RSS

Paku & Putra Gubernur

24 Feb

Alkisah pada zaman dinasti keislaman, tersebutlah seorang Gubernur yang memerintah dengan adil dan bijak, yang memimpin dengan nafas dan denyut keislaman dalam mengemban amanah yang besar tersebut. Gubernur memiliki seorang putra yang telah lewat akhil baligh, yang diharapkan mampu meneruskan amanah kepemimpinan, tapi sayang beribu sayang… benar adanya pepatah yang menyebutkan keimanan memang tidak diwariskan. Begitu pula yang terjadi dengan kisah ayah-anak ini.

Berbeda 180° dengan ayahnya, putra gubernur ini gemar sekali melakukan perbuatan-perbuatan haram tanpa malu pada-NYA di tiap hari dan tiap tindakannya. Berjudi, merampok, mabuk, membunuh, berzina dan mengambil hak-hak orang lain memang menjadi kelumrahan bagi sang anak, yang bahkan tidak mencerminkan sang ayah telah mendidik dan mengarahkan putranya dengan benar. Bukan perniagaan di jalan Alloh SWT. yang menjadi pilihan dalam mengisi tiap detik hidupnya.

Sang gubernur, yang benar-benar jengah melihat perilaku anaknya, bukan sekali-dua kali memperingatkan dan membimbing anaknya kembali ke jalan yang diridhoi-NYA. Hidayah Alloh itu memang mahal dalam kisah ini. Akhirnya sang ayah di satu waktu mengajak anaknya berbicara mengenai perilakunya, ternyata tidak mencapai kondisi yang diharapkan dalam diskusi ayah-anak tersebut. Sampai akhirnya ayahnya membiarkan anaknya bebas dalam pilihannya melakukan keharaman-keharaman dengan satu syarat….setiap sang anak berbuat maksiat, dia harus menancapkan satu buah paku ke dinding kamarnya dan melakukannya dengan jujur.

Merasa mendapat lampu hijau, sang anak mengiyakan permintaan “gentlemen agreement” tersebut dengan pikiran kebebasan yang benar-benar diidamkannya, tanpa adanya suara-suara yang mengatur laju emosi dan nafsu masa mudanya. Kebebasan yang…. terkadang…. semua anak muda manapun seusianya, merindukan hal semu dan sesaat. Mulailah hari demi hari, satu demi satu paku dia tancapkan di dinding kamarnya yang luas, yang perhitungan dan pencatatannya jauh sekali berbeda dengan yang dilakukan kedua Malaikat Alloh di kedua sisinya. Sesekali gubernur memasuki kamar anaknya dengan hati yang sangat pilu, betapa tidak…? kejujuran dalam berbuat maksiat adalah yang menghiasi kamar putranya. Dengan berlinang air mata gubernur melihat “hasil karya” anaknya mematok pasak paku ke dinding kamarnya, seraya tetap memohon kepada Alloh SWT., agar hidayah-NYA itu sampai pula ke putranya.

Ikhwanul Akhwat, ingatkah bahwa do’a orang tua bagi setiap anaknya itu Ikhlas adanya? Seperti halnya lagu masa kanak-kanak kita, “hanya memberi tak harap kembali….”. Semua permohonan hamba-NYA tidak mungkin tidak didengarkan oleh Sang Maha Mendengar. Subhanalloh, hidayah itu datang juga akhirnya. Di satu saat, sang anak kebingungan dimana lagi dia harus mematok pasak paku untuk dosa yang baru saja dilakukannya, semua sudut tembok kamarnya yang luas telah habis tertutupi paku-paku yang kuat menancap, hidayah itu datang akhirnya. Sang anak menangis dan meratap betapa banyaknya dosa yang telah dilakukannya selama ini, tangisan dan ratapan itu sampai terdengar ke telinga ayahnya. Dengan cinta seorang ayah ke anaknya, sang ayah tidak meninggalkan putranya menangis sendirian biarpun dosa-dosa anaknya telah menghiasi kamarnya. Gubernur mengajak putranya taubatan nasuha, dan mengajak untuk mengisi hari-hari perbuatan anaknya dengan amaliah dan mengembalikan hak-hak orang lain yang terdzalimi selama ini. Sang ayah berucap kembali, untuk setiap satu amaliah…cabut satu paku yang menancap di kamarnya dan itu juga harus dilakukan dengan jujur.

Dimulailah hari-hari pertaubatan anaknya dengan berbagai amaliah di jalan-NYA, gubernur pun tidak serta merta meninggalkan anaknya yang ingin kembali ke jalan yang diridhoi-NYA, dengan cinta orangtua yang luar biasa…tarbiyah bijak tak kenal letih menemani anaknya. Satu demi satu paku tersebut dicabut, tiap satu amaliah, satu paku dicabut, disertai tangisan panjang penyesalan yang mendalam. Hingga tak terasa, hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun…habislah semua paku yang menancap di dinding kamar anaknya. Kebahagiaan mendalam meliputi hati ayah-anak ini, betapa tidak do’a dan usaha selama bertahun-tahun membuahkan hasil yang Insya Alloh manis.

Tetapi di suatu hari, sang ayah mendengar kembali tangisan dan ratapan putranya dari kamarnya. Dengan harap-harap cemas sang gubernur bergegas lari ke kamar putranya, khawatir sang anak kembali jatuh ke lubang kenistaan sebagai anak manusia. Didapati putranya duduk di atas sajadah dengan berlinang air mata. Sang ayah bertanya ada apa gerangan yang membuat putranya kembali menangis dan meratap keras? Dengan isak tangisnya putranya berujar, “semua paku-paku di kamarku memang sudah habis tercabuti semuanya, tetapi bekas patok paku itu masih ada menghiasi kamarku”.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Alloh, maka Dia akan mencerdaskannya dalam agama. Dan akan Dia perlihatkan padanya cela-cela keburukan dirinya”. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah cerita ini.

[NB: Ada beberapa kisah yang sejenis dengan kisah ini dengan tema berbeda di blog lain. Teruntuk guru-guru madrasah masa kecilku di Bontang yang menceritakan kisah ini, semoga ridho Alloh SWT. menyertai kalian. Amien Allohumma Amien.]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 February 2010 in Islam, Muslimah

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s