk Jannah-NYA menurut Rosululloh SAW. Profil seorang istri yang begitu taat dan Ikhlas melayani suaminya, tanpa mengurangi bahkan menghilangkan persamaan hak sebagai wanita. Profil keras tapi lembut.

***

Sangat disayangkan pada masa ini, semangat persamaan hak wanita dengan semboyan emansipasi kebablasan kerap menimbulkan permasalahan dalam keluarga. Islam tidak melarang wanita untuk mengenyam pendidikan, karena Alloh akan menaikkan derajat orang berilmu dan berpengetahuan. Apakah janji Alloh ini akan disalahgunakan? Alloh tidak akan salah karena DIA-lah yang Maha Mengetahui bahkan tetesan air yang jatuh sekalipun, yang di dalam hati sekalipun.

Seorang wanita sudah dilebihkan Alloh pada sisi lain, tanyakanlah pada Ibu anda sekalian, apa yang sangat membahagiakan bagi beliau? Melihat kita menjadi figur yang sukses dunia akherat adalah impian mereka. Tetapi siapakah yang mendidik kita pertama kali? Kaum wanita dan Ibu khususnya adalah tiang negara dan tiang agama. Tanyakanlah ke anak-anak anda, siapakah sebenarnya figur yang mereka butuhkan? seorang dokter wanita? seorang insinyur wanita? seorang politisi wanita? Ataukah jawaban sederhana….saya butuh Ibu/ Ummi saya… tidak heran saat ini ada idiom “anak pembantu”.

Apakah hanya cukup dengan menjaga diri dari perbuatan Tabarruj dan Ikhtilat? sehingga dengan itu cukup membela diri di hadap-NYA? Bahkan dengan jelas Rosululloh SAW menjawab “Ibu-mu” sampai 3 kali baru “Ayah-mu”. Sangat disayangkan ketentuan untuk “menahan” wanita di rumah ini disalahartikan, dengan mengekang kebebasan kaum wanita. Ingatlah ukhti, fitnah terbesar bagi kaum pria sepeninggal Rosululloh SAW adalah dari kalian. Masih juga merasa aman dari fitnah ini?

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak wanita, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup – hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (Q.S. An – Nahl: 58 – 59).

Kembalilah wahai wanita kepada fitrohmu! Lihatlah bagaimana Dien dan syari’at Islam ini telah memuliakanmu! Peganglah apa yang diajarkan Nabi SAW., niscaya kebahagiaan di dua alam akan kau raih. Muliakanlah dirimu, karena sebenarnya dirimulah perhiasan terbesar suamimu, karena dirimulah perhiasan terbesar keluargamu!!

[Maaf, tapi saya tidak akan minta maaf jika menyinggung aktivis persamaan hak wanita. Ketahuilah hukum Dien-mu Ukhtana!!]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18 March 2010 in Islam, Muslimah

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s