RSS

Khauf, Raja’, Mahabbah

17 Feb

Ibadah, adalah jalan yang telah digariskan dalam Al-Qur’an yang telah diturunkan bagi hamba yang berharap termasuk dalam ummat Rosululloh Muhammad SAW., sebagai sarana untuk mengisi hidup dan kehidupan yang merupakan titipan-NYA. Jika berbicara tentang ibadah, kita ibaratkan ibadah itu adalah sebuah bangunan rumah yang kita miliki, tentunya tidak akan ada seorangpun yang mau rumahnya hanya rumah yang asal-asalan. Seperti halnya rumah, ibadah pun mempunyai pilar-pilar yang mengokohkan bangunan kita tersebut. Ada 3 pilar utama dalam ibadah, yaitu: Khauf, Raja’ dan Mahabbah.

Khauf, yang berarti takut. Merupakan pilar pertama, yang merupakan tingkatan pertama dalam ibadah. Ibadah yang dilakukan karena takut pada azab-NYA di alam akherat kelak. Bisa dikatakan, seorang hamba beribadah hanya karena takut akan azab-NYA yang bisa dipercepat turunnya bahkan ketika di alam dunia pun.

أُو لَـٰۤئِكَ ﭐلَّذِينَ يَدعُونَ يَبطتَغُو نَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ﭐلْوَسِيلَةَ أَ يُّهُمْ أَقْرَ بُوَيَرْ جُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَا بَهُ ۤ  ۚ  إِنَّ أَعَذَابَ رَبِّكَ كاَنَ مَحْذُورًا

“Orang‐orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Robb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat‐Nya dan takut akan azab‐Nya; sesungguhnya azab Robb-mu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (Q.S. Al‐Isro’ (17) : 57).

Raja’, yang berarti mengharap. Pilar kedua ibadah. Ada sebuah pernyataan yang menyebutkan: “Bukankah semua aktifitas ibadah seorang hamba itu hanya karena semata-mata mengharap ridho-NYA? karena mengharap ampunan, nikmat, karunia/berkah dan diselamatkan dari keburukan-keburukan yang ada?” Pernyataan ini juga benar adanya. Semua tuntunan ibadah berupa do’a, merupakan harapan-harapan seorang hamba pada Robb-NYA yang Maha Pengasih dan Penyayang, berharap do’a tersebut akan dikabulkan. Lihatlah disekitar kita, betapa tiap-tiap manusia mempunyai harapan yang berbeda-beda dalam panjat do’a kepada Robb-NYA, berharap-harap cemas akan pengabulan keinginan mereka. Kepada siapa lagikah kita meminta selain kepada-NYA? dikala musibah dan cobaan itu datang menerpa, seperti halnya rengekan anak bayi yang hanya bisa menangis disaat lapar dan hausnya. Raja’, tingkatan kedua yang merupakan pilar dalam ibadah. Harapan dan permohonan, dua kata yang saling menguatkan, yang dilakukan seorang hamba bahkan kepada utusan-utusan-NYA sekalipun. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰۤ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَ خَذْ نَٰهُمْ بِا لْبَأْ سَآءِ وَ ﭐلضَّرَّ آ ءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rosul-rosul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Alloh) dengan tunduk merendahkan diri”. (Q.S. Al-An’am (6) : 42).

Mahabbah, yang berarti cinta. Pilar ketiga ibadah, tingkatan tertinggi dalam ibadah, kenapa bisa sampai demikian? Tengoklah bagaimana seseorang hamba yang mencintai Tuannya, demi menunjukkan bukti kecintaannya, mau bahkan berani menempuh dan melakukan apapun untuk seseorang yang dicintainya. Lalu, bagaimanakah kita sebagai hamba menunjukkan cinta kita yang luar biasa pada-NYA? Manifestasi wujud kecintaan kepada Alloh SWT, apakah hanya diwujudkan dengan menaati segala perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA? Saudaraku ikhwanul akhwat, mari sejenak kita merenungkan semua ini dalam beberapa menit saja. Pernahkah kita memikirkan, kita tidak meminta sesuatu pada-NYA tetapi diberi-NYA?bahkan belum terbersit dalam keinginan kita untuk meminta sudah diberi-NYA? Subhanalloh wa bihamdihi. Sang Uswatun Hasanahsholawat dan salam baginya, bahkan lebih memilih mengambil air untuk berwudhu dan tahajud di malam-malam dingin sekalipun untuk menemui-NYA, bahkan beliau telah dijamin untuk berada di Jannah-NYA. Dalam sebuah kajian di TV, seorang ustadz berkata kepada hadirin yang ada, bahwa banyak sekali bentuk kecintaan padaNYA yang dapat diwujudkan dalam aktifitas sehari-hari. Cinta seorang suami kepada istrinya atau anaknya, cinta seseorang kepada pekerjaannya, cinta seseorang kepada hartanya ataupun barang-barangnya. Hati-hati saudaraku, Alloh SWT tidak mau dibuat cemburu akan kecintaan itu semua, hati-hatilah bahwa semua titipan itu bisa dicabut-NYA kapan saja jika telah mengalahkan kecintaan yang “semestinya”. Alloh SWT berfirman:

وَمِنَ ﭐلنَّا سِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ﭐللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ﭐللَّهِ  ۖ  وَ ﭐلَّذِينَ ءَ امَنُوۤ اْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh…” (Q.S. Al-Baqoroh (2): 165)

Ijinkan saya mengutip dan mengubah redaksional kata-kata Presiden JFK, “Jangan pernah engkau tanyakan apa yang Alloh SWT berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang sudah kau berikan kepada Alloh SWT dan Islam”. Mengapa bisa demikian? karena Alloh sangat sayang kita, Alloh tidak butuh itu semua, kitalah yang butuh Alloh. Kajian Ibadah ini, sangat dipengaruhi ma’rifat (pengenalan) yang benar dari kita kepadaNYA. Jangan pernah berhenti untuk mengkaji dari semua hal yang terjadi dan ditunjukkan Alloh SWT kepada kita.

Allohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 17 February 2010 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s