RSS

Standard Kebenaran Al-Qur’an

18 Feb

Kebenaran hakiki (Al-Haqq), sesuatu yang sering diteriakkan orang-orang ketika kepribadiannya atau privacy-nya terusik, ketika sesuatu yang mereka jaga menjadi pertentangan biarpun dalam batin. Perlukah kita menjadi hakim? untuk memutuskan sebuah nilai kebenaran? ataukah harus sampai turun ke jalan untuk berdemo sampai ke gedung wakil rakyat terdekat? Baca, bacalah saudaraku…Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita semua, asalkan kita mau membaca dan mengkajinya. Standard Kebenaran Menurut Al Qur’an, yang diturunkan-NYA kepada Rosululloh Muhammad SAW:

1. Benar Menurut Hawa Nafsu Keinginan dan Amarahnya

Well, jika kita mengikuti keinginan hati berselimutkan nafsu, niscaya semua hal keinginan akan menjadi benar, betul kan? Padahal telah difirmankan-NYA:

أَرَءَ يْتَ مَنِ ﭐتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ، هَوَ ىٰهُ أَفَأَ نْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al – Furqon (25): 43)

2. Benar menurut Nenek Moyang

Kebenaran versi ini agak sedikit out of date, terkadang menjadi sebuah kebiasaan yang turun temurun yang akhirnya jadi budaya yang turun temurun juga.

وَإذَا قِيلَ لَهُمُ ﭐتَّبِعُواْ مَآ أَنْزَلَ ﭐللَّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآ ءَنَآ  ۗ  أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآ ؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَحْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh, “mereka menjawab:” (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami “.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Q.S. Al-Baqoroh (2): 170)

Terkadang, sampai pada sebuah pertanyaan….Islam yang mengikuti zaman? atau zaman yang mengikuti Islam? Lihatlah dalam kehidupan kita, bagaimana seringnya kita/masyarakat kita melakukan sesuatu yang telah menjadi tradisi turun temurun, terlepas benar atau tidak. Seharusnya, cobalah sedikit bertanya…apakah suatu tradisi itu harus ada?kalau memang dicontohkan dan dipraktekkan Sang Uswah Hasanah, kenapa tidak?

3. Benar Menurut Orang Kebanyakan

Apakah selamanya yang menjadi 2:1 adalah benar? musyawarah dan mufakat? Memang betul adanya jika menilik….tidak ada ruginya orang-orang yang bermusyawarah dan istikhoroh.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَن فِى ﭐْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ﭐللَّهِ  ۚ  إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ ﭐلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh).” (Q.S. Al-An’am (6) : 116).

وَمَايَتَّبِعُ أَكْثَرُ هُمْ إِلاَّ ظَّنًّا  ۚ  إِنَّ ﭐلظَّنَّ لاَ يُغْنِى مِنَ ﭐلْحَقِّ شَيْئًا  ۚ  إِنَّ ﭐللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Yunus (10): 36)

Persangkaan (prejudice), adalah buah pemikiran dari otak manusia, yang terkadang….sering tercampur menurut keinginan belaka.

4. Benar Menurut Alloh SWT.

Standard kebenaran ini adalah murni haq adanya.

ذَ ٰ لِكَ ﭐلْكِتَـٰبُ لاَرَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqoroh (2): 2)

Al-Huda (petunjuk) bagi mereka yang bertakwa. Tidak ada keraguan dalam Qur’an, tidak sedikitpun. Dalam surat Al-Fatihah, tiap sholat kita baca…”tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jalan yang lurus itu sudah ada, sudah ditunjukkan dan dicontohkanNYA, karena salah satu sifat Al-Qur’an adalah Al-Furqon (pembeda) yang menjadi petunjuk pembeda dalam segala sesuatunya. Terkadang, jika kebenaran versi ini mau kita aplikasikan, banyak pertentangan yang dimulai dari hati yang sering dikaburkan oleh hawa nafsu belaka, karena ketidaksiapan atau ketakutan ataupun keraguan. Ingatlah bahwa bukan kesusahan yang diinginkan Alloh SWT untuk makhluk-NYA.

مَآ أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ ﭐلْقُرْءَانَ لِتَشْقَٰىۤ

“Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (Q.S. Thoha (20): 2)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18 February 2010 in Islam, Muslimah

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s