RSS

Mengenal Bekam dan Ruqyah Syar’iah

27 Feb

[Kiriman dari Ustadz Mamat Rohmat, praktisi Bekam dan Ruqyah Profesional. Insya Alloh sesuai dengan sunnah dan syareat. Syukron buat kirimannya, Ustadz.]

“Setiap penyakit ada obatnya…” (HR. Muslim)

“Jika aku sakit, Dia-lah (Alloh) yang menyembuhkan aku.” (Q.S. Asy-Syu’araa (26): 80 )

Bekam/ Al – Hijamah

Di zaman Rosululloh SAW, bekam sangat di anjurkan dan sudah menjadi kebiasaan para sahabat – sahabatnya, selain memerintahkan umatnya untuk berobat dengan bekam, beliau juga memberikan petunjuk tentang titik –titik yang sangat baik untuk di bekam. Walaupun Nabi Muhammad bukanlah seorang tabib, namun semua apa yang dilakukan  dan diperintahkannya berdasarkan petunjuk  Alloh SWT  Sebagaimana firman-Nya “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al – Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu  yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S. An – Najm (53): 3 – 4)


Bagi umat Islam pengobatan ini telah menjadi sunnah Rosululloh SAW. Sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadist  di bawah ini :

Sabda Rosululloh SAW:

Sebaik- baik pengobatan yang kalian lakukan adalah Al – Hijamah (bekam).” (HR. Ahmad)

“Kesembuhan itu ada pada 3 (tiga) hal, dengan meminum madu, sayatan hijamah (bekam), dan kay (besi panas). Tetapi aku melarang umatku menggunakan kay.” (HR. Muslim)

“Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat jatuh pada penyakit, dengan izin Alloh penyakit itu pasti sembuh.”

(HR. Muslim)

“Pada malam aku di Isro’kan, aku tidak melewati sekumpulan Malaikat melainkan mereka berkata: Wahai Muhammad, suruhlah umatmu melakukan bekam.” (HR. Ibnu Maajah dan At Tirmidzi)

Bekam adalah istilah dalam bahasa Indonesia  yang berarti “membuang darah”. Dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah: “Hijamah”. Dalam bahasa Inggris di kenal dengan istilah “Cupping.” Secara populer bekam didefinisikan sebagai metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Sedangkan yang dimaksud darah kotor adalah darah yang mengandung racun (toxin) atau darah statis yang menyumbat peredaran darah, mengakibatkan sistem peredaran darah tidak dapat berjalan dengan lancar, sehingga akan mengganggu distribusi nutrisi dan imunitas seseorang, baik secara fisik ataupun mental.

Penumpukan darah kotor banyak terjadi di bawah kulit. Jika darah kotor tersebut tidak segera dikeluarkan, maka tubuh akan melemah dan mudah diserang penyakit. Dan untuk mengobati penyakitnya, tidak ada cara yang lebih efektif kecuali dengan mengeluarkan darah kotor tersebut. Sehingga dapat di katakan bahwa bekam adalah sebuah teknik detoksifikasi pengeluaran (racun dari dalam tubuh) yang efektif mengobati berbagai macam penyakit dengan menghilangkan sumber penyakitnya dan tidak memiliki efek samping yang buruk.

RUQYAH  SYAR’IYYAH

Ruqyah secara bahasa adalah Do’a penjagaan. Secara istilah berarti sebuah terapi syar’i dengan cara pembacaan ayat – ayat suci Al – Qur’an dan do’a – do’a perlindungan yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW yang dilakukan seorang muslim, baik dengan tujuan penjagaan diri sendiri atau orang lain dari pengaruh jahat pandangan mata (‘ain) manusia dan jin, kerasukan syaitan, pengaruh sihir, rasa was-was yang sangat berlebihan dan sulit dikendalikan  dan berbagai penyakit fisik lainya dengan tujuan untuk pengobatan.

Landasan Syar’i Ruqyah Syar’iyyah

Alloh SWT berfirman :

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang –orang  yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang  Zalim selain kerugian.” (Q.S. Al- Isro (17): 82)

Rosululloh SAW bersabda :

“Bacakanlah ruqyah – ruqyah kalian kepadaku, tidak apa – apa dengan ruqyah yang tidak mengandung kesyirikan didalamnya.” (HR. Muslim)

Pendapat ulama tentang Ruqyah

Imam Nawawi berkata :

“Ruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan dengan do’a-do’a yang telah diajarkan oleh Rosululloh SAW adalah sesuatu hal yang tidak terlarang. Bahkan itu adalah perbuatan yang disunnahkan. Telah dikabarkan para ulama bahwa mereka telah sepakat (ijma’) bahwa ruqyah dibolehkan apabila bacaannya terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an atau do’a-do’a yang diajarkan oleh Rosululloh SAW.”

Termasuk opimi masyarakat yang harus diluruskan adalah pemahaman mereka tentang ruqyah. Banyak masyarakat Islam di negeri kita  ini khususnya, ketika mendengar atau mengetahui bahwa ada praktik pengobatan dengan metode ruqyah, mereka langsung menyimpulkan bahwa pengobatan tersebut syar’i atau Islami. Padahal tidak semua ruqyah itu Islami, begitu juga tidak semua praktik pengobatan yang berlabel ruqyah itu dikategorikan sebagai praktik pengobatan yang Islamiyah. Karena ruqyah sendiri ada dua macam. Ada ruqyah syar’iyyah (ruqyah yang sesuai dengan syari’at  Islam) dan ada juga ruqyah syirkiyyah (ruqyah yang mengandung syirik dan diharamkan oleh Islam).

Karena opini dan pemahaman yang salah, akhirnya banyak muslim yang mengaku telah menjadi korban praktik pengobatan yang berlabel ruqyah. Ada yang dirugikan secara materi. Ada yang dirugikan secara kehormatan, dan ada juga yang dirugikan dari segi ideologi atau akidah.

Makanya kita harus berhati-hati dan waspada terhadap praktik – praktik pengobatan yang menggunakan nama ruqyah sebagai kedok dan merk dagangannya. Padahal praktiknya mereka masih menggunakan praktik perdukunan, praktik yang sarat  dengan kesyirikan dan menggunakan bantuan syetan.

Kriteria Ruqyah Syar’iyyah

Ruqyah secara bahasa artinya bacaan, kalau ada oraang yang mengaku bahwa pengobatannya adalah ruqyah tapi dalam praktiknya dia tidak membaca sesuatu, berarti orang tersebut tidak paham akan makna ruqyah itu sendiri. Karena bacaan adalah termasuk unsur pokok dalam melakukan praktik ruqyah sesuai definisinya. Bukan ruqyah kalau dalam praktiknya dia tidak membaca sesuatu, walaupun dalam kenyataannya jin yang ada dalam tubuh seseorang itu keluar atau penyakit yang dideritanya itu membaik.

Bacaan yang dibaca dalam praktik ruqyah yang syar’iyyah bukan dengan hati  atau tidak bersuara dan tak terdengar. Seorang  peruqyah lazimnya membaca bacaan ruqyah yang ada denan bersuara, meskipun volumenya rendah (pelan), yang penting terdengar. Terdengar oleh jin pengganggu yang ada di tubuh pasien, dan terdengar oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Karena Rosululloh SAW saat meruqyah juga bersuara, sehingga isteri, keluarga atau sahabat – sahabatnya mendengar bacaan materi beliau dan bisa mencontohkan bacaannya, sehingga mereka mengetahui lalu meriwayatkannya kepada kita.

Wallohu A’lam bish Showwab.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on 27 February 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s