RSS

Bersyukur

17 Mar

“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak. Dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, berarti tidak syukur kepada Alloh” (Hadits Nabi Muhammad SAW. dikutip dari Kitab Al – Hikam, Ibn Athaillah Al – Sakandari).

(Kaligrafi Lafadz “Alhamdulillah”)

Sungguh, yang sering susah dilakukan dan dipikirkan adalah mencoba untuk bersyukur maupun mensyukuri. Setidaknya itulah yang menjadi kata yang sering dan bahkan mudah untuk diucapkan dan dianjurkan, tetapi teramat sangat susah untuk dilakukan dan diaplikasikan. Di saat dimana-mana fenomena warna-warni kehidupan tengah melanda masyarakat, di tengah hiruk pikuk aktivitas keseharian demi mencapai kebutuhan “taraf hidup” yang lebih baik, untuk mencari sesuap nasi? atau segenggam berlian? atau berusaha mencari ridho-NYA?

Orangtua saya pun pernah mengajak berdiskusi tentang masalah ini. Beliau berkata, apa jadinya jika saya tidak “dititipkan” oleh-NYA di keluarga ini? Dilanjutkan dengan pertanyaan yang benar-benar membuat saya terdiam, “kalau orangtuamu berkecukupan, kamu bisa belajar sampai kuliah, bisa pintar dalam ilmu tertentu, bisa berbahasa asing, bisa ini bisa itu, itu disebut apa namanya?” jawaban beliau sangat sederhana, “itu namanya WAJAR!!”tetapi akan menjadi TIDAK WAJAR jika kamu tidak berusaha mensyukurinya dengan memanfaatkan nikmat yang ada.” Dilanjutkan pernyataan berikutnya, “yang WAJAR itu akan menjadi LUAR BIASA jika orangtuamu serba kekurangan, tetapi kamu bisa semua hal itu dengan mensyukuri dan memanfaatkan nikmat yang ada dari-NYA”.

Diskusi antara Ayah – Anak yang sangat luar biasa untuk umur saya saat itu. Terkadang saya sering termenung jika menjadi “tempat curhat” beberapa rekan-rekan ataupun adik-adik kelas, betapa keluh kesah yang saya pernah dan sering alami sampai saat ini seakan harus ditumpahkan dalam perjalanan hidup anak manusia. Yang sering membuat anak manusia lupa adalah mengecil artikan eksistensinya dalam hidup ini, bahkan…sampai merasakan menjadi orang yang paling sial sedunia.

1 hal, jangan pernah lupa akan setiap karunia, ampunan dan rizki-NYA yang seluas langit dan bumi, yang bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Kufur, kesombongan yang bisa menjadikan kita sebagai Fir’aun baru, atau merasa “tinggi” dengan ke-Aku-an, yang melupakan darimana datangnya “titipan” yang ada saat ini.

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kalian dari langit dan bumi atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab: ‘Alloh’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak mau bertaqwa (kepada-NYA).” (Q.S. Yunus: 31)

Istri, anak, jabatan, perhiasan, semua itu hanyalah titipan-NYA, semua itu bisa menjadi fitnah, semua itu bisa dicabut-NYA dengan paksa sekalipun. Sejenak luangkanlah waktu melihat kehidupan jalanan, bagaimana kaum dhuafa benar-benar menjadi survivor di tengah-tengah kita. Sampai ada program di salah satu stasiun TV swasta, yang menampilkan acara “tukar nasib” dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita, niscaya…seharipun kita tidak sanggup untuk menjalani kehidupan mereka, biarpun hanya pindah tempat tidur.

Semua titipan ini dari Azza wa Jalla. Apakah untuk sedikit meringankan beban kaum dhuafa sangatlah sulit?untuk menyucikan harta kita disaat Romadhon tiba, untuk sekedar koin recehan bagi tangan yang merindukan dan membutuhkan, apakah timbul keegoisan makhluk dengan berkata ini adalah milikku dari hasil keringatku. Kesenangan dunialah yang mungkin yang membutakan dan menipu kita akan adanya hak-hak mereka yang dititipkan lewat kita.

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika mereka mengetahui? Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh’. Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak ingat’. Katakanlah: ‘Siapa yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar’. Mereka akan menjawab: ‘Milik Alloh’. Katakanlah: ‘Maka apakah kalian tidak bertakwa’. Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya jika kalian mengetahui’. Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh’. Katakanlah: ‘(Kalau demikian) maka dari jalan mana kalian ditipu?”. (Q.S. Al – Mukminun: 84 – 89).

Setidak-tidaknya, memurnikan ketakwaan dengan Ikhlas, mencoba mensyukuri dan mengaplikasikan tindakan bersyukur, merupakan keharusan yang tidak boleh terlupa di tiap detik kehidupan. Ingat-ingatlah 5 perkara sebelum 5 perkara datang. Nikmat yang tidak boleh dilupakan adalah nikmat Iman, Islam dan kesehatan, modal terbesar dari Azza wa Jalla dalam menjalani sisa hidup kita.

[“Dan (ingatlah) ketika Robb-mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur (nikmat-KU), maka sesungguhnya azab – KU amatlah pedih’.” (Q.S. Ibrohim: 7) ]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 17 March 2010 in Islam, Muslimah

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s